Krieeett
BRAKKKK
Hosh hosh hosh hosh
'HAH'
Ophelia membuka kedua matanya dalam sekali percobaan dengan nafas tersengal, dadanya bergerak naik dan turun dengan tergesa, netranya menatap liar langit langit kamar sekelilingnya dengan panik. Perempuan itu terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada dipan.
'Sial sekali...' Gumamnya pelan mengingat mimpi buruk yang membuatnya terbangun dengan sensasi rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya
Jam antik berangka Romawi yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur, menunjukan pukul 1 malam. Ophelia selalu terbangun di jam ini saat mimpi buruk menyerang tidurnya. Sepertinya tawaran yang sore tadi dibicarakan olehnya dengan Calvin serta Alvin, cukup membuat dirinya merasa cemas hingga membuat dirinya bermimpi buruk setelah sekian lama.
Mimpi... dimana dirinya melihat kematian Ibu nya.
Ah, bukan, hal ini tidak bisa disebut mimpi. Apa yang dirinya lihat di alam tidurnya adalah potongan ingatan masa kecilnya saat dirinyalah yang menjadi orang pertama yang menemukan tubuh Ibunya tergantung di langit langit kamar.
Perempuan itu menutup kedua matanya sekejap sebelum beranjak dari tempat tidur. Dia harus meminum segelas air untuk menenangkan dirinya.
Kedua kakinya melangkah keluar dari kamar tidurnya yang berukuran luas itu menuju ke dapur, lampu lampu sudah dimatikan diseluruh penjuru rumah, menyisakan keheningan yang hanya diisi oleh suara detik jam dari ruang tamu yang terdengar nyaring.
Dan suara ketikan keyboard.
Ophelia mengerutkan dahinya sesaat setelah meminum habis air di dalam gelas. Di rumah ini seharusnya tidak ada orang yang senang bekerja sampai tengah malam selain dirinya. Perempuan itu menyimpan kembali gelas nya ke atas meja dan mencari sumber bunyi keyboard yang terdengar menyaingi suara jarum jam itu.
Di ruang tamu, seorang pria yang benar benar tidak ingin Ophelia temui, sedang duduk disana. Pria itu mendongkak dan membalas tatapannya jauh lebih cepat sebelum Ophelia bisa mengalihkan pandangannya.
Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi tanpa ada orang lain diantara mereka.
'Bermimpi buruk?'
Suara serak yang terdengar tenang itu membuat Ophelia menipiskan bibirnya. Dia meremas gaun tidur yang dipakainya sebelum kemudian berbalik pergi begitu saja, menjauh tanpa mengatakan apapun.
Dia tidak ingin menjawab Mikhail. Ophelia lupa jika pria yang sudah menjadi anggota keluarganya dengan menikahi Lily itu kini tinggal di rumahnya. Dan alasan pria bertanya seperti itu, pasti karena sebelumnya Ophelia selalu menghubunginya setiap ingatan itu masuk ke dalam kepalanya.
Sekarang dirinya tidak boleh melakukan itu, tidak ada bagusnya terlihat lemah di depan pria yang mengkhianati nya itu.
***
'Dalam waktu dekat ini, orang yang akan kau layani bukan lagi diriku.'
Samantha yang mendengar ucapan sang Nona, mendongkak dan mengerutkan dahinya kebingungan, 'Lalu siapa lagi orang yang harus aku layani?'
'Entahlah. Kemungkinan besar kau akan diturunkan dari jabatanmu yang sekarang. Skenario terburuknya, kau mungkin di pecat.' Jawab Ophelia sambil memainkan pena bertuliskan namanya. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya, 'Jika skenario terburuk terjadi, cukup ikut saja denganku. Aku masih bisa membayarmu untuk beberapa bulan.'
'Bagaimana?' tanya Ophelia sambil menatap Samantha yang terlihat kebingungan itu. Ophelia juga bisa melihat banyaknya pertanyaan yang bersarang di kepala orang yang sudah menjadi tangan kanan nya selama bertahun tahun itu.
Namun Samantha tidak menanyakan apapun. Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh, membuat Ophelia tersenyum puas.
'Aku tidak akan mengecewakan mu, Sam.' Ucap Ophelia penuh arti
Dirinya tidak tahu kapan Calvin dan Alvin akan mulai mengambil langkah untuk membantunya, jadi setidaknya Ophelia ingin Samantha berjaga jaga seandainya nanti perempuan itu terkena dampak dari apa yang dilakukannya bersama kedua pria itu.
Setelah melihat Samantha membereskan dokumen dokumen yang sebelumnya mereka periksa, Ophelia beranjak dari kursi kekuasaannya. Perempuan itu menatap jam yang melingkar di tangannya sebelum kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Sudah waktunya dia pergi beristirahat makan siang.
Kedua matanya sudah berkunang kunang karena sejak pagi dirinya bergelut dengan berbagai dokumen yang terabaikan selama Ophelia berada di luar negeri.
Mereka berjalan menyusuri kubikel kubikel yang beberapa diantaranya mulai kosong, suara suara tawa manja yang berasal dari salah satu ruangan di bagian kanan lantai ini, membuat Ophelia mengalihkan pandangannya ke arah sana. Suara decakan pelan keluar dari mulut Ophelia saat melihat jika Lily lah sumber suara itu.
Perempuan itu sedang memeluk lengan Mikhail yang entah kenapa datang ke tempat ini dan tertawa manja.
'Setelah menikah secara tiba tiba dengan tunangan mu, sekarang dia bertingkah seperti suami istri yang paling bahagia. Apa dia tidak tahu jika semua orang di perusahaan ini mengenali Mikhail sebagai tunanganmu?' bisik Samantha yang membuat Ophelia tersenyum miring
'Biarkan saja. Seumur hidupnya hanya ada pria pria yang asal usulnya tidak jelas seperti dirinya. Dekat dengan seseorang seperti Mikhail mungkin terasa seperti Wahyu dari tuhan untuknya.' Balas Ophelia yang membuat Samantha tertawa
Keduanya berjalan menuju lift dan turun ke lantai bawah, sesekali lift berhenti untuk mengangkut orang orang dari lantai lain yang ingin beristirahat juga dan sesekali juga Ophelia tersenyum kecil membalas sapaan dari para pekerjanya.
Lift berdenting dan berhenti di lantai 1. Ophelia berjalan keluar dari benda kotak itu bersama dengan Samantha.
'Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?' tanya Samantha sambil mengeluarkan kunci mobil dari dalam blazernya
'Aku ingin sesuatu dari cafe yang ada di seberang jalan. Tapi sepertinya kita terlambat, Sam. Disana penuh dan sesak.' Jawab Ophelia sambil menunjuk cafe yang terlihat dari perusahaannya
'Ah, birthday cake. Waktu ulang tahunmu, kita belum sempat membeli apa pun. Duduklah disana, aku akan membelinya dan kembali.' Ujar Samantha yang diangguki oleh Ophelia
Melihat kepergian Samantha, Ophelia segera duduk di salah satu meja yang berada di lantai satu. Meja ini biasanya dipakai untuk para tamu yang datang, tapi karena kelihatannya mereka tidak memiliki banyak tamu di hari itu, masih ada beberapa meja yang kosong tanpa penghuni. Perempuan itu mengeluarkan ponselnya, meninjau jadwalnya untuk beberapa hari kedepan dan menunggu.
Menunggu chat dari Alvin dan Calvin yang tidak kunjung menghubunginya setelah pertemuan mereka kemarin.
'Bahkan tidak ada ucapan selamat pagi. Ku kira Alvin akan melakukan itu mengingat sikapnya yang seperti anak anjing yang akan mengibaskan ekornya saat melihatku.' Gumam Ophelia
Setelah menunggu beberapa saat, Ophelia menegakkan tubuhnya saat melihat Samantha yang berlari dari seberang jalan dengan bingkisan yang cukup besar di tangannya. Kehadirannya bertepatan dengan seorang pria yang sepertinya berasal dari sebuah toko bunga.
Pria itu terlihat berbicara dengan Samantha sebelum kemudian Samantha tersenyum lebar dan kembali menatap Ophelia.
Samantha berlari, menyimpan kue yang baru saja dibelinya ke atas meja dan menarik Ophelia yang kebingungan ke hadapan pria tadi.
'Ini Ophelia Aldrich. Kau mencarinya kan?'
'Mencariku?' tanya Ophelia bingung. Tanda tanya muncul di kepalanya saat pria itu menyerahkan buket bunga berukuran cukup besar yang sejak tadi dipegangnya kepada Ophelia.
'Tolong tanda tangan disini sebagai tanda bukti.' Ujar pria itu yang langsung dilakukan oleh Ophelia
'Dari siapa ini? Calvin? Alvin?' Tanya Samantha terkejut
'Entahlah.' Jawab Ophelia tenang. Dia mencium aroma bunga yang lembut sebelum mengerutkan dahinya, 'tapi bukankah ini terlalu... putih? Bukannya biasanya seseorang akan memberikan bunga berwarna merah sebagai simbol cinta?'
Sesaat setelah Ophelia menanyakan hal itu, suara rem yang berdecit nyaring dengan suara benda berat yang bergeser, menulikan telinga orang orang yang mendengarnya untuk sesaat.
Belum sempat Ophelia mencerna apa yang terjadi, sedan hitam yang melaju kencang menabrak truk konstruksi pengangkut pipa baja. Muatannya bergeser dan menerjang bagian depan sedan. Kaca pecah, suara benturan menenggelamkan percakapan, lalu orang-orang di sekitar mulai menjerit. Pengemudi tidak lagi bergerak di balik bagian mobil yang hancur.
Ophelia terhuyung saat tubuhnya ditarik dengan cepat oleh Samantha setelah menyadari jika mereka berada terlalu dekat dengan lokasi kecelakaan. Kedua matanya melebar saat menyadari jika mobil yang menabrak truk tersebut adalah mobil Ayahnya.
Dan Ayahnya tidak memakai supir.
Nafas Ophelia terasa sesak seketika. Dia menunduk dan mengatur nafasnya yang tersengal karena terkejut.
Kepanikan terjadi dimana mana, suara orang orang yang berteriak menyerukan untuk memanggil ambulans, polisi, serta larangan untuk mengerumuni kecelakaan, membuat telinga Ophelia berdengung nyaring.
Ditengah kepanikan, kedua netranya melihat sesuatu yang terselip diantara bunga yang baru saja di dapatnya. Dengan tangan bergetar hebat, Ophelia meraih surat diantara mawar putih yang kini sebagian warna nya menjadi merah karena cipratan darah.
Surprise. Kau menyukainya?