Ophelia memeluk erat sebuket bunga mawar putih yang sebagian kelopaknya berubah menjadi merah karena darah, dia duduk tanpa suara dilorong panjang yang hanya dihiasi oleh bangku bangku panjang tanpa penghuni. Bangunan beruansa putih bersih yang biasanya diketahui Ophelia sebagai tempat yang ramai, kini terlihat tenang tanpa ada orang yang berlalu lalang.
Wajar saja, saat ini dirinya berada di dekat ruangan yang tidak pernah diharapkan orang untuk berada disana.
Sebuah ruangan tertutup rapat tepat di hadapan Ophelia, beberapa orang masuk ke dalamnya beberapa waktu yang lalu dan belum ada yang keluar dari sana sejak saat itu. Hanya suara tangisan histeris Lily yang terdengar memenuhi lorong panjang ini.
'Bisakah kau diam? Suaramu membuatku pusing! Jika kau tidak bisa menenangkan diri, pergilah kemana saja dan jangan pernah menginjakan kakimu di sini!' desis Ophelia yang pada akhirnya muak dengan keberadaan Lily
'Kak, kau gila?! Kau kehilangan akal sehatmu?! Bagaimana bisa aku tenang disituasi seperti ini?!' protes Lily sambil berderai air mata
Ophelia mengerutkan dahinya, 'Jaga mulutmu. Kau tidak dalam posisi bisa berbicara seenaknya kepadaku.'
'Hiks... Kak Mikhail, bagaimana ini?' rengek Lily pada seorang pria yang berdiri di sampingnya, mencari pembelaan
Namun Mikhail tidak mengatakan apapun. Pria itu hanya menepuk pelan punggung Lily, dan perempuan itu kembali memperdengarkan tangisan histerisnya.
Ophelia dalam diam meremat kertas chellophane yang membungkus buket bunganya, dia juga sama terkejutnya dengan perempuan itu. Apalagi berbeda dengan Lily, dia berada di tempat yang paling dekat dengan lokasi kecelakaan itu terjadi.
Walau sebelumnya tubuhnya sempat gemetar hebat membayangkan posisi orang yang ada di balik kemudi, tapi sekarang sejujurnya Ophelia bahkan tidak merasakan apapun.
'Apa ini normal? Apa aku gila?' pikir Ophelia
Perempuan itu termenung untuk sesaat sebelum kemudian mengerjapkan kedua matanya pelan.
Seharusnya dia tidak perlu mempertanyakan kewarasan seseorang yang pernah melihat kematian tragis ibunya sendiri.
Suara sebuah pintu yang terbuka secara perlahan, membuat Ophelia mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dia menatap sekelompok dokter dan para asistennya yang berjalan keluar dari ruang autopsi. Salah seorang diantara mereka terlihat menuliskan sesuatu sebuah kertas sebelum kemudian mengangguk, sepertinya menuliskan kesimpulan dari autopsi yang baru saja berjalan.
'Nona Aldrich?'
'AKU! Dokter, apa yang terjadi pada Ayah?! Bagaimana hal ini bisa terjadi kepadanya?'
Belum sempat Ophelia menjawab, Lily yang sejak tadi menangis tiba tiba melesak mendekat sang Dokter yang langsung memundurkan langkahnya karena jarak yang terlalu dekat. Tapi sedetik kemudian, Lily terlihat menahan muntahannya.
'Tolong menjauh, Nona. Pakaian kami penuh darah.' Tegur salah seorang perawat pada Lily yang kembali beringsut di samping Mikhail
Ophelia mendengus sebelum kemudian beranjak dari posisi duduknya. Dia mendongkak menatap Mikhail, 'Bawa dia pergi. Sebelum aku membuat dia berakhir di ruangan yang sama dengan Ayah.'
'Ayo pergi, Lily.' Ajak Mikhail. Suaranya terdengar untuk yang pertama kalinya sejak kedatangan mereka ke tempat ini.
'Ta—tapi ayah—'
'Per.gi.' usir Ophelia sambil menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dia menatap Lily yang di tarik paksa oleh Mikhail menjauh
'Maaf sebelumnya, Dokter. Saya Ophelia Vivienne Aldrich. Anak dari korban yang meninggal dunia.'
***
'Hai, Nona. Kau cantik sekali dengan dress hitam itu.'
Ophelia menghentikan langkahnya dibawah tangga, dia menatap kedatangan Calvin dan Alvin ke rumahnya yang hari ini menjadi rumah duka. Perempuan itu menggelengkan kepalanya, 'Berhentilah bertingkah gila. Tidak seharusnya aku terlihat cantik disaat seperti ini.'
Namun Calvin dan Alvin tidak mengindahkannya, kedua pria itu merapikan jas hitam mereka dan berjalan mengekori Ophelia menuju peti yang tertutup rapat. Ketiganya berdiri di deretan paling belakang, berbaur diantara orang orang yang berkabung sambil menatap Ibu Tiri Ophelia yang menangis histeris sambil memeluk peti berwarna putih itu.
'Mana Mikhail?' Tanya Calvin
Ophelia melirik sudut ruangan dan mengendikan dagunya, 'Sejak tadi Lily menempel kepadanya seperti lintah.'
'Wah, dia benar benar seperti ibunya.' Bisik Alvin yang langsung diangguki oleh Ophelia dengan senang hati
'Sejak tadi Lily berjalan kesana kemari, menceritakan kronologi kecelakaan entah untuk yang keberapa kalinya. Padahal dia tidak ada disana saat peristiwa itu terjadi.' Ujar Ophelia. Ingatannya melayang pada beberapa waktu yang lalu saat polisi datang untuk mengembalikan mobil Ayahnya setelah dilakukan pemeriksaan untuk mengecek apakah ada kerusakan, Lily dengan wajah berderai air matanya menghampiri para polisi itu dan meminta mereka untuk menangkap supir truk konstruksi dengan tuduhan melalaikan keselamatan pengendara lain.
Bodohnya.
Perempuan itu tidak tahu jika justru Ayah yang selalu dibanggakan itulah yang salah. Ophelia tidak bisa melupakan bagaimana tali pengaman pipa pipa baja itu terlepas karena tabrakan Ayahnya.
'Apa yang kau pikirkan?' bisik Calvin
Suara tenang pria itu membuat Ophelia tersentak dari lamunannya sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pria itu, membuat kedua netra mereka bertemu satu sama lain.
Ophelia mengamati wajah tenang Calvin, kedua matanya terlihat tenang seperti biasa. Sebenarnya, sejak kemarin, ada sesuatu yang sangat ingin Ophelia tanyakan. Tapi dirinya tidak tahu apakah dia boleh menanyakan hal ini pada Calvin atau tidak.
Pandangannya kemudian turun pada bibir Calvin. Bibirnya yang sedikit tebal itu terlihat mengulas senyuman yang tipis. Amat sangat tipis.
'Huh?' gumam Ophelia pelan, bertanya tanya apakah yang dilihatnya sekarang bukanlah halusinasi. Tapi belum sempat dirinya mengutarakan apa yang ada di dalam kepalanya, Calvin sudah terlebih dahulu meraih dagunya dan menggerakannya dengan lembut untuk kembali menghadap ke depan.
Dahi Ophelia berkerut samar saat dirinya melihat Mikhail meninggalkan Lily dan berjalan ke arahnya dengan beberapa orang disekitarnya.
'Ophe,' panggil Mikhail
'Whoahh, menjauhlah bro. Kau tidak lihat jika istrimu sekarang tengah melotot melihat Ophelia?' seru Alvin membuat Mikhail berhenti beberapa langkah di depan Ophelia
'Apa kata kepolisian? Tadi Lily dan Nyonya Monica diusir karena terlalu histeris.' Tanya Mikhail
'Tidak ada indikasi kerusakan. Rem berfungsi dengan baik, tapi tidak ada jejak pengereman di jalan sebelum tabrakan itu terjadi.' Jawab Ophelia
'Kalau begitu apa Tuan Derek sengaja menabrakan dirinya? Kenapa dia seperti itu? Saya dengar anda menjadi saksi tabrakan itu karena anda berada tepat di dekat lokasi kejadian.'
Ophelia mengerutkan dahinya. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban macam apa. Jika dirinya meng-iyakan pertanyaan itu, nantinya pertanyaan tentang alasan kenapa Ayahnya melakukan hal itu akan diutarakan orang orang itu kepada dirinya.
Sedangkan dirinya saja sama sekali tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi.
'Tuan, kenapa tidak kau tanyakan saja hal itu kepada Tuan Derek sendiri?' Tanya Alvin
'Astaga, Tuan Aleksei... bagaimana bisa saya menanyakan hal itu pada seseorang yang sudah meninggal?' balas orang tadi yang sepertinya merasa aneh dengan jawaban Alvin
'Nona ini tidak ada bedanya dengan Nona yang sedang histeris dan berteriak-teriak disana. Dia juga sama terkejut dan terguncangnya dengan peristiwa ini. Apalagi seperti ucapan anda, Nona Aldrich menjadi saksi langsung bagaimana kecelakaan itu terjadi. Setelah terguncang dengan peristiwa itu, sekarang anda memberondongnya dengan pertanyaan.' Tegur Calvin. Dia merangkul Ophelia dan menariknya mendekat, 'tolong tinggalkan Nona Aldrich sendiri. Terlihat tenang, bukan berarti dia tidak bersedih. Dia hanya tidak bisa mengungkapkan kesedihannya.' Lanjutnya
Ophelia mengatupkan bibirnya, dia bisa melihat tatapan orang itu berubah menjadi iba kepadanya.
'Maafkan kami, kami tidak memikirkan hal itu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Nona. Bagaimana pun anda harus memimpin perusahaan setelah Tuan Derek tiada.' Ujar orang orang itu sebelum kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga
Mikhail yang juga berada diantara orang orang itu, menatap Calvin dan Alvin secara bergantian sebelum kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
'Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Aku tidak bersedih sama sekali.' Gumam Ophelia pelan
'Aku tahu. Kau harus menarik simpati, Ophelia. Dengan begitu, orang orang itu akan berada di sisi mu.' Balas Calvin tak kalah pelannya. Pria itu terdiam sejenak sebelum kemudian tersenyum dan berbisik di telinga Ophelia, 'Kau suka hadiah dariku? Sedikit terlambat, andai saja kau mengatakannya sedikit lebih awal. Hal ini mungkin akan terjadi di hari pernikahan Mikhail dan Lily.'