'Apa...' Gumam Ophelia terkejut. Dia menatap Calvin dengan kedua matanya yang membelalak, 'Calvin, apa kau—'
'Shhh,'
Ophelia mengatupkan bibirnya, dia mengerjapkan matanya saat menyadari jika ketenangan Calvin tidak berkurang walau pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang lebih seperti pengakuan dosa. Perempuan itu kembali mengalihkan pandangannya ke depan, mengamati orang orang yang berkunjung ke rumahnya untuk turut berduka.
Suasana masih sama seperti beberapa detik yang lalu. Tak ada orang yang benar benar menaruh atensi pada mereka bertiga, dan hanya berbisik satu sama lain dengan suara pelan. Lily dan Monica yang sejak tadi berada di dekat peti mati pun kini tidak terlihat dimanapun.
Dan karena tidak ada yang memperhatikan dirinya, Ophelia kembali larut dalam pemikirannya. Perempuan itu menghubungkan apa yang terjadi pada Ayahnya dengan ucapan Calvin.
'Seandainya... seandainya Calvin benar benar yang melakukannya, bagaimana cara dia melakukan hal ini?' pikir Ophelia
Ophelia ingat dengan jelas semua percakapan nya dengan kepolisian maupun dengan dokter. Pihak kepolisian mengatakan jika tidak ada yang salah dengan mobil sedan itu, berbeda dengan dugaan Lily maupun Monica yang mengira adanya sabotase. Dan dengan Dokter pun... Ophelia yakin Dokter mengatakan hanya menemukan kadar alkohol dalam darah Ayahnya.
Ophelia sulit menganggap alkohol sebagai penyebabnya karena ia mengenal ayahnya sebagai orang yang biasa minum banyak. Ia belum mengetahui seberapa jauh kondisi Derek memengaruhi cara mengemudinya hari itu; rasa tidak percaya itu baru anggapannya sendiri.
Tuk
Ophelia mengerutkan dahinya saat merasakan ketukan pelan oleh seseorang disana.
'Jangan terlalu banyak berfikir.' Ucap Calvin
'Benar. Apa yang harus kau pikirkan disaat ada seseorang seperti aku dan Calvin di sisimu?' timpal Alvin sambil tersenyum lebar
'Entahlah. Aku... hanya sedikit penasaran.' Gumam Ophelia tenang. Dia kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum tipis saat beradu tatap dengan salah satu pelayat yang menatapnya dengan tatapan kasihan.
'Simpan rasa penasaran itu untuk nanti. Untuk sekarang, berakting lah lebih baik dari Lily. Di masa depan, aku akan menyiapkan panggung pertunjukan yang megah untukmu, Ophelia.'
***
Suara helaan nafas panjang keluar dari seorang perempuan dengan dress hitam selututnya, dia merapikan sarung tangan berwarna senada dengan dress yang dipakainya sebelum kemudian memusatkan perhatiannya pada peti mati yang terletak beberapa meter di hadapannya.
Setelah sejak tadi dirinya hanya memperhatikan dari kejauhan, kini tiba juga kesempatannya untuk berada dalam jarak sedekat ini dengan Ayahnya. Yang tentu saja, sudah tiada.
Para tamu yang semula memenuhi ruang tamunya, kini mulai berkurang satu per satu. Membubarkan diri setelah hampir sepanjang hari berada di kediaman Aldrich untuk menyampaikan bela sungkawa nya. Lily dan Monica bahkan tidak terlihat sama sekali sejak beberapa waktu yang lalu, keduanya hanya menyisakan Mikhail yang menggantikan keduanya mengucapkan selamat tinggal pada para tamu.
Ophelia memandang potret sang Ayah dari tempatnya duduk. Dia memandangnya dengan lekat, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya begitu saja.
'Padahal aku berharap setidaknya ada satu kenangan bagus yang terlintas dalam otakku saat melihat wajah yang tidak akan ku lihat lagi dalam kondisi bernyawa.' Pikir Ophelia
Namun jangankan kenangan indah, air mata kesedihan pun enggan keluar dari matanya.
'Bagaimana perasaanmu, Derek? Apa kau senang karena orang orang tampaknya bersedih atas kematianmu?' gumam Ophelia pelan. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi yang diduduki nya, ingatannya melayang pada beberapa tahun yang lalu saat kematian Ibunya.
Orang orang yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa memang cukup banyak. Tapi Ophelia juga tidak akan bisa melupakan bagaimana orang orang itu berbisik di belakangnya, menyebarkan informasi tentang kematian Ibunya yang dinilai cukup memalukan.
Tidak ada yang curiga dengan kemungkinan jika Ibunya dibunuh oleh Ayahnya demi bisa menikahi Monica dan membawa perempuan itu serta anaknya masuk ke rumah ini.
'Aku membencimu. Seharusnya orang yang hina sepertimu tidak pantas untuk diberikan doa atau penghormatan terakhir. Tapi apa boleh buat? Semua orang... mengenalmu sebagai orang yang baik.' Ucap Ophelia pelan. Dia menipiskan bibirnya sebelum kemudian melanjutkan, 'jadi beristirahat dengan tenang jika kau bisa. Dan jika reinkarnasi benar benar ada, tolong jangan pernah berkeliaran dalam kehidupanku ataupun keturunanku nanti. Karena sepertinya aku akan langsung mengenalimu sekalipun kau ada dalam wujud yang berbeda.'
Sesaat setelah mengucapkan hal itu, Ophelia beranjak dari posisi duduknya. Dia berbalik dan menemukan Mikhail berada di posisi yang cukup jauh darinya, menatap lurus kearahnya. Tapi Ophelia memilih untuk tidak peduli. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan beranjak naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya.
Tubuhnya sudah lelah karena seharian ini terus menerus berdiri dan menyambut orang orang yang datang ke rumahnya.
Namun sepertinya Mikhail tidak membiarkannya melakukan hal itu.
Pria itu tiba tiba berdiri di tengah tengah anak tangga pertama, menunduk menatap ke arah nya.
'Kenapa Alvin dan Calvin berkeliaran di sekitarmu?' tanya Mikhail
'Entahlah.' Jawab Ophelia singkat. Dia bergeser dan melangkah melewati pria itu, decakan pelan keluar dari mulutnya saat Mikhail menahan lengannya. Perempuan itu menoleh, menatap Mikhail yang tetap teguh di posisinya bahkan tanpa repot repot menatap ke arahnya.
'Ophelia,'
'Aku tidak tahu! Mungkin mereka hanya mengasihaniku yang ditinggalkan oleh orang yang aku percaya!' seru Ophelia kesal. Dia menyentak lengannya dan berjalan cepat menaiki tangga. Langkahnya berubah tergesa saat dirinya tiba di lantai dua, dengan cepat perempuan itu melangkah masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dibelakang tubuhnya.
Ophelia mengatur nafasnya untuk sejenak sebelum kemudian kembali menegakkan tubuhnya, dia menatap dua sosok yang sejak tadi berada di dalam kamarnya.
'Aku tidak menyangka kau masih menyimpannya. Ide yang bagus memberimu mawar putih, kan? Dengan begitu, kelopak yang dihiasi warna merah jauh lebih menonjol.' Ujar Calvin sambil menatap bunga yang berada di dalam vas
'Duduklah. Kau pasti lelah. Bagaimana perasaanmu? Kau senang?' tanya Alvin
Ophelia menelan cairan di dalam mulutnya sebelum kemudian menghampiri kedua saudara yang sedang duduk di sofa. Perempuan itu terhuyung saat Calvin tiba tiba meraih lengannya dan menariknya untuk duduk di pangkuan pria itu.
Ophelia bisa merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, dia bisa merasakan paha dan dada bidang pria itu dibawah tangannya. Dia mendongkak menatap Calvin, kedua netra hitamnya membuat Ophelia merasa dia terperangkap dalam kegelapan tak berujung.
Perempuan itu mengatupkan bibirnya, napasnya tertahan tanpa sadar saat dia merasakan elusan di punggung tangannya oleh Calvin.
'Apa biasanya kau selalu melakukan ini dengan Mikhail?' bisik Calvin
'Melakukan apa?' Tanya Ophelia pelan. Bulu kuduknya meremang karena pria itu berbisik tepat ditelinganya.
'Jangan bodoh. Kau tahu apa maksudku.' Jawab Calvin
'Terkadang...'
'Luar biasa. Ku kira pria sepertinya tidak akan memiliki ketertarikan untuk melakukan hal semacam ini.' Gumam Alvin yang sejak tadi memperhatikan tingkah saudara kembarnya dengan Ophelia
Calvin terdiam, dia menatap penuh selidik pada Ophelia yang duduk di pangkuannya, 'Apa ini cukup memuaskan amarahmu pada Derek?' tanya Calvin
Ophelia tertegun selama beberapa saat. Tapi setelahnya perempuan itu mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Calvin.
'Ya. Aku tidak akan bertanya bagaimana kau melakukannya, tapi... bisa kah kau mengatakan sesuatu kepadaku sebelum kau melakukan eksekusi mu itu? Kau tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya aku saat peristiwa itu terjadi di hadapanku!' protes Ophelia. Dia menyandarkan tubuhnya pada Calvin dan memijat dahinya, 'Sebagian darah itu mengenai pakaianku dan bunga mawar itu. Ditambah karena hal itu terjadi di jam istirahat, banyak orang yang melihatnya dan merasa traumatis karena hal itu.'
Ophelia mendengar Calvin bergumam pelan. Dia menoleh dan menatap wajah Calvin yang berada dibalik bahunya, 'Kau bisa melakukannya?'
'Itu sedikit sulit. Kau tahu, Ophelia. Aku melakukan ini dengan mempertimbangkan beberapa hal untuk kebaikanmu. Menurutmu... jika aku memberitahu mu apa yang akan aku lakukan sebelumnya, bisakah kau bergerak dengan natural?' tanya Calvin
'Tidak, kan? Kau harus terlihat amat sangat tidak bersalah untuk itu, Ophelia. Kami seperti ini agar kau tidak dicurigai. Ada Mikhail di rumah ini. Menurutmu jika polisi menetapkan kematian Derek sebagai kecelakaan yang disengaja dan menjadikan orang dirumah ini sebagai tersangka, pria itu akan membelamu? Tidak, Ophelia. Dia akan mengatakan kejujuran dan memberitahu para polisi itu jika kau adalah sosok yang memiliki hubungan paling buruk dengan Derek di rumah ini.' Jelas Alvin sambil mengulas senyumannya
Ophelia tertegun.
Dia mengira dirinya hanya perlu berakting senatural mungkin jika polisi mencurigai dirinya. Dia melupakan variabel lain akan pandangan orang lain dirumah ini. Calvin dan Alvin membuat dirinya bahkan tidak perlu melakukan semua itu.
Jangankan dicurigai, dirinya malah bisa dibilang menjadi orang yang paling dikasihani oleh para tamu yang hadir.
'Jadi jangan pikirkan apapun. Lakukan saja hal yang biasanya kau lakukan, biarkan aku dan Alvin yang membantumu.' Ucap Calvin tenang
Ophelia menggigit bagian dalam bibirnya dan mengangguk pelan. Dia menatap Calvin dan Alvin secara bergantian. Walaupun Calvin dan Alvin ingin dirinya lepas tangan atas apa yang dilakukan keduanya, tapi dirinya tahu sebuah bantuan tidak mungkin datang begitu saja.
Bertahun-tahun berurusan dengan dunia bisnis, membuat dirinya yakin ada yang diinginkan kedua pria itu darinya.
'Benarkah aku tidak perlu melakukan apapun?' tanya Ophelia ragu
'Tentu saja tidak. Berikan dirimu pada kami. Karena aku dan Calvin... sangat menginginkanmu.'