'Aku tidak melakukan kesalahan dengan mempercayai mereka, kan?'
Dalam benaknya, Ophelia bertanya tanya. Sejenak sebelum dirinya tertidur, ingatannya melayang pada pembicaraan nya tadi dengan Calvin dan Alvin.
Di masa lalu, dirinya bisa dibilang jarang berinteraksi dengan keduanya. Jangankan berinteraksi, bertatap muka secara langsung saja bisa dibilang belum pernah mereka lakukan. Interaksi yang mereka lakukan dimasa lalu hanya sekedar saling melihat satu sama lain dari kejauhan saat Ophelia berkunjung ke kediaman Aleksei.
Jadi permintaan yang berasal dari keduanya belum bisa Ophelia pahami kemana arahnya.
'Apa Calvin mengejar kekayaan keluargaku?' gumam Ophelia. Perempuan itu mengerutkan dahinya dan menggeleng pelan, 'Jika itu soal kekayaan, seharusnya keluarga Aleksei juga tidak kalah dari keluarga Aldrich. Apalagi selama bertahun tahun ini, sejak aku dijodohkan dengan Mikhail, keluarga mereka juga menjadi semakin kaya berkat hubungan ini.' Lanjutnya
Seperti kata Ibunya dulu, hanya pernikahan dengan Ophelia lah syarat agar keluarga Aleksei mendapatkan keuntungan dari kekayaan Aldrich. Dan melihat Mikhail yang menikahi Lily, mungkin saja keluarga Aleksei sudah mencapai taraf kekayaan yang sama dengan mereka hingga Mikhail merasa tidak perlu menikah dengannya dan memilih Lily yang mungkin dicintainya.
Jadi mengapa Calvin menginginkannya?
'Apa dia menyukaiku?' gumam Ophelia yang merasa aneh dengan pemikirannya sendiri. Perempuan itu mengerutkan dahinya dan menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin selama beberapa saat sebelum kemudian menggelengkan kepalanya, 'Sudahlah. Seperti kata Calvin, masa bodoh dengan cinta selagi memberi keuntungan.'
Ophelia kembali mengalihkan pandangannya keluar kamar, langit malam menelan semua warna pepohonan yang mengelilingi rumahnya, mengubah semua warna hijau tua itu menjadi biru gelap senada dengan langit malam. Seharusnya Ophelia sudah tidur sejak tadi, tapi entah kenapa rasa kantuknya tidak kunjung datang walau seharian ini tubuhnya justru sudah menjerit kelelahan.
Menyerah dengan rasa kantuk yang tidak kunjung datang, Ophelia memutuskan untuk keluar dari kamarnya setelah sebelumnya meraih sehelai kain tipis untuk membalut gaun tidurnya yang tanpa lengan. Dia berjalan menyusuri lantai dua dengan langkah tenang, netranya melirik ke arah lantai satu, dia bisa melihat Mikhail yang sore tadi dia tinggalkan begitu saja masih berada disana. Tengah membaca sesuatu di ruang tamu sambil mungkin menunggui peti mati Derek.
Tak ingin beradu tatap dengan pria itu, Ophelia berbalik menuju halaman belakang rumahnya. Langkahnya berhenti tepat di tepi kolam renang, memandang pantulan dirinya sendiri dan cahaya bulan diatas permukaan air kolam yang tenang.
Perempuan itu terdiam selama beberapa saat disana sebelum kemudian kembali menggerakkan kakinya menuju sebuah gazebo berwarna putih yang terletak di tengah taman. Dia mendudukkan dirinya disebuah kursi dan menutup matanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Dulu, gazebo ini adalah tempat dirinya menghabiskan waktu dengan Ibunya. Mereka minum teh, bercerita, atau sekedar bersantai disana berdua. Diantara semua tempat di rumah ini, gazebo ini bisa Ophelia anggap sebagai tempat sucinya. Karena dia selalu melarang Monica ataupun Lily masuk ke dalamnya.
Ophelia bahkan sampai menugaskan pelayan khusus untuk menjaganya di siang hari.
'Jika Kakek masih hidup, aku yakin dia akan memujiku yang terlibat dalam kematian Derek. Atau.mungkin dia juga akan dengan senang hati terlibat dalam hal ini.' Pikir Ophelia
Perempuan itu tersenyum tipis.
Dia akan membalaskan kematian Ibunya kepada orang orang yang terlibat atas peristiwa itu.
Satu persatu.
Dan tanpa belas kasih.
Bahkan jika Calvin dan Alvin menginginkan sesuatu yang lebih sebagai gantinya, Ophelia akan menyanggupi hal itu.
Sepertinya kepuasan yang Ophelia rasakan saat ini, bahkan mampu membuat dirinya menyerahkan jiwanya pada iblis hanya untuk menyeret Derek, Monica dan Lily ke neraka.
'OPHELIA!'
Ophelia membuka kedua matanya, dia melirik ke arah rumahnya saat mendengar suara langkah tergesa yang berasal dari sana. Dia bersidekap, menatap lurus seseorang yang sejak tadi menjadi objek siksaan di dalam pikirannya, kini berjalan ke arahnya dengan wajah marah.
'Kau! APA APAAN PAKAIANMU INI?! KAU BERNIAT MENGGODA MIKHAIL?!'
'Ha?' sahut Ophelia tidak habis pikir. Salah satu sudut bibir perempuan itu terangkat, 'Kau gila? Untuk apa aku melakukannya?'
'Tidakkah kau memiliki sedikit rasa malu?! Berkeliaran dengan gaun tidur seterbuka itu di malam kematian Ayahmu?!' sentak Monica. Wanita tua itu berdecak dan berkacak pinggang, 'kau juga sengaja melakukannya karena mengetahui jika Mikhail masih terjaga di lantai satu, kan?!'
Suara tawa yang terdengar mengejek keluar dari mulut Ophelia. Perempuan itu beranjak dari posisi duduknya sambil melepas kain tipis yang sejak tadi memeluk bahunya, memamerkan lekukan tubuhnya yang dibalut gaun tidur berwarna merah ketat.
'Bukan salahku jika aku terlihat cantik ataupun menggairahkan. Bukan hal yang aneh jika Mikhail tergoda olehku yang bahkan tidak melakukan apa apa!' Serunya tanpa menghilangkan tawa nya. Ophelia mengibaskan rambut panjangnya dan mendekatkan wajahnya kepada Monica, 'tapi tenang saja, aku bukan tipe orang yang akan sibuk bercinta sementara ada tubuh tak bernyawa lain terbaring di peti mati.' Lanjutnya
'Oh, benar, itu tipe mu, kan? Bagaimana rasanya bercinta dengan Derek di lantai dua sementara Jasad ibuku masih berbaring di peti mati?' tanya Ophelia lagi
'KAU GILA!' Teriak Monica sebelum kemudian pergi begitu saja
Meninggalkan Ophelia yang tersenyum licik.
'Hah, dasar k*****t. Jangan samakan levelku denganmu. Hal tidak bermoral seperti itu hanya cocok dengan orang orang seperti kau dan Lily.' Gumamnya kesal
Kembali ditinggalkan sendirian, Ophelia kembali menaruh bokongnya pada kursi. Dia bersidekap dan menutup kedua matanya.
Hatinya cukup merasa puas karena berhasil memukul Monica untuk mundur seperti tadi. Tapi disisi lain, dia juga merasakan amarah yang dia pendam di masa lalu kembali meluap ke permukaan.
'Tak apa, Ophelia. Setelah Derek, Monica akan menjadi yang kedua... Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi.' Gumam Ophelia pelan
***
Ophelia mengerutkan dahinya saat dia merasakan tubuhnya terguncang pelan, perempuan itu perlahan membuka matanya saat merasakan jika dirinya tengah berada di dalam gendongan seseorang. Kedua netranya mengerjap, menatap wajah tegas seorang pria yang sedang membawanya dalam pelukan.
'Calvin?' panggil Ophelia
'Ya.' Jawab Calvin
'Sepertinya terakhir kali aku membuka mata, aku masih berada di gazebo.' Gumam Ophelia
'Kau tertidur disana.' Ucap Calvin
'Ah, aku mengerti.' Gumam Ophelia. Dia meringkuk pada dada bidang Calvin, entah kenapa tubuh pria seperti menawarkan kehangatan untuknya yang kedinginan setelah tertidur di gazebo cukup lama.
Suara pintu yang terbuka menyadarkan Ophelia jika mereka sudah sampai ke dalam kamarnya. Calvin dengan hati-hati menaruh tubuh Ophelia ke atas tempat tidur.
Suara desahan pelan keluar dari mulut Ophelia tanpa sadar saat punggungnya menyentuh permukaan tempat tidur yang lembut. Sepertinya dia tertidur cukup lama di luar sana karena punggungnya terasa cukup pegal.
Perempuan itu menyentuh benda yang tersingkap begitu saja dari atas tubuhnya, dia meraih benda tipis yang biasanya berada di ruang perapian untuk digunakan saat musim dingin.
'Apa kau yang membawa ini untuk menyelimutiku?' tanya Ophelia sambil membuka selimut tipis yang membalut tubuhnya dan menyerahkannya pada Calvin
Pria itu terdiam sejenak, 'Hm.' Jawabnya singkat. Calvin kemudian memijat dahinya pelan, 'Kau tidurlah lagi. Masih ada beberapa jam sebelum para tamu datang dan peti mati Derek dipindahkan ke gereja untuk diberkati untuk yang terakhir kalinya sebelum dikebumikan.' Ucapnya tenang
Ophelia mengangguk, dia membalut tubuhnya dengan selimut yang lebih tebal dibantu oleh Calvin.
'Kau akan kembali ke kamar tamu?' tanya Ophelia
'Nanti. Setelah memastikan kau tidur.' Jawab Calvin sambil duduk di tepi ranjang. Pria itu bersidekap, 'Apa yang kau pikirkan?' tanyanya saat Ophelia hanya menatapnya dan tidak kunjung berbicara
'Tidak ada. Hanya saja, terima kasih. Jika kau menginginkan diriku, aku akan memberikannya. Kapanpun kau menginginkan nya.' Ucap Ophelia. Perempuan itu menatap Calvin yang tidak kehilangan ketenangannya.
Lama pria itu tidak menjawab perkataannya.
Namun sesaat setelahnya, Calvin menunduk dan memanggut bibir Ophelia dengan lembut. Kelopak mata Ophelia bergerak samar sebelum kemudian tertutup, dia mengalungkan lengannya di leher Calvin dan membalas ciuman pria itu dengan tenang.
Suara decapan terdengar pelan, Calvin yang semula hanya bermain dengan bibir Ophelia kini mulai mengeksplor lidah perempuan itu, membelitnya penuh gairah.
Permainan bibirnya berhenti sesaat setelah tangan besar Calvin menyentuh leher ramping Ophelia.
Pria itu menatap lurus ke arah kedua mata sayu Ophelia sebelum kemudian mendorong pelan perempuan itu untuk kembali berbaring diatas tempat tidur.
'Aku tidak boleh berlebihan. Akan buruk bagimu jika menemui para tamu dengan bibir yang bengkak.' Ucap Calvin. Pria itu mengecup bibir dan leher Ophelia bergantian sebelum kemudian beranjak dari posisinya yang semula menindih perempuan itu, 'Tidurlah Ophelia. Besok akan menjadi hari yang panjang bagimu.'
Ophelia menatap punggung lebar Calvin yang beranjak pergi dari kamarnya. Perempuan itu tersenyum tipis, 'Such a good kisser. Sampai sampai aku lupa bertanya apakah dia melihat kain tipis yang sebelumnya aku pakai untuk menutupi leher dan lenganku. Karena sepertinya benda itu menghilang, dan tergantikan dengan selimut ini.'