“Semuanya telah ditentukan sejak lama! Bahwa mereka tak bisa diterima sebagai bagian dari kita, mereka berbeda, dan itu bukanlah bagian kita. Suatu saat mereka akan menancapkan taring tajam itu di leher tajam kalian.”
Dia mengatakannya dengan menggebu, bahkan dia saja sampai lupa untuk mengambil napas, dalam mengungkapkan isi hatinya. Matanya menajam, dengan sudut bibir tertarik menyedihkan. Di sebelahnya, terdapat contoh dari apa yang dia katakan.
“Lihatlah, dia. Apa pantas dia disebut sebagai manusia? Bagian dari manusia? Mereka hanya bagian dari binatang!”
Suaranya menggelegar, memenuhi ruangan. Orang-orang bersorak menyetujui apa yang dia katakan.
**
Jalanan terlihat ramai, entah berapa kali kereta kuda melewati jalan yang penuh dengan pertokohan.
Surat kabar pagi telah tersebar, memberi tahu tentang hasil rapat mereka kemarin, di mana ketua kabinet negara Rubellian—Hugo Robert Dowana, yang menjadi sorotannya.
“Werewolf, bukanlah bagian manusia. Mereka lebih pantas untuk dijadikan budak.”
Itulah judul yang tersebar di surat kabar. Para manusia yang membacanya menyeringai. Itu hal yang pasti.
Mereka menolak persamaan hak!
Werewolf adalah anjing, dan manusia adalah majikan mereka.
Di tengah perkotaan, terdapat mansion yang lebih mewah dibandingkan dengan mansion di sekitarnya. Halamannya luas, dengan taman yang tampak cantik dan mewah.
Orang-orang mengatakan bahwa pemilik mansion melakukan itu untuk anak perempuan satu-satunya. Mereka sangat iri setiap melihat mansion tersebut, di jaga dengan sangat baik dengan para pengawal dan pelayan yang jumlah tak akan bisa dihitung dengan jari.
“Nona Julie, ini makanan Anda,” ucap seorang pelayan meletakkan makanan Julie di atas kasur.
Julie yang terkejut dengan panasnya merasa terkejut, dia menumpahkan makanan tersebut.
“Apa kau serius meletakkan makanan di atas kasur tanpa alas? Bahkan kau tak bisa berpikir meletakannya di atas meja?” ucap Julie dengan suara yang dingin.
Kepalanya masih pusing, dia tidur lebih awal lagi karena pusing yang sangat hebat.
Pelayanan itu gemetar, dia dengan panik bersimpuh di lantai.
“Maafkan hamba, Nona Julie,” mohonnya dengan gemetar.
Julie baru menyadari, dibalik choker yang dipakai pelayanan tersebut, terdapat goresan mantra.
Julie berdiri, dia menghela napas panjang.
“Siapa namamu?”
“Se-Sela,” ucapnya terbata-bata.
“Berdirilah, Sela. Bantu aku membersihkan semua kekacauan ini.”
Sela langsung menuruti Julie, dia berdiri dan memberikan semua kekacauan ulahnya. Perut Julie berbunyi, sekarang baru dia merasakan lapar. Tapi tubuh lengket ini, sangat tak nyaman.
“Bantu aku mandi, Sela.”
Sela menurut lagi, dia mengikuti Julie membantu Julie dengan sangat baik dan lembut.
Julie memperhatikan Sela, kedua telinganya lancip, dia mempunyai dua taring kecil di giginya. Selain itu, semuanya tampak seperti manusia biasa.
Setelah itu, dia membenamkan kepalanya sendiri ke dalam bakal mandi untuk menjernihkan pikirannya.
“Sela, jangan katakan apa pun tentang kecerobohanmu hari ini,” peringat Julie saat Sela membantunya memakai baju. Dia sadar bahwa Sela adalah pelayanan baru di mansion-nya. Pasti dia tak memahami situasi dengan baik.
Sela menatap mata Julie yang terlihat tegas, dia menunduk dan berkata, “Baiklah, Nona Julie.”
Julie melihat ke arah jendela besar di kamarnya. Padahal hari ini dia malas sekali keluar dari kamarnya, tapi dia harus mengisi perut untuk menambah stamina.
Pagi ini sangat tenang, tapi entah kenapa Julie berpikir sebaliknya. Apa akan ada berita besar lagi? Semua orang kenal siapa ayahnya. Dia mempunyai jabatan tinggi di kehidupan manusia, orang yang disegani orang-orang.
Tapi tidak bagi kaum Werewolf dan dirinya.
Julie melewati potret keluarganya, di sana dia melihat wajah ibunya yang sudah meninggal 10 tahun lalu karena werewolf, dan sosok ayahnya. Mata itu, dulu terlihat sedikit ramah, tapi sekarang sangat menakutkan.
Sedangkan sosoknya yang kecil, duduk di antara mereka berdua dengan tersenyum cerah.
“Menjadi dirimu, pasti sangat menyenangkan, ya?” Julie mengusap potretnya sendiri, memandangi dengan penuh ke rinduan.
Dia melangkah lagi untuk menuju ruang makan, tapi belum lagi Julie sampai, para pelayan telah sibuk berkumpul, menyambut kedatangan ayahnya.
Julie hampir saja mengumpat, tapi kontrol dirinya yang baik membuat Julie hanya menghela napas. Sebagai anak, dia tentu harus menyambut kedatangan ayahnya.
Langkah kakinya yang mungil menjadi dipercepat, dia mengangkat roknya yang berat agar bisa berjalan lebih cepat akan sangat bahaya jika ketika ayahnya turun dari kereta kuda tak melihat wajahnya.
Tepat saat kereta kuda berhenti di depan Mansion, Julie telah berdiri paling depan untuk menyambut ayahnya.
“Selamat datang, Ayah.” Dia menunduk dengan hormat.
Ayahnya melewatkan Julie begitu saja setelah meliriknya dengan malas.
“Tolong siapkan air hangat, dan gunakan sabun beraroma citrus dan pinus,” perintahnya pada Kepala Pelayan yang ada di sampingnya.
“Baik, Tuan Hugo.”
Kepala Pelayan melirik Julie sekilas, kemudian mengikuti Hugo dengan cepat.
Julie sudah terbiasa seperti ini, dia memang anak yang seperti bukanlah anaknya. Diabaikan dengan dingin seperti dia tak terlihat.
**
“Bagaimana dengan rapat, ayah?” Julie mencoba sekuat mungkin untuk menampilkan senyum termanisnya.
Hugo tak langsung menjawab, setelah menelan steiknya, dia meminum Wine yang baru saja di tuang oleh Kepala Pelayan Vernand.
Melihat hal itu, Julie melanjutkan makanannya. Mengunyahnya dengan tenang.
“Kau masih saja bisa mengunyah makananmu dengan tenang?” ucap Hugo yang membuat Julie berhenti mengunyah.
“Kau tahu, aku kesulitan menampungmu. Dan jika aku membiarkanmu berkeliaran, kau akan membuat malu keluarga Dowana.”
Julie tak mengerti pikiran ayahnya sendiri. Yang mengurungnya di mansion adalah ayahnya, bahkan dia lebih baik tak diperhatikan sekalian, karena perhatian Hugo itu sangat mengerikan.
Hugo mengulurkan tangan kanannya.
Vernand mengerti apa yang diinginkan tuannya. Dia mengambil cambuk dan segera meletakkannya di tangan Tuannya.
“Kau kemarilah. Perasaan ayahmu langsung buruk ketika melihat wajahmu yang jelek ini.”
Tangan Julie gemetar, dia meremas gaunnya sendiri dengan kuat. Bibirnya dia gigit, dia sangat benci dengan keadaan seperti ini.
Ayahnya bagaikan iblis, dan orang-orang selalu mengatakan bahwa dirinya adalah anak paling beruntung di negara ini.
“Cepat kemari!”
Suara itu menakutkan, membuat tubuhnya gemetar, dengan menyeret kalinya, Julie mendekat pada ayahnya. Hugo berdiri saat Julie telah mendekat, dia mulai mencambuk Julie kuat.
Sela menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. Tubuhnya gemetar.
“Ugh ....” Julie meringis, dan cambukkan itu terus datang hingga gaunnya robek.
Air matanya mengalir, rasa perih ini tak seperih luka hatinya. Kenapa ayahnya suka sekali menyiksa dirinya? Padahal dia adalah darah dagingnya sendiri.
Jika Julie berteriak, maka cambukkan itu akan semakin kuat.
Walaupun berkali-kali cambuk kulit itu menyentuh kulit Julie hingga mengelupas, Julie tak bisa melawan. Siapa yang berani melawan orang paling berkuasa di negara ini? Orang-orang pun tak akan mempercayai dirinya, karena menurut mereka, Hugo adalah simbolis dari jiwa kemanusiaan.
Julie tertawa di dalam hatinya.
Ya itu bagi para manusia keji seperti Hugo, mereka akan memilih panutan yang serupa.
“Bawalah dia.” Hugo mendorong tubuh Julie hingga terjatuh.
Julie yang telah kehilangan tenaganya, tak sanggup berjalan sendiri, dengan cepat, Sela membantu Julie, membawanya keluar dari ruang makan.
Julie menyadari bahwa Sela menangis untuk dirinya.
“Sela, kau kenapa menangis?” Julie menahan ringisnya saat obat dioleskan oleh Sela. Tangannya meremas bantal dengan kuat.
Sela telah membantunya membukakan gaun, dan sekarang dia sedang mengobati luka Julie yang sangat buruk.
“No-nona ... bagaimana bisa Tuan melakukan ini pada anda, anak kandungnya sendiri?” suaranya gemetar.
Julie memegang tangan Sela, dia merasakan ketulusan Sela. Dia mempunyai sikap lembut dan hangat, dan kepolosan yang bisa membuatnya menderita nantinya.
“Sela, tak apa. Ada air suci yang membantu menyembuhkan lukaku. Dan dengar aku, jika terjadi apa pun padaku, kau harus bersikap seperti tadi. Hanya diam saja.”
Sela menutup mulutnya, dia menangis deras kaki ini, dia melakukan hal tadi karena syok berat.
“Ma-maafkan atas kelakuan hamba, Nona Julie. Seharusnya hamba membantu Nona ....”
“Jangan!” teriakan Julie membuat Sela terdiam.
“Yang kau lakukan tadi sudah benar. Kau hanya perlu diam. Kumohon.”