Dia meremas surat kabar sangat kuat. Urat tangannya terlihat.
Matanya sangat tak ramah, saat dia menabrak orang lain, dia tak meminta maaf. Hanya menunjukkan mata tak ramahnya dari balik topi yang dia kenakan.
“Lihatlah para manusia ini! Aku ingin membinasakan mereka!”
“Sangat sombong.” Seorang pria menimpali perkataan yang lainnya.
“Hugo Robert Dowana, dia adalah biangnya. Dia sangat kuat menentang kebebasan kita.” Dia berdiri, menunjukkan kehebatan dari tubuhnya yang kuat. Besar dan tampak sangat berbahaya.
“Yang dikatakan Isaac benar. Hugo adalah masalah utamanya.” Killian yang sejak tadi menyimak akhirnya bersuara. Dia memang tak menyukai Hugo, pria sombong yang selalu memandang bangsa Werewolf rendah.
Bahkan manusia mengikat werewolf sebagai b***k mereka dengan perjanjian darah, dan jika para werewolf yang sudah terikat membangkang, mereka akan mati dengan kepala terputus.
“Jadi, apa ide kalian untuk situasi sekarang?”
Seorang tetua yang duduk di kursi menatap mereka semua. Musyawarah adalah jalan untuk mengambil keputusan. Sesuai kesepakatan dan adat mereka, mereka akan melaksanakan hasil keputusan mussyawara.
“Aku mendengar rumor bahwa Hugo sangat menyayangi putrinya. Saking sayangnya, Hugo bahkan tak membiarkan putrinya keluar dari mansion-nya.” Isaac mengungkapkan isi pikirannya.
Semua orang melihatnya dengan antusias, dia seperti memahami Hugo dengan baik. Isaac adalah werewolf berumur 40 tahun, yang disegani karena dia kuat. Orang takut membuat masalah dengannya, karena dia adalah werewolf yang sering kali menghadapi pertempuran. Pendapatnya tak bisa dianggap remeh.
“Kita culik putrinya, dan jadikan sandera untuk kita bernegosiasi nanti.”
Semua mata memandangnya dengan terpukau, itu ide yang sangat bagus. Kecuali Killian, dia sedikit tak suka dengan ide itu.
“Lalu bagaimana dengan cara menculiknya?” seorang wanita berambut coklat berdiri, dia ingin detail rencana penculikan itu.
Dia tertawa lebar, sangat senang dengan apa yang ada di pikirannya sendiri. Pujian dia berikan padanya sendiri.
“Aku sudah menempatkan penyusup di sana. Jika mau, aku hanya perlu memberikan kode agar dia bersiap.”
Semua orang menjadi lebih kagum dari sebelumnya. Mereka berbisik tentang kehebatan Isaac, dia bisa saja menjadi pemimpin bangsa Werewolf nanti jika terus begini.
“Baiklah, kapan kita mulai?”
**
Dia merasakan seragamnya, udara dinginnya malam masuk ke dalam baju dan menyentuh kulitnya.
Saat dia bernapas, ada asap putih yang keluar dari mulutnya. dibandingkan seragam yang dipakai manusia, seragamnya lebih tipis.
Duar!
Sebuah ledakan kembang api di langit, bercahaya biru yang besar. Matanya tak bisa lepas dari itu, senyum tipis muncul di wajahnya. Tak dia sangka bahwa hari ini akan tiba juga. Jantungnya berdebar besar, dia pernah melihat Julie sekali. Merasa sayang dengan wajah manisnya itu yang akan menjadi tawanan.
“Pergantian jam jaga!” teriak seorang penjaga dengan berjalan sembari berjalan ke segala penjuru mansion.
Inilah saat yang pas, dia sudah tahu bahwa pergantian jam jaga menyebabkan kekosongan selama kurang lebih 3 menit, dalam waktu sesingkat itu, dia harus bisa membawa masuk Julie.
“Haa ....” Julie menghela napas panjang saat Sela menyisir rambut panjangnya yang berwarna kemerahan.
Kembang api meledak di angkasa, cahayanya masuk melalui jendela kamar Julie yang belum tertutup gorden. Sangat terang hingga Julie dan Sela harus mempersempit penglihatan mata mereka, dengan menutup sedikit kelopak mata.
Kembang api itu hanya sekali, membuat Julie bingung.
“Apakah ada pertunjukan? Festival di luar?” tanyanya pada Sela yang masih memandang ke arah luar.
“Sama sekali tidak ada, Nona Julie. Kurasa itu hanyalah tindakan iseng.”
Julie memandangi dirinya di cermin, semuanya tampak rapi, dia menyukai hasil kerja Sela. Julie menyentuh rambutnya yang halus, warna rambut yang berani. Tapi tidak dengannya.
“Aku akan tidur sekarang. Tubuhku masih sangat sakit rasanya,” titahnya sambil berdiri, dia melihat Sela menundukkan hormat padanya. Setelah Dia berbaring di ranjang, Sela menutup pintu meninggalkannya sendiri dengan lampu yang redup.
Julie telah memejamkan matanya saat dia mendengar suara langka kaki yang mendekatinya lagi.
“Sela?”
Rasanya dia sangat malas untuk membuka matanya kembali. Padahal beberapa detik yang lalu, dia sudah hampir tertidur lelap.
“Sela?” Dia bertanya untuk kedua kalinya, tapi jawaban tak kunjung datang. Julie akhirnya memutuskan untuk membuka matanya, namun belum lagi retinanya menangkap siapa yang ada di dekatnya, wajahnya sudah ditutupi oleh orang lain hingga dia tak bisa mengeluarkan suara.
Matanya melebar, dia berkeringat dingin. Pandangan matanya yang gelap tidak bisa mengetahui apa yang terjadi, tapi yang dia yakin, orang ini sedang menculiknya, dan dia sedang terburu-buru untuk kabur dari mansion.
“Kau tak ketahuan?”
“Ah, tenang saja. Mereka tak menyadarinya, sekarang ayo kita pergi.”
Setelah mendengar percakapan singkat itu, Julie merasa tubuhnya dilempar ke udara, dan saat mendarat dia merasa tangan-tangan lain yang menangkapnya.
“Gil, kupikir kau akan gagal. Jika kau telah semenit lagi, kami akan meninggalkanmu.” Mereka terkekeh kecil.
“Sudah, tutup mulutmu. Kita pulang Heava sekarang. Isaac pasti menunggu kita.” Perintahnya membuat semuanya mulai berjalan.
Julie yang telah ditempatkan di gerobak dengan diikat tangannya dia tak bisa berbuat apa pun, hanya diam dan mendengar percakapan mereka. Namun waktu yang semakin berjalan membuatnya tertidur. Hingga sinar matahari yang hangat mengenai dirinya. Sinar itu menerobos masuk dari gerobak yang tak tertutup semua, saat mereka sibuk memakan sarapannya. Mereka tak memberikan apa pun pada Julie yang meringkuk di dalam gerobak sendirian.
“Apa kau tak akan memberinya makan?” tanya seseorang yang Julie tak tahu siapa itu. Tapi suaranya sangat enak di dengar
“Untuk apa? Bahkan selama aku ada di mansion-nya, perlakuan mereka sangat buruk, membuatku marah.” Suaranya terdengar dengan sangat emosi, jika Julie bisa melihatnya, bisa saja dia takut dengan wajah sangar miliknya.
“Tetap saja dia harus makan.” Dia tak menunggu balasannya. Walaupun Gillbert marah, dia tak bisa memarahinya.
Mendengar percakapan mereka, tentu saja Julie menyadari bahwa pasti dia seorang penyusup di mansion-nya. Tapi Julie tak peduli, ada di dalam mansion sama sekali tak memberinya napas yang lega. Bahkan, dia meragukan ayahnya akan mencari dirinya, bagi ayahnya, dia hanyalah beban.
Kehilangan dirinya, artinya kehilangan beban yang selama ini selalu menyusahkannya, dan dia tak perlu menghadapi luka cambuk lagi. Luka di punggungnya masih terasa perih, dan perutnya berbunyi. Julie akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan dirinya, tertidur kembali sembari menahan semua rasa itu.
Tenang dan gelap.
“Hei, bangunlah. Jika kau tak minum, kau bisa juga mati.”
Suara yang dia kenal, dia orang yang menanyakan tentang memberi makanan pada Julie dan memberinya makan. Sekarang dia menyodorkan segelas air minum di mulut Julie yang telah dia buka tutupnya.
Tanpa melihat siapa dia, Julie meminumnya dengan tenang. Sangat terasa kering di tenggorokannya, dia tentu tak bisa menghilangkan kesempatan ini. Walaupun ingin, dia meminumnya perlahan.
“Seorang Nona muda masih bisa mempertahankan martabatnya bahkan saat begini.” Dia menyeringai, dan yang membuatnya lebih terkejut adalah senyum tipis dari Julie.
“Apa kau begitu yakin pada ayahmu bisa menyelamatkan hidupmu?” pertanyaan sinis dia berikan, tapi Julie hanya menggeleng.
Dia tak butuh memberi jawabannya.
Bahkan wangi ini, udara ini, semuanya terasa sangat berbeda dengan yang ada di mansion-nya.