Marvel menggenggam tangan Shanika untuk menunjukkan sesuatu dari bagian rumah milik orang tuanya yang belum istrinya itu ketahui. Sha hanya mengikuti saja langkah kaki Marvel dalam diam. Pikirannya masih memutar hasil dari pembicaraan yang baru selesai beberapa menit yang lalu. Tentang aturan yang wajib Sha sepakati.
Pusing, tiba-tiba menyergapnya. Dia harus bagaimana untuk 'lulus' dalam ujian tersebut.
"Bee!" Marvel memandangnya dengan satu alis terangkat. Ekspresi seperti itu yang kadang membuat Sha sebal, namun juga geli sendiri karena Marvel bisa terlihat jelek karena melakukan hal itu. "Kita udah sampai. Katanya menyampaikan alasan pria itu memanggil sang istri.
Memandang sekeliling, Sha merasa sedikit kagum namun dalam hati bertanya. Bangunan di depannya tak kalah megah dengan kediaman mertuanya, tapi kenapa rumah sebesar ini dibangun di belakang rumah mereka?
Kenapa... "Kita masuk dulu sebelum kening kamu makin berlipat-lipat." ajakan Marvel memutus pertanyaan-pertanyaan dalam benak Sha.
Sha lagi-lagi mengangguk dan mengikuti kemana sang suami menggandengnya. Melewati pagar setinggi pinggang dengan tanaman hias memenuhi halaman bangunan tersebut, mereka masuk ke dalam rumah setelah perempuan paruh baya membukakan pintu untuk mereka sambil tersenyum sangat lebar.
"Selamat datang, Non Sha." sambutnya dengan ramah. Memandangi Sha dengan mata berbinar entah apa yang dipikirkan dengan kepala tuanya itu.
"Terima kasih, Bi." jawab Sha dengan senyuman juga.
Marvel kembali menggandeng tangan Sha untuk melanjutkan langkahnya setelah meminta bibi membuatkan minuman untuknya dan sang istri.
"Duduk dulu biar nanti aku jelasin." kata Marvel memutus kebingungan sang istri. Pria itu menyalakan televisi dan mencari acara yang menurutnya menarik sebelum menyamankan duduknya sambil memandang sang istri dalam.
"Ini rumah kita." tak ada respon yang berlebihan yang ditunjukkan oleh Sha.
"Rumah kita?" tanyanya untuk meyakinkan.
Marvel mengangguk. "Ya. Rumah kita. Nanti, kalau kamu lulus ujian dari mama, kita akan pindah ke sini." Shanika masih tidak menanggapi apa yang Marvel ucapkan. Dia masih bingung. Entah kebingungan apa yang diputar oleh otaknya itu.
Melihat keterdiaman sang istri, membuat Marvel kembali menjelaskan. "Papa adalah orang yang hidupnya penuh dengan perencanaan matang." awalnya. "Meskipun perencanaan itu memang tak selamanya dapat terealisasi dengan baik, tapi beliau memiliki banyak rencana cadangan. Dan salah satunya adalah ini. Bangunan rumah ini yang sudah dipersiapkan beliau untuk anak-anaknya." Sha tahu jika ayah mertuanya adalah lelaki yang luar biasa.
"Papa dan mama tidak ingin jika masa tuanya nanti merasa kesepian karena kami sudah memiliki keluarga sendiri. Jadi, dengan begini, tidak akan drama keluarga jika kami, anak cucu papa tak bisa datang menemui papa di rumahnya."
"Jadi, mereka memutuskan untuk membuatkan rumah kalian di sini?" pertanyaan Sha dijawab anggukan oleh Marvel. Kemudian lelaki itu kembali menjelaskan.
"Dulu, Papa memang suka berinfestasi dengan membeli lahan. Papa pernah bilang kalau tanah perumahan ini dulunya hanya lahan kosong yang tak terurus. Kemudian pemiliknya menjualnya sedikit demi sedikit. Dan Papa membelinya.
"Papa yakin jika lahan-lahan ini akan menjadi mahal jika 'diolah' suatu saat nanti. Dan ya, setelah Papa membangun rumah di sini, pemilik lahan lainnya juga menjualnya. Dan akhirnya perumahan ini, Papa lah yang bangun." Sha paham jika keluarga Marvel memang memiliki kekayaan yang luar biasa. Jadi, dia tidak ingin mengomentari apa yang dimiliki keluarga lelaki itu atau bagaimama ayah mertuanya bisa sehebat itu.
"Dan rumah di depan rumah kita ini adalah rumah Kakak. Kita bisa kesana kalau kamu mau."
Sha menggeleng. "Mungkin lain kali aja Mas." sambung Shanika. Dia baru saja menjadi anggota keluarga Marvel. Jika dihitung, baru sehari semalam. Tapi dengan melihat semua ini, dia merasa kecil dan masih bertanya kepada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang terjadi sekarang ini, benar-benar nyata atau hanya khayalannya saja. Karena dia sungguh masih tak menyangka akan semua ini.
°•°
Untuk menunggu empat hari dilakukan ujian dari sang mertua, Sha menerima tawaran dari sang suami untuk pulang ke rumah orang tuanya. Hatinya begitu bahagia mengingat dia akan tidur kembali di kamar tempatnya merajut bayangan-bayangan yang dia pikir hanyalah bayangan semu. Ternyata Tuhan mengabulkan satu dari bayangan-bayangan tersebut, dan dia bersyukur akan hal itu.
"Itu Ibu." Sha tersenyum ketika melihat ibunya yang sedang duduk di teras rumah tetangga dan sepertinya tengah mengobrol. Marvel juga tersenyum dan mengangguk, sepertinya istrinya begitu bahagia sore ini.
"Iya." katanya sambil memelankan mobilnya. Melihat mobil dua pintu berwarna putih mengkilat yang baru sekali masuk di daerah perumahan Sha, membuat orang-orang yang sedang berkumpul bersama ibu Sha menolehkan kepalanya dan memandang takjub. Bagaimana tidak, jika biasanya mobil yang masuk kesana hanyalah mobil dengan empat pintu, dan kali ini mobil dua pintu yang biasanya hanya dilihatnya di televisi kini muncul di depan mata mereka.
"Ibu." panggil Sha sambil menjabat tangan sang ibu dan menciumnya. Tak lupa kepada tetangganya yang juga ada di sana.
"Kok nggak bilang kalau mau pulang? Kalau tau kalian mau pulang kan bisa dimasakin tadi." Begitu kata ibu Sha.
Marvel tersenyum. “Nggak papa kok, Bu, tadi di jalan kita juga udah beli makan.” Maksud Marvel adalah makanan ringan, karena Sha memang menolak tawaran sang suami untuk mengisi perut mereka. Dengan alasan, ingin makan masakan sang bunda.
"Ya sudah, ayo masuk, ibu masakin sesuatu buat kalian." Jawab ibu Sha, dan kemudian mereka masuk ke dalam rumah, setelah beramah tamah dengan para tetangga. Karena sepasang pengantin baru itu butuh segera istirahat. Perjalanan mereka memang terbilang cukup jauh, jadi duduk di mobil terlalu lama membuat punggung keduanya butuh kasur sesegera mungkin.
"Bapak kemana, Bu?" Marvel meletakkan koper yang berisi pakaiannya dan juga Sha di sudut ruangan.
"Bapak keluar tadi, nggak tahu kemana. Biar ibu telpon dulu. Ini makan apa yang ada dulu ya," ibu Sha menyuguhkan beberapa makanan yang dimilikinya. "Ibu ke Bulek Min dulu, mau beli bahan makanan." Katanya. Marvel mengangguk dan membiarkan ibu mertuanya berlalu dari hadapannya.
Marvel memperhatikan istrinya yang sedang memeluk guling di kasur lantai yang ada di depan televisi sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya istrinya benar-benar kelelahan.
"Capek banget, Bee?" tanyanya dengan mengelus rambut sang istri. Shanika yang hampir terlelap hanya bisa berguman dan mengeratkan pelukannya pada guling tersebut. Marvel mengecup pelipis sang istri sayang kemudian bangkit untuk membersihkan dirinya.
Setelah makan malam selesai, Shanika dan Marvel duduk santai di halaman rumah Sha. Kebetulan bulan sedang bersinar begitu terang menemani keduanya menikmati suasana malam. Shanika berada dalam dekapan sang suami yang terasa hangat untuk menghalau udara malam yang menyapanya.
"Inget waktu pertama kali lihat kamu, Bee." kata Marvel mengawali. Kepalanya mendongak dengan pikiran menerawang ke ingatan beberapa bulan yang lalu. Sha melepas pelukan Marvel yang membelit tubuhnya.
"Hem. Terus?" tentu ada rasa penasaran di dalam kepala Sha. Juga penasaran kesan pertama suaminya itu ketika melihatnya.
"Aku lihat kamu pas mainin hp sambil cekikikan sendiri, nggak tahu ngapain." Marvel tersenyum geli mengingat saat itu. "Aku cuma bisa lihatin kamu dari jauh sebelum masuk ke rumah ini."
Shanika menopang dagu untuk bisa fokus pada cerita sang suami. "Terus?"
Marvel mencubit gemas hidung Sha. "Aku tanya sama Kakek Ahmad tentang kamu, dan beliau malah kesenengan bukan main yang buat aku bingung."
"Dulu pernah loh, Mas, Kakek Ahmad mau jodohin aku sama tetangganya." Marvel berdecak sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. "Kamu nggak mau kan?" Shanika mengangguk mengiyakan.
"Iya, belum jodoh soalnya." bisa dibilang kakek Ahmad adalah mak comblang antara keduanya. Beliau adalah 'teman' dari ayah Sha yang juga masih ada ikatan keluarga dari pihak ibu Sha. "Terus?" Sha ingin Marvel melanjutkan ceritanya.
"Beliau tanya ke aku, apa aku suka sama kamu? Dan waktu aku mengiyakan, beliau tersenyum lebar sambil bilang kalau mau mengurus semuanya." dan yang Sha ingat adalah kakek Ahmad waktu itu langsung menemui orang tua Sha dan mengatakan maksud dari Marvel.
Dan kejadiannya begitu cepat saat keduanya berhubungan dan berakhir di pelaminan.
•°•