Sha menatap sebuah amplop coklat berisi uang yang ibu mertuanya berikan kepadanya setelah makan malam tadi. Dia sudah pulang dari kediaman orang tuanya dan bersiap untuk menjadi 'menteri keuangan' di keluarga Marvel. Atau lebih tepatnya untuk orang tua Marvel.
Beberapa hari ini dia sudah berpikir akan mengawali ini dari mana. Meskipun tidak semua perencanaan bisa terealisasi dengan baik, namun dia punya keyakinan jika dia mampu. Saat pulang kemarin, dia juga mengatakan kepada ibunya tentang ujian yang diberikan kepada mertuanya yang harus dia lakukan.
Ibu Sha berujar dan memberi semangat kepada putrinya.Dengan mengatakan, jika setiap keluarga memiliki aturan yang memang harus disepakati oleh anggota yang ada didalamnya.Dan sebagai anggota baru, Sha juga harus bisa menempatkan diri dengan baik agar mereka tidak merasa kecewa dengan keberadaanSha di sana.
KeluargaMarvel sudah memberikan hal yang paling berharga untuk Sha miliki yaitu putra mereka. Dan aturan itu, dirasa tidak sebanding dengan perlakuan mereka yang begitu menerima Sha di dalam keluarga Nareswara.
Shanika menarik nafas panjang sebelum menyenderkan punggungnya di sofa yang di dudukinya. Ibunya benar, seharusnya dia bersyukur karena keluarga Marvel begitu menerimanya sebagai menantu di keluarga Nareswara tanpa ada drama saling melempar tatapan sinis seperti di sinetron.
Bahkan saat dia pertama kali diperkenalkan kepada kedua orang tua Marvel pun, mereka sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata yang mampu menyakitinya.
"Kenapa belum tidur?" Marvel masuk ke dalam kamar dengan beberapa dokumen di tangannya. Pria itu memang selesai meeting kecil-kecilan bersama sang ayah entah membicarakan apa. Lagipula, sudah waktunya untuk Marvel kembali bekerja setelah libur beberapa hari karena menggelar resepsi pernikahan beberapa hari yang lalu.
"Nggak papa." jawab Sha sambil netranya mengikuti pergerakan sang suami. Marvel yang sudah selesai meletakkan dokumen di meja kerjanya ikut bergabung bersama sang istri.
Melihat amplop tergeletak di meja, Marvel langsung membukanya dan melihat isi yang ada di dalamnya. "Waw! Banyak juga ya anggaran keluarga ini." komentarnya saat melihat lembaran uang berwarna merah entah berapa lembar.
"Perlu bantuan?" Shanika hanya melirik sang suami sambil menghembuskan nafasnya keras.
"Nggak usah, ini urusan perempuan." jawabnya dengan wajah jumawa. Sontak membuat Marvel tertawa dan menggigit pipi sang istri gemas. Sedangkan Sha menjerit karena tingkah suaminya yang begitu sangat menyebalkan.
"Suruh siapa sombong." kata Marvel menyeringai saat Sha mengusap pipinya yang terlihat bekas gigi lelaki itu.
"Mas ih, sakit tahu." Marvel hanya mengedikkan bahunya dan kembali bersuara.
"Aku yakin, kamu akan menjadi menteri keuangan yang luar biasa. Aku yakin, kamu istriku yang bisa diandalkan. Aku percaya kamu, jika kamu bisa menjankan semua ini dengan baik.” Ucapan Marvel, seperti penyemangat buat Sha.
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. “
"Aku tahu ini nggak mudah Mas.” Mulai Sha. “tapi siap tidak siap, aku harus melakukannya, aku nggak akan pernah pintar kalau nggak mau belajar.” tambah perempuan itu sambil menyenderkan kepalanya di bahu Marvel dan mensugesti dirinya sendiri jika dia pasti mampu.
Marvel memeluk sang istri dari samping. “Ini bukan hal yang sulit untuk kamu jalani. Kamu bisa.” Katanya sambil mencium pelipis sang istri
°•°
"Terima kasih ya, Non." semua asisten rumah tangga yang baru saja menerima gajinya tersenyum cukup lebar kepada Sha.
Awal bulan adalah waktunya memberi upah kepada pekerja, tak terkecuali di kediaman keluarga Marvel. Sha tentu saja sudah mendapatkan catatan beberapa tanggal 'penting' dari ibu mertuanya. Tanggal untuk membayar gaji asisten rumah tangga, juga tak lupa membayar semua tagihan yang harus di bayar.
"Sama-sama, Bi." Sha merasa hatinya ikut bahagia melihat orang-orang yang selalu membantu di keluarga Nareswara itu terlihat senang karena mendapatkan haknya.
Sha tidak pernah menyangka jika hidupnya benar-benar berubah. Bisa memberikan gaji kepada orang lain, meskipun bukan dari hasil keringatnya sendiri. Kemudian dia mengingat, jika dia harus menanyakan sesuatu.
"Ehm, Bi." panggil Sha agak ragu saat menyela kebahagiaan mereka.
"Ya, Non." Semua kepala, kini menghadap kearah Sha. "Boleh ngobrol sebentar?" mereka saling pandang satu sama lain kemudian mengangguk.
"Boleh, Non." senyum Sha merekah dan langsung duduk di lantai bersama para asisten rumah tangga keluarga Marvel.
“Eh... Eh, Non. Jangan duduk di bawah atuh, biar bibi ambilkan kursi ya.” Sha menolak dan menyuruh perempuan paruh baya itu untuk duduk kembali. Canggung tentu saja. Tapi Sha tetaplah Sha, meskipun dia sekarang adalah seorang majikan, tapi itu tak akan membuatnya berbangga hati dan menatap mereka rendah.
“ Udah, Bi, nggak papa. Sini, Bibi duduk sini.” Katanya, yang membuat mereka merasa canggung. Kemudian menanyakan bagaimana biasanya ibu mertuanya mengatur pengeluaran keluarga.
Menurut bibi, mereka mempunyai langganan untuk beberapa bahan pokok. Satu bulan sekali, ada orang yang akan mengantarkan beras ke kediaman mereka. Tapi untuk kebutuhan pokok lainnya, ibu Marvel pergi sendiri ke super market untuk membelinya. Sha benar-benar mendengarkan informasi yang diberikan oleh bibi dengan khidmat. Dalam otaknya sudah terbayang bagaimana nanti dia akan menjalankan semuanya.
Yang Sha butuhkan sekarang adalah,dia sudah mengetahui berapa kebutuhan primer yang diperlukan untuk keluarga tersebut. Bukan nominal uangnya, tapi banyaknya barang yang harus dibelinya.
Setelah urusan dengan ART nya selesai, perempuan itu kembali ke dalam rumah untuk memulai mencatat apa-apa saja yang perlu dibeli untuk kebutuhannya sampai satu bulan ke depan.
"Sha!" Sha menoleh ketika ada seseorang yang memanggilnya untuk melihat si pemanggil.
“Hai, Kak.” Katanya sambil tersenyum. Melvi – kakak perempuan Marvel berdiri di depan lemari es lalu kemudian menarik Sha untuk bergabung bersamanya di meja makan.
Sudah ada beberapa jenis cake yang tersaji di sana. Ini pertama kalinya mereka duduk berdua, dan itu membuat Shanika sedikit grogi. Namun Sha tetap mengikuti Melvi, namun masih menutup bibirnya.
"Aku tadi beli ini pas pulang dari nganterin Biya, cobain deh, enak kok." kata Melvi menyodorkan cake berukuran kecil dengan taburan kacang almond.
"Terima kasih,Kak." katanya sambil tersenyum.
"Gimana Marvel? Dia nggak nyebelin kan?" sepertinya kakak Marvel ingin mengetahui sifat sang adik jika bersama istrinya.
Sha terkekeh sambil menggeleng. "Enggak kok, Kak, dia baik." mendengar jawaban dari adik iparnya itu, Melvi tersenyum.
Mengangguk, kemudian berkata, "Bagus kalau gitu, dia emang lembut kalau sama orang yang disayanginya. Mau tahu nggak seperti apa Marvel dulu?" Shanika berbinar mendengar ucapan Melvi dan mengangguk.
"Mau, Kak." Ini adalah kali pertama Sha akan mendapatkan informasi kehidupan Marvel di masa lalu,dan langsung dari orang yang bisa dipercaya. Rugi rasanya kalau Sha menolak.
Melvi menegakkan punggungnya sebelum memulai. Perempuan itu juga sepertinya antusias ingin bercerita tentang bagaimana adiknya di masa lalu. "Marvel itu orangnya nggak banyak tingkah," kata Melvi mengawali cerita. "Sejak kecil,dia memang seperti magnet bagi banyak orang.” Melvi tersenyum sambil menerawang di masa itu.
“Dia nggak pernah kekurangan teman,apalagi kekurangan kasih sayang. Bahkan sejak SMP, biasalah puber pertama, udah banyak temen-temen ceweknya naksir-naksiran sama dia.Tapi Marvel itu pemilih. Saking pemilihnya, dia nggak pacaran juga. Ada yang pernah nangis juga gara-gara saking cintanya sama Marvel.” Melvi tertawa mengingat seorang gadis yang menangis di depan sekolah Marvel dengan Marvel berada disamping gadis tersebut.
Sha tak menyangka jika begitulah Marvel ketika masih muda dulu. Dilahirkan mejadi seorang pangeran, nampaknya hal semacam itu memang tak asing lagi. “Dia emang gitu, baik sama semua orang. Dan dia juga royal. Jadi banyak temannya yang suka.” Kalau masalah royalitas seorang Marvel, tak perlu diragukan lagi. Waktu belum menikah saja, lelaki itu bahkan ingin terus memberikan uang kepada Sha untuk kebutuhan perempuan itu. Hanya saja Sha menolaknya. Dia belum sah menjadi istri seorang Marvel, jadi kebutuhan Sha, belum menjadi kewajiban Marvel.
“Gimana kabar cewek itu, Kak?” membahas masalah seperti ini, memang menyenangkan bagi para perempuan, dan Sha sudah mulai antusias sepertinya.
“Mereka tetap berteman. Tapi ya gimana lagi, namanya cewek udah terlanjur cinta, diajak temenan doang juga nggak mau. Tapi bagi Marvel, itu bukan masalah besar.” Melvi memang menanyakan apa yang terjadi selanjutnya setelah kejadian tersebut, karena memang Melvi melihat dengan jelas bagaimana gadis tersebut sesenggukan di samping Marvel. Jarak umur Marvel dan Melvi hanya dua tahun, dan mereka bersekolah di sekolah yang sama, yang otomatis Melvi tahu bagaimana tingkah Marvel.
“Ketika sudah SMA pergaulan Marvel meluas,sampai-sampai dia juga berteman dengan preman pasar."Sha seketika menghentikan kunyahannya mendengar informasi yang baru di dengarnya.
"Preman pasar?" tanya Sha memastikan. Apalagi mengingat jika Marvel terlahir dari keluarga kaya, biasanya orang tua mereka akan membatasi pergerakan dari anak-anaknya.
Tapi senyum Melvi terbit membenarkan apa yang baru saja di ucapkan. "Bener! preman pasar." Kata Melvi. Dan Sha hanya bisa terdiam mendengar itu semua. "Papa sama sekali nggak pernah melarang kami bergaul dengan siapapun. Tetapi, kami harus menaati aturan yang papa buat." aturan lagi, batin Sha. Kenapa keluarga Nareswara suka sekali membuat aturan. Begitu pikirnya.
"Kami boleh berteman dengan siapapun, bergaul dengan siapapun, tapi kami tidak boleh terlibat dengan apa yang teman kami lakukan.” Melvi menyamankan duduknya sebelum melanjutkan.
"Narkoba, free s*x, berantem, dan minuman keras adalah larangan mutlak untuk kami. Tapi suatu hari, Marvel dibawa ke kantor polisi karena kasus narkoba." Sha kaget tentu saja. Dalam otaknya langsung menyimpulkan jika Marvel dulunya adalah pemakai barang haram tersebut. Sha bahkan sudah sepenuhnya menatap kakak iparnya dengan sangat fokus.
"Saat polisi menghubungi kami waktu itu, Mama langsung pingsan. Sedangkan Papa hanya menanggapi dengan diam tanpa mengatakan apapun. Singkat cerita, Marvel dibebaskan karena negatif narkoba.” Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi Melvi bersumpah untuk jangan sampai terjadi lagi.
"Saat Marvel sudah keluar dari kepolisian, Papa cuma mengatakan kalimat yang sampai sekarang masih aku inget banget. Papa bilang, 'semua manusia itu dilahirkan sama, yang membedakan dari setiap orang adalah pilihan hidup mereka. Memilih menjadi orang baik atau menjadi orang yang buruk. Jangan berteman dengan orang, karena dari keluarga yang bagaimana dia dilahirkan, atau mengotak-kotakkan kaya dan miskin. Tidak semua orang yang terlahir dari keluarga kaya lantas orang tersebut memiliki kepribadian yang baik. Dan karena dia dari keluarga biasa kemudian kepribadian mereka buruk. Tidak seperti itu. Kesopanan, tingkah laku, dan bisa menghargai orang lain. orang seperti itu lah yang pantas kita jadikan teman, dan kita hormati’ begitu katanya.” Sha benar-benar seperti mendengarkan seorang guru menerangkan mata pelajaran.
"Dan dari sanalah kami paham jika Papa membiarkan kami berteman dengan siapapun dan dari kalangan manapun. Karena Papa ingin kami bisa mengerti sendiri mana yang seharusnya kami dekati dan mana yang tidak seharusnya kami dekati. Agar kami tahu mana yang baik dan mana buruk, dengan cara melihat langsung. Bukan berarti Papa membiarkan kami begitu saja, Papa juga selalu menasihati kami. Ibarat layang-layang, di lepaskan, tapi tetap ada tali yang harus dipegang erat supaya tetap terkontrol." Shanika hanya mampu mengatupkan bibirnya erat, tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
Melvi yang melihat Sha terdiam menggenggam tangan perempuan tersebut erat. "Di keluarga kita memang banyak aturan, tapi percayalah semua itu demi kebaikan kita."
Shanika balas menggenggam tangan Melvi dan mengangguk. "Iya, Kak."Sha paham, jika aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengamankan diri mereka dari hal yang buruk.
•°•