BAB 1
Suara dentingan pada atap rumah terdengar begitu ramai. Mungkin hujan sedang rindu, ia kembali menyapa malam dengan terburu-buru. Lilith menarik tirai setengah menutupi jendela, menatap keluar pada taman sederhana di depan rumah yang basah. Dulu ia hanya hamparan rumput hijau nan lebat, karena terlihat kosong dan hampa, Lilith bersama Lusy, tetangga yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, menyulapnya menjadi sebuah taman yang layak dinikmati oleh mereka.
Di bawah sinar lampu jalan yang remang, taman kecil yang diguyur hujan terlihat begitu mengagumkan. Satu kursi panjang berwarna biru kelabu terletak di sisi kiri taman. Setiap sisi lainnya ditanami berbagai macam bunga, melingkari luas taman itu. Tumbuhan hijau juga menjalar di pagar depan rumah.
Seperti malam-malam biasanya, Lusy selalu berinap di rumah Lilith, menjadi teman tidur Lilith, tempat curhat tanpa pendapat. Meski hanya mendengarkan, Lilith tetap menyukai kehadirannya. Mencari makanan ringan, dan menonton acara horor.
Lilith membuka sedikit jendela, membiarkan udara dingin masuk ke dalam kamarnya. Mata Lilith memejam merasakan ketenangan. Perlahan, ada rasa rindu yang menyelinap bersama aroma hujan. Ia hanya menikmatinya, menyadari seberapa kuat rindu itu menggebu. Sampai ia merasakan sebuah tangan menepuk bahunya. Itu pasti Lusy. Ia membuka mata, berbalik ke belakang.
“Tuh, si Abi telepon," ujarnya sembari menyodorkan ponsel milik Lilith
Ah, itu dia, sebuah rindu yang tersampaikan.
"Lilith,” suara Abi muncul di balik telepon. Lilith mengangkatnya, seraya menatap Lusy yang berjalan kembali ke meja komputer.
"Iya, Bi?" jawabnya.
"Kamu di rumah kan?"
"Yap, memang kamu di mana?"
"Menuju rumah kamu."
"Hei, ngapain? ini lagi hujan."
Tuutt... (sambungan terputus)
Lilith hanya menghela napas pelan, meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lantas mengambil duduk di samping Lusy.
Abimanyu Nareza, salah satu peran utama di cerita antik ini. Dia sahabat Lilith sejak SMP. Ah, tepatnya saat Lilith pindah dari Jakarta ke Jogja. Saat itu Lilith masih berusia Tiga belas tahun. Entah apa yang membuat mereka begitu akrab. Tahun ketiga Lilith berada di sini, dia menjadi teman bermain yang menyenangkan. Sore itu ia dengan sepedanya menuju rumah Lilith, hanya sekadar menyapa. Namun setelah ia melenggang pergi, Lilith menyadari ada sesuatu yang ia tinggalkan. Sepucuk surat terbungkus amplop berwarna biru. Bocah itu, ada-ada saja. Malamnya, pipi Lilith dibuat merona setelah membaca suratnya. Sesuatu yang hangat menyelinap di rongga d**a. Esok paginya Lilith bertemu dia di Sekolah. Mungkin sengaja, dia duduk tepat di belakang Lilith. Menggoda dengan beberapa pertanyaan seperti, "Kamu sudah baca surat itu? Sekarang kamu bisa ajarin aku buat gambar hati nggak? Kalau kamu nggak bisa, aku pinjam hati kamu saja, nanti aku kembalikan ... Kalau bisa." Sial, kenangan tiga tahun silam itu masih sama manisnya, membuat semburat merah di pipi.
"Abi mau ke sini, Kak?" tanya Lusy, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Mungkin."
"Kalau sudah seperti ini, biasanya sih aku jadi obat nyamuk lagi,” tebak Lusy.
Lilith terkekeh, membenarkan ucapan dia. Pada dasarnya, setiap Abi berkunjung ke rumah, Lilith selalu meminta siapapun untuk menemani mereka agar tidak berduaan saja. Entah itu Lusy, Rio, atau siapa pun asal mereka tidak duduk berdua di halaman rumah. Berjaga untuk menghindari fitnah omongan tetangga.
"Nggak mau ya?"
"Mau kok, Lusy mana bisa nolak permintaan Kak Lilith, yang ada Lusy suruh bayar biaya makan, mandi sama nginep di sini."
Sepersekon kemudian mereka tertawa singkat. Menyetujui fakta bahwa rumah Lilith juga tempat untuk Lusy pulang. Bukan karena Luy tidak betah di rumah, bahasa halusnya, Lisy hanya mengindari desakan Mamanya yang meminta untuk tidur sendiri di kamar. Meski sudah besar, Lusy itu penakut, tapi selalu penasaran dengan hal berbau mistis. Di dunia ini, banyak sekali manusia seperti Lusy, Tak ayal, Lilith pun begitu.
Suara ketukan dari jendela terdengar. Secara sinkron Lilith dan Lisy menoleh ke sumber suara.
"Tuh, Abi ngode. Gih, buru keluar!" perintah Lusy.
Lilith menyambar hoodie merah yang tergeletak di bahu kursi, karena Lilith tahu Abi pasti kedinginan dan hanya mengenakan kaos biasa. Lilith keluar kamar diikuti dengan Lusy di belakangnya.
Cowok dengan tinggi 170 cm itu tengah duduk di kursi kayu yang berada di serambi rumah. Dia menyambut Lilith dengan senyum hangat dan lesung pipit khas miliknya. Kontur wajah yang tampan, dengan rahang dan alis yang tegas. Presensinya selalu membuat jantung Lilith berdegup kencang. Membuat iris matanya tak bosan menatapnya. Namun, sebenarnya bukan Abi saja, Rio juga sama tampannya, tetapi entah mengapa Lilith tak jatuh cinta padanya.
"Tatapan mata kamu terlalu intens, aku takut kamu jatuh semakin dalam dengan pesonaku," ujarnya, membuat Lilith menarik senyum ranum dan duduk di seberangnya. Sedangkan Luusy duduk di samping kiri Lilith, melanjutkan bermain game, atau kadang dia beralih bermain IG.
"Aku kira kamu cuma pake kaos aja, makanya aku bawa hoodie." Lilit meletakkan hoodie itu di atas meja.
"Kamu takut aku kedinginan?" Lilith mengangguk, mengiyakan. "Aku malah takut kalau kamu yang dingin," lanjutnya, lantas membuat Lilith menatap pakaian sendiri. Sama sekali tidak dingin.
"Aku nggak kedinginan, kok."
"Sikap kamu, Lith."
Lilith mengernyit, menatap wajah Abi dari samping. Tidak paham dengan arah pembicaraan itu. Sedangkan yang ditatap hanya melayangkan pandang pada langit-langit rumah.
"MEmang sikap aku dingin ke kamu?"
Abi menggeleng, ia menoleh ke arah Lilith, menatap netra Lilith begitu pekat.
"Belum. Tapi entah nanti, saat kamu mulai merasa tersakiti," ujarnya dengan nada merendah, sedikit ragu. Dari tatapan matanya, seperti ada kegelisahan di sana.
Kepribadian Abimanyu memang sulit ditebak. Itu sebabnya, Lilith selalu menganggap semua perkataannya misterius. Lilith sering memperhatikan bagaimana cara dia berbicara, mulai dari gestur tubuh sampai tatapan matanya. Ibaratkan kata itu adalah fana, sedangkan tatapan matanya adalah nyata. Begitu caraku menilai Abi.
Lilith tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dari perkataannya. Namun kali ini memang rasanya berbeda, sedikit membuat hati Lilith sedu. Presensisanya seperti menyimpan banyak ragu.
"Jadi, kamu ada rencana mau nyakitin aku?" tanya Lilith dengan nada sedikit kecewa. Abi tersenyum simpul, seakan ucapannya adalah lelucon semata.
"Untuk apa aku nyakitin kamu?"
"Untuk membalaskan dendam, mungkin."
"Dendam apa?"
"Dendam karena aku pernah menduakan kamu."
Raut wajah Abi berubah. Dengan tatapan datar, dia menatap Lilith dalam. Mungkin sedang mencari sebuah ketulusan di sana. Lilith berharap dia menemukannya, karena seberapa jauh kaki Lilith melangkah, hatinya tetap terpaut padanya.
"Ada satu hal yang aku temui dari diri kamu."
"Apa?" Lilith menelisipkan rambut ke belakang telinga, siap mendengarkannya.
"Kamu itu jujur. Bahkan ketika kamu sempat sama yang lain, kamu sempetin bilang ke aku."
Abi memaksa tersenyum, mungkin dia sedikit lega dengan fakta kejujurannya meskipun hal itu menyakitkan. Namun hati mana yang tidak sakit jika gadis yang dia cinta justru membagi hatinya dengan yang lain. Bodoh. Ya, Lilith memang bodoh sempat mendua, sebenarnya jika diperjelas itu bukan persekingkuhan atau apapun, Abi barangkali cemburu karena Lilith sangat dekat dengan Rio.
"Aku bilang karena kamu terlalu bodoh dalam hal menyadari."
Abi mengernyit, "Maksud kamu?"
"Seandainya aku nggak bilang, pasti kamu nggak akan tahu sudah sejauh mana hubungan aku sama dia. Padahal kita setiap hari ketemu, kamu juga selalu cek HP aku. Kenapa kamu nggak sadar?" ujar Lilith mengintimidasi, seakan keburukannya adalah kesalahan Abi.
"Yah, mungkin karena kamu sudah profesional dalam hal itu."
Abi mengalihkan pandangannya ke arah lain, Lilith tahu ada rasa kecewa yang terselip di hatinya. Sebenarnya, Lilith melakukan itu hanya ingin membuat Abi cemburu. Untuk melihat seberapa besar rasa yang dia punya untuk Lilith.
"Rasanya seperti apa, Bi?"
"Aku nggak bisa mendeskripsikannya, karena luka itu sebuah rasa bukan sekadar kata. Nanti kamu tahu, kok."
"Aku juga tahu, apa kamu pikir cuma kamu doang yang ngerasain sakit?"
"Semua orang pasti merasakannya, Lith. Bukan hanya aku atau kamu. Bahkan mereka yang nggak menjalin hubungan juga merasakan itu," ujar Abi dengan nada sedikit meninggi.
Lilith hanya mengangguk mengerti. Sudah cukup pembahasan ini berhenti sampai di sini. Jika dilanjutkan mungkin kami akan berakhir dengan saling mendiamkan. Meski sebenarnya dalam perdebatan apapun Abi selalu dalam posisi yang sama, mengalah. Biasanya Abi akan membiarkan Lilith mengoceh panjang lebar, entah dia mendengarkan atau tidak, jika Lilith selesai mengoceh maka dia akan bertanya, "Sudah selesai?" menyebalkan memang, selalu itu respon yang Lilith dapat. Tidak bisa dipungkiri juga, karena api tidak bisa dibalas dengan api. Abi sudah paham bagaimana cara menenangkan Lilith.
Mereka lantas saling diam, hanyut dalam hening malam. Hujan sedikit mereda, hanya menyisakan rintiknya saja. Sedangkan Lusy sibuk dengan game-nya, mengoceh sendiri.
"Bintangnya terang banget, ya?" ucap Abi tiba-tiba.
"Mana ada bintang? Jelas-jelas hujan," respons Lilith hampir tanpa intonasi.
Dapat dilihat dari ekor matanya, Abi menatap Lilith. "Ada, kamu." Ia menarik kuat atensi Lilith untuk balik menatapnya.
"Gombal! Nggak usah sok romantis."
"Jadi kamu mengakui kalau aku romantis 'kan?"
"Nggak."
Abi tersenyum, "Kamu tahu bintang sirius?"
"Bintang yang paling serius?"
Abi terkekeh, "Bukan. Bintang sirius itu bintang yang paling terang di langit dengan magnitudo -1.47," jelasnya.
Lilith hanya ber-oh ria, lantas mulai menatap Abi kembali.
"Bagiku kamu itu bintang sirius, paling terang di hatiku."
"Basi, bi!" Lilith sontak memukul bahu Abi. Meski begitu, Lilith merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya ketika satu tangannya meraih lengan Lilith, untuk mengusap punggung tangannya.
Lilith tersenyum, merasakan euforia yang mengguncang d**a. Sudah ku bilang 'kan, Abi memang tahu cara mengembalikan suasana.
Ia mengalihkan pandangannya ke samping Lilith, menatap Lusy yang masih setia dengan posisinya. Lusy selalu serius jika sudah bertemu dengan game. Terkadang jika sedang libur, mulai dari fajar sampai senja tiba, Lusy berada di rumah Lilith. Menghabiskan waktu di depan komputer.
"Kebodohan apa lagi yang kamu lakukan Rio?!!" gerutu Lusy merasa frustrasi. Disusul dengan tawa khas Rio dalam match yang sedang berlangsung tersebut. Ah, iya, Rio ini seusia dengan Lusy dan mereka satu kelas.
Kebetulan Lusy tidak mengenakan earphone, jadi mereka bisa mendengar dengan jelas suara game, juga suara dari timnya.
Setiap malam Lusy selalu main bersamabdengan Rio, cowok yang diam-diam menyimpan perasaan pada Lilith. Namun sayang, Lilith hanya menganggap Rio sebagai adik. Sebab bagi Lilith, mana bisa seseorang seperti Lilith mencintai Rio, anak dari keluarga Bahtera yang jelas-jelas sangat kaya raya. Cinta Lilith memang serumit itu. Dia terlalu membutakan cintanya untuk seseorang, sampai dia tidak sadar ada cinta lain yang sedang memperhatikannya.
"Kenapa, Lus?" tanya Abi.
"Teman aku itu! Bodoh banget main game-nya," cecar Lusy.
Sontak membuat merrka tertawa. Mendengarkan ocehan mereka ketika sedang main barsama benar-benar seru. Abi juga menyukai game, tapi tidak semaniak Lusy dan Rio.
"Terus?" tanya Lilith mulai penasaran.
"Ya aku tabrak lah dia dari belakang, Rio bodoh nggak ngertiin posisi Lusy."
"Elo yang nggak ngertiin perasaan gue, Lusy!" seru Rio dalam game tersebut, sementara Lusy berdecak sebab tahu bahwa Rio baru saja menyindir Lilith.
"Nyesel aku jadiin kamu partner, Yo!" gerutunya.
"Aku juga nyesel nglindungin kamu terus."
Astaga, Lusy rasanya ingin terbahak sajam "Ngelindungin apanya, orang kamu nyakitin Lusy." Pada akhirnya Lusy mengikuti drama yang dimainkan Rio.
"Ya kalau pun kamu terluka karena orang lain, kamu minta tolong aku, kan?"
"Ih Rio nggak ikhlas banget nolongin Kak Lilith, eh Lusy." Lusy menutup mulut, menatap Abi dan Lilith yang terdiam.
"Aku ikhlas, Lus. Masalahnya kamu juga nggak pernah ngertiin posisi aku. Aku juga terluka, kamu nggak pernah sedikit aja nanya keadaan aku. Kamu tuh Egois, Lus!" oceh Rio terbawa perasaan.
"Tau lah, Lusy mau main solo!" rengek Lusy yang pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari permainan tersebut sebelum Rio jauh bertindak dan Lusy bisa-bisa dalam masalah.
"BODO AMAT! NANTI JUGA KALAU KAMU KESEPIAN NGAJAK AKU LAGI, YAKIN DEH!" Rio menyela, mungkin kesabarannya sudah melebihi batas. Atau bisa saja dia lega setelah mengungkapkan kekesalannya. Namum tetap saja, Lulith tidak peka dan menganggap Rio marah karena kerja sama game-nya yang tidak berjalan sesuai rencana.
"Ya gitu, kalau yang satu main pake perasaan dan yang satu main pake skill. Yang satu ngode, sedangkan yang diberi kode nggak pernah peka," ujar Abi terkekeh, namun ia diam-diam tersenyum hampa pada Lilith.
"Apaan sih, Abi. Perasaan ada itu untuk dijaga bukan untuk dipermainkan," sela Lusy.
Lilith tersentak beberapa saat. Wow, Sejak kapan si maniak game ini mulai mempelajari kata puitis?