"Maaf, Lith. Hari ini Abang sibuk banget, kamu hubungi Kak Eri saja, ya."
Lilith tersenyum getir kemudian menghela napas. Jika sudah begini, ia hanya bisa menerka tentang kesibukan abangnya yang agak tak wajar sebab Kak Eri pernah mengatakan pada Lilith jika si Jonathan Tora, abang Lilith, selalu sibuk bahkan sampai satu minggu tidak pulang ke rumah. Lilith hanya penasaran, kesibukan seperti apa yang tengah dilanda Tora sampai-sampai membiarkan istrinya selalu sendiri di rumah. Eri, jika ditanyai juga selalu menjawab setengah-setengah, seperti ada hal yang ditutupi.
“Oke, Bang.”
Lilith segera memencet tombol merah, memutuskan sambungan telepon mereka yang tiba-tiba terasa begitu canggung. Lilith tinggal di Yogya bersama Nora. Lilith anak terakhir setelah Tora. Abang pertamanya yang tinggal di Tangerang bersama istrinya. Kelas nyaris kosong, Lilith bergegas untuk keluar. Namun langkah kaki Lilith menjadi ragu melihat awan kelabu. Setelah petir menyambar, hujan turun begitu deras. Entah hanya kebetulan atau memang hujan itu selalu mewakilkan perasaan, ia selalu turun di saat jiwa ini sedang dilanda gelisah.
Sembari menunggu hujan reda, Lilith memutuskan untuk berbelok—menuju perpustakaan yang juga tak banyak penghuni. Lilith menyapa Mbak Intan, dia penjaga perpustakaan yang terkenal dengan kepribadian hangatnya.
"Tumben nggak bareng Lusy, Lith?"
"Dia masih ada jam tambahan mbak," sahut Lilith. Mbak Intan hanya menganguk, ber-oh ria.
Lilith berjalan mengitari rak-rak buku. Setelah membaca salah satu blog cerita tentang mitologi Yunani, Lilith jadi antusias untuk membaca kisah mitologi yang lain. Hingga akhirnya netra Lilith menatap pada buku bersampul cokelat dengan tulang buku bertuliskan "Mitologi Empusa" di rak paling atas.
Lilith berjinjit berusaha menggapainya, namun tak sampai. Ia edarkan pandangan kesekeliling. Tapi nihil, tidak ada alat bantu apa pun.
"Mitologi Empusa itu tidak sepopuler kisah mitologi yang lain."
Lilith terperanjat, mundur otomatis beberapa langkah, sampai ia merasa tangan lain menahan punggungnya. Lilith berbalik, menempelkan punggungnya pada rak buku. Menatap presensi cowok yang sangat Lilith kenak dengan baik. Dia memiliki kulit putih bersih, seperti rajin luluran setiap hari. Kontur wajahnya menarik, dia masuk kategori tampan menurut Lilith. Cowok itu tersenyum datar, seperti tidak pernah melakukan olahraga melengkungkan bibir sebelumnya.
"Hantu, ya? Datang tiba-tiba," protes Lilith.
"Nggak ada yang datang tiba-tiba kalau kamu menyadari kehadirannya ... Seperti cinta."
Lilith berdecak. Bersandar pada rak dan menatap cowok di hadapannya ini. “Kenapa kamu di sini? bukannya ada kelas tambahan?”
Derio Bahteta tertawa lirih, kemudian menghela napas. "Kata siapa ada jam tambahan? Ah, Lusy bilang ke kamu kalau dia ada jam tambahan? Enggak kok, cuma dia. Karena dia lagi remidi."
Lilith mengernyit, kemudian lantas mengerti atas apa yang sedang terjadi. Sebab bila nanti mamanya Lusy menelepon, Lusy berharap Lilith akan mengatakan pada mamanya jika Lusy sedang mengikuti jam tambahan. Jadi mungkin bagi Lusy, daripada membohongi mamanya dan kena marah dua kali, Lusy akan menggunakan Lilith untuk bermain aman. “Oh, jadi begitu?”
“Sudah? hanya itu? kamu nggak kecewa karena Lusy berbohong?” Rio jelad memprovokatif.
“Enggak, karena aku tahu alasan Lusy.”
Rio lantas tertawa. “Lusy itu, agak sembrono, ya? Dia pasti berharap kali ini kamu bisa menyelamatkam dia dari ocehan mamanya jika dia mendapat hasil yang tidak bagus.”
Lilith mengangguk-angguk. "Oke. Kalau gitu tolong ambilin buku itu," Lilith berbalik, menunjuk buku yang Lilith mau tadi.
"Empusa itu bisa dikatakan setan cantik. Dia berada di bawah kontrol Dewi Hecate. Parasnya cantik, taringnya tajam, rambutnya berapi, sayapnya seperti sayap kelalawar." Rio menjelaskan. Sementara Lilith balik menghadapnya lagi. “Apa kamu tuli? Aku meminta diambilkan, bukan diceritakan atau sekadar diberi spoiler!” protes Lilith.
"Mendengar kata cantik, lelaki mana yang nggak tertarik? Empusa senang menyamar sebagai wanita cantik yang normal dan menggoda lelaki yang melakukan perjalan sendiri. Dia akan membacakan mantra, jika lelaki itu tertidur, Empusa akan balik ke wujud aslinya. Dia akan memakan daging dan darah lelaki itu. Sebagai pelajaran untuk kita, paras cantik tidak menjamin hati yang baik." Jelasnya menutup cerita.
Lilith menatap Rio kesal. Kepalanya seperti hendak bersungut, namun ia menahannya. Menjaga image kalem di depan Rio. Meski sebenarnya tidak perlu lagi, sebab Rio juga sudah tahu bagaimana Lilith Himalaya.
"Aku minta diambilin bukunya, bukan diceritain!" tukas Lilith kesal.
"Enak kan sudah aku ceritakan, kamu jadi nggak perlu baca buku itu lagi."
Meski dia berkata begitu, dia tetap mengambilkan buku itu untuk Lilith. Lilith meraihnya sedikit kasar. "Aku tetep mau baca!"
"Ya terserah, itu hak kamu. Tapi menurutku, kisah nggak akan seru kalau diceritakan dua kali." Rio melipat tangan, menundung menatap Lilith dengan gurat senyuman yang tersimpan. “Kamu kenapa, sih? hari ini seperti ada awan mendung di kepalamu.”
Seketika hening. Mereka terdiam dengan tatapan masing-masing. Hanya ada suara rintik hujan yang mulai reda. Kini aku berada diantara ratusan buku, dan aroma hujan perlahan menyeruak masuk ke dalam rongga hidung Lilith. Jika sudah berhubungan dengan hujan dan buku jiwa Lilith pasti kembali tenang. “Nggak, kok, Yo. Aku cuma lagi PMS? Entahlah.”
Lilith melirik arloji, menunjukkan hampir jam 4 sore. Ya Tuhan, sudah berapa lama dia di sini? Lilith segera tersadar dan bergegas pergi dari sana tanpa meninggalkan sepatah kata untuk cowok yang sudah menceritakan kisah mitologi itu.
Setibanya di ambang pintu, Mbak intan memanggilnya.
"Lith. Ini ada titipan buku dari Abi," Mbak Intan menyodorkan sebuah buku berwarna putih dengan font judul yang dicetak tebal, "Tips Move On"
Lilith mengernyit bingung. "Serius Abi nitipin buku ini?"
Mbak Intan mengangguk antusias, "Tadi sebelum Abi pulang duluan, dia nitipin buku ini, katanya takut nanti nggak ketemu sama kamu. Jadi dia nitipin ini ke Mbak, karena kamu kan pasti setiap hari ke perpus."
Lilith diam sejenak untuk berpikir secara logis. Apa maksud dari semua ini? Lilith bahkan tidak butuh buku tips move on seperti ini.
"Memang Abi mau kemana? Dia nggak bilang apapun sama aku."
"Mbak nggak tau, Lith. Katanya, di dalam ada suratnya, baca aja."
Tidak ada yang bisa Lilith tanyakan lebih pada Mbak Intan. Ia memilih pamit dari sana—menuju garasi, mengambil motor, melajukanya dengan kecepatan standar sampai rumah.
Tidak akan terjadi hal seperti ini jika Abi tidak mendadak ingin pergi ke suatu tempat. Tapi jika benar Raga ingin pergi dia pasti mengabarinya, menjelaskannya perihal dia akan pergi ke mana, tempat apa yang hendak ia tuju.
Lalu buku yang dia titipkan ini, untuk apa? Apa dia benar-benar pergi? Dia sedang menyuruh Lilith untuk melupakannya? Abi tidak pernah semisterius ini.
“Tips move on itu hanya untuk orang yang sedang patah hati ditinggal pergi. Bukan untukku yang sedang menunggu kabar darimu. Kamu tidak pergi kan, Bi? Kamu hanya menghilang sebentar. Aku percaya nanti kamu kembali. Jadi tidak ada kewajiban untuk membaca buku yang saat ini sedang tidak kubutuhkan.” Batin Lilith menjerit, meyakinkan logikanya bahwa semua akan baik-baik saja.