Sejak pulang dari sekolahnya, Lilith merasa jadi semakin kesepian. Ia tiba di rumah tepat ketika matahari tenggelam. Sementara mamanya sudah menyiapkan sup ayam yang masih mengepul untuk menghangatkan perut Lilith.
“Kamu pulang telat lagi, Lith?” tanya Wulan ketika anaknya sudah berada di meja makan dan tengah menyendok nasi.
“Iya, Ma.” Lilith menjawabnya dengan agak lesu.
“Kenapa? Kamu nggak mandi dulu?” tanya Wulan karena merasa heran.
“Laper, Ma. Nanti Lilith mandi setelah makan, kok
“Tapi baju kamu basah gitu, nanti masuk angin, lho.”
Lilith tersenyum masam ke arah Wulan, “Kalau perutnya udah di isi, angin nggak bakal masuk. Justru kalau langsung mandi, pasti angin punya akses lebih besar buat masuk ke tubuh Lilith,” jelasnya mencoba bergurau.
Wulan cuma bisa menggeleng-geleng dan menghela napas singkat. “Kamu hujan-hujanan lagi, ya?”
“Nggak, kok, Ma. Cuma kehujanan dikit tadi pas ngejar angkot.”
Alis Wulan mengkerut. “Lho, kamu kan bawa motor, motornya kamu tinggal?”
Lilith mengangguk selagi menyendokkan nasi ke piringnya. “Lupa kalau punya motor.”
Wulan menepuk jidat sendiri. “Tapi kamu nggak lupa kalau punya pacar?” Melihat Lilith yang terpaku di tempat dan berhenti mencicip sayurnya, Wulan jadi suka melanjutkan, “Terus motornya gimana? Kamu telepon satpam, dong. Biar diamanin, kalaun dicuri gimana?”
“Minta lagi sama bang Tora,” jawab Lilith enteng. namun kemudian ia menambahkan, “Nanti Rio yang ambil motornya.”
Wulan menarik kursi dan duduk di samping Lilith. “Kok Rio? Abi ke mana? Pantes kamu tadi kaget, ternyata kamu juga lupa kalau punya pacar, ya?
Lilith mengendikkan bahu, membuat Wulan tersenyum sebab mengerti jika Lilith ada masalah dengan Abi.
“Ya begitu, lah.”
Wulan lagi-lagi mendesah melihat kelakuan anaknya. Ia bangkit untuk mencuci peralatan masak yang tadi ia gunakan. Tak lama, seseorang mengetuk pintu dan memanggil nama Lilith. Dari suaranya saja, Lilith sudah mengenalinya. Jadi setelah menelan makanannya, Lilith berteriak, “MASUK SAJA! LILITH DI DALAM!” yang mana membuat Wulan berdecak dan menghampiri pintu.
“Eh, Rio. Masuk dulu, yuk. Lilith lagi makan.”
“Iya, Tan, kedengeran, kok. Kalau teriak-teriak begitu, berarti lagi makan.”
Rio pun masuk, berdiri di samping Lilith yang masih menyantap makanannya.
“Kamu nyuruh aku ngambil motor, kontaknya mana?”
Lilith berhenti, ia menyunggingkan senyum masam dan menatap Rio. “Ya ampun, aku lupa. Ada di tas, sebentar aku minum dulu.” Lilith meminum air putih dan bergegas ke kamar untuk mengambil kunci motornya.
Wulan dan Rio cuma bia mendesah dan pasrah.
“Kamu sudah makan, Rio?” Wulan mendekati Rio.
“Sudah, Tante, baru aja selesai.”
“Bohong, makan dulu sana bareng Lilith.”
“Serius, Tan. Sudah kenyang.” Rio menepuk-nepuk perutnya yang sengaja dibusungkan agar terlihat gendut.
Wulan tertawa. “Ada-ada saja kamu. Ya sudah deh, tante nggak maksa.”
Tak lama Lilith keluar dari kamarnya dan berjala seraya melempar kunci motor kepada Rio yang dengan lihai dan santai Rio tangkap.
“Terima kasih, ya,” kata Lilith seraya menepuk bahu Rio.
“Nggak masalah, aku pergi dulu, ya!”
Lilith mengangguk.
“Hati-hati di jalan, ya, Rio. Maafin anak Tante ngerepotin kamu,” ujar Wulan.
“Nggak masalah, Tante. Sudah biasa, kok.” Rio melirik Lilith yang memicingkan matanya.
“Sudah biasa aku repotin, maksudnya?”
Rio tertawa, kemudian melenggang pergi setelah berpamitan.
Lilith yang sudah selesai makan langsung meletakkan piring kotornya ke wastafel dan mencucinya. Semetara itu, di ruang lain, Wulan mulai bericara panjang lebar menasihati Lilith.
“Lain kali kamu jangan kebiasaan begitu ya, Lith. Kalau ada masalah, walaupun mood kamu lagi nggak beres, usahakan tetap fokus dan berpikir rasional. Bisa-bisanya, sih, bawa motor tapi pulang naik angkot. Lain kalisSekalian aja kamu jual itu motor buat nyumbang renovasi gedung sekolah.”
Di dapur, Lilith menyahut dengan lirih, “Boleh juga, Ma. Ide bagus.”
“Kamu bilang apa, Lilith?”
“Nggak, kok, Ma, enggak. Lilith nggak bilang apa-apa,” sambar Lilith secepat kilat.
Sementara itu mamanya mulai mengoceh lagi. “Kalau nggak bisa fokus begitu terus, kamu jadi selalu merepotkan orang lain. Lagian kenapa, sih, Rio mau-mau aja ngambilin kamu motornya. Padahal motornya bisa dititipin ke satpam terus kamu berangkat bareng Rio atau Lusy.”
“Ya... namanya juga Rio lagi kurang kerjaan, Ma.”
“Jangan-jangan Rio suka lagi sama kamu.”
Lilith tersentak, matanya terbelalak, ia bahkan tersedak liurnya sendiri ketika Mama justru melanjutkan, “Duh, Lith, kamu suka juga sama Rio? Kamu mau selingkuh dari Abi? Tapi nggak masalah, sih, kan, selingkuh itu nggak diperbolehkan bagi hubungan yang sudah halal. Kadang Mama mikir juga, lho, orang yang pacaran itu sebenarnya kalau selingkuh nggak dosa, ya?”
“Ya ampun, Mama sempet-sempetnya mikir hukum orang yang berselingkuh dari pacar? sementara pacaran sendiri kan hukumnya haram.”
“Kamu tahu itu, tapi kamu sendiri juga pacaran. Mama juga dosa, nih, membiarkan kamu pacaran.”
Lilith kembali terpaku. Tapi ia mencoba menetralkan suasana. “Lilith nggak macam-macam kok, Ma.”
“Lith, jangankan macam-macam, tatap muka sama lawan jenis aja sudah dosa.”
Lilith mendesahkan napas. Ia memilih untuk diam tak menyahut dan berjalan ke kamarnya. Namun Mama justru berjalan di depan kamar Lilith. “Kenapa malah ke kamar? Sudah waktunya sholat magrib, bukannya ambil wudhu dulu.”
“Iyaaa, Ma. Iyaaaaa,” sahut Lilith dari dalam kamarnya dan kembali bergegas keluar kamar untuk mengambil wudhu dan menunaikan ibadahnya.