Karena tak bisa memilih, Lilith membiarkan dirinya pulang dengan perut yang super kenyang. Tak ada yang tahu kecuali Rio yang menertawakannya semalaman penuh. Sialnya, cowok itu malah memancing mamanya agar terus-terusan mengambilkan seafood untuk Lilith. Padahal entah sudah berapa banyak tatapan tajam yang Lilith layangka untuk Rio. Namun semakin Lilith banyak mengancamnya, semakin banyak Rio berhasil membuatnya kenyang.
"Lo padahal tahu banget gue juga harus berkunjung ke rumah Tante Tari!" omel Lilith ketika ia pulang dari rumah Rio dan menuju rumah Abimanyu. "Apa gue ajak Lusy, ya?"
"Lusy nggak bisa makan seafood, dia alergi, kan? Terakhir kali mukanya bengkak-bengkak gitu."
Oh, Lilith baru ingat. Anak itu doyan seafood tapi alergi makanan laut. Menurut Lusy, dia masih bisa memakannya kalau yang bengkak di area badan, bukan di wajah. Sebab bagaimanapun Lusy selalu ingin terlihat cantik dan imut. Bagi seorang wanita luka di wajah jelas lebih buruk daripada jerawat di b****g.
Jadi malam itu Lilith terpaksa mengatakan pada Abimanyu kalau sebenarnya dia masih kenyang karena sudah makan di rumah Rio. Jadi Abimanyu menyarankan untuk datang saja, walaupun sekedar mencicip. Lilith tetap tidak bisa, dia dan seafood seperti magnet. Walaupun perut sudah penuh seafood masih bisa nyelip kemana saja. Di sela-sela makan, Abimanyu berbisik, "Besok aku bantuin diet," katanya seraya tertawa.
Dan malam itu, karena perutnya terlalu kenyang, Lilith pun mengantuk. Ia akhirnya tidur dengan pulas bahkan sampai bangun kesiangan. Alhasil, pagi itu Lilith bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air besar. Lilith menelepon Flo untuk membuatkan surat izin tidak masuk sekolah.
Siangnya, Flo datang diantar oleh Rio untuk memberikan Lilith kisi-kisi yang bisa ia pelajari untuk ujian minggu depan. Lilith membuatkan Flo jus alpukat kesukaannya.
"Jadi alasan sebenarnya lo nggak masuk sekolah ini kenapa?" tanya Flo.
"Semalem gue diracunina makanan sama Rio," Lilith melirik Rio yang duduk di samping Flo. "Lo kenapa nggak langsung balik?"
"Mau memastikan kalo gue nggak difitnah lagi. Tapu ternyata gue malah difitnah di depan gue sendiri." Rio menepuk bahu Flo. "Lilith bohong, jangan percaya. Jadi semalem tuh dia kekenyanyan makan seafood di rumah gue dan di rumah pacarnya. Paginya dia mencret."
Lilith bahkan nyaris menimpuk Rio dengan bantal sofa. Namun cowok itu keburu pergi untuk kembalu ke rumahnya. Lantas tampak ada suara pot jatuh di antara sekat rumahnya dan Rio. Well, Lilith tampaknya belum mengatakan hal ini, kalau rumah Rio dan Lilith memang bersebelahan. Balkon mereka bahkan menyatu, itu sebabnya terkadang Rio tiba-tiba berada di balkon Lilith.
"Gue nggak tahu harus percaya sama siapa, tapi menurut gue yang paling logis emang ucapan si Rio," ujar Flo. Ia menyesap jus alpukatnya dan mulai menatap Lilith dengan serius. "Tau nggak? Tadi ada yang kesurupan sekolah kita. Kesurupan masal."
"Terus, terus, lo tau siapa yang nyurupin?" Lilith selalu tertarik dengan cerita horor seperti ini.
"Lo tau anak baru di kelasnya Rio?"
Lilith mengangguk. "Hila bukan sih? Dia deket sama Rio."
"Nah itu, jadi semenjak dia pindah, dia katanya digangguin. Dia kemarin katanya lagi foto pas di rumah sendirian, pas di cek lagi ada cewe di belakangnya, gak ada muka. Itu jelas banget sih, gue aja sampe merinding. Terus Hila juga bilang katanya setiap papanya pulang, kalau malem ada aja suara berisik di atas plafonnya. Dia ngomong sesuatu tapi cepet banget, kaya speed tiga kali lipat gitu. Serem nggak sih?"
"Serem lah gila!" Buli kuduk Lilith bahkan sampai meremang. "Lo liat dia dong?"
"Iya gue liat, sepantaran sama kita, sih. Gue juga sempet ngobrol sama si hantu itu. Dia baru aja bunuh diri sebulan yang lalu, seminggu sebelum keluarganya Hila pindah ke situ. Jadi pemilik rumah itu punya bisnis resto, dan si anaknya ini denger katanya dia mau dijadiin tumbal biar resto keluarganya laris. Miris nggak sih? yang lebih miris tuh, anak ini dari dulu emang nggak pernah diberlakukan adil sama kembarannya. Jadi dia masih ada dendam dan cewek itu milih buat bunuh diri. Keluarganya gila banget, ya—EH!" Flo tampak terlonjak kaget. Ia lantas menatap Lilith dengan serius.
"Kenapa?" Lilith mendada takut. Padahal ini siang.
"Nggak sih, lo di rumah sendiri, kan? Ada cewek di kamar mama lo." Lilith segera bangkit dan duduk di samping Flo. Ia bahkan meremat tangan Flo.
"Ih, Flo… nggak lucu ah bercandanya!"
"Rio sering dateng pas magrib gitu nggak?" Fli mengecilkan suaranya.
"Akhir-akhir ini iya, kenapa sih?"
"Rio bisa lihat dia kok. Sebentar, kok gue udah mulai paham ya?"
"Lo ngomong apa sih?" Lilith meremat tanga Flo.
"Lo tadi kan bilang si Hila ini deket sama Rio?"
Lilith mengangguk. "Kayanya Hila mau ngenalin cewek itu ke Rio supaya si Hila nggak diikutin cewek itu. Di rumah lo ada lukisan macan?"
Lilith mengangguk lagi. "Ada, punya abang gue."
Flo mengangguk-angguk. "Oke, gue paham. Hila ternyata egois juga, ya?"
"Maksud lo apa sih?"
"Enggak kok," Flo menghabiskan jus alpukatnya. "Besok lo ikut gue, ya?"
"Ke mana?"
"Ke rumahnya si Hila."
"Ngapain?"
"Nuntasin masalah ini. Soalnya gue kasihan sama lo dan Rio, sih. Ya walaupun lo nggak bisa lihat mereka, tapi tetep aja gue juga kasiha sama Rio yang nahan semua ini. Si Rio pasti nggak tenang ngebiarin lo sendirian di sini. Secara, dia juga mungkin ngerasa bersalah." Melihat kebingungan Lilith, Flo menepuk punggung Lilith dan berkata, "Nggak usah takut. Pokoknya besok gue jelasin. Gue juga yakin besok si Hila itu nggak akan masuk sekolah setelah tadi ada kesurupan masal."
Namun tetap saja, bagi Lilith tetap menyeramkan. Setelah Flo keluar dari rumahnya, jujur saja Lilith tidak berani di rumah sendirian dan ia memutuskan untuk pergi ke rumah Rio.
"Lo kenapa sih? kaya habis ngeliat hantu—" Namun Rio tak melanjutkan kalimatnya setelah menyadari sesuatu. "Ya udah lo di sini aja sampai mama lo pulang. Mama gue lagi nonton teve di ruang tengah, tuh. Gih, temenin." Lalu Rio berjalan begitu saja meninggalkan Lilith.
To be continued...