"Mau pulang bareng nggak?" tawar Abimanyu.
Mereka sedang berada di parkiran. Lilith sedang menunggu Flo, gadis itu sedang menemui guru BK untuk melaporkan kejadian kesurupan massal yang terjadi kemarin.
"Enggak deh, kamu pulang duluan aja, aku mau nungguin Flo."
Kemudian sosok Rio hadir di tengah-tengah mereka. Rio berdiri di samping Lilith tanpa mengatakan apapun. Jadi Abimanyu memaksakan bertanya, "Lo nggak pulang, Yo?"
"Pulang, tapi nanti," jawab Rio.
"Nungguin siapa?" tanya Abimanyu.
"Nggak nungguin siapa-siapa, emang gue mau ke suatu tempat aja."
Abimanyu tak bisa mendesakkan pertanyaan lagi, mesti sebenarnya ia agak curiga dengan kedua manusia di depannya ini. Namun Abimanyu cuma bisa mengangguk karena Danis sudah memekikkan namanya di depan gerbang sekolah.
"Ya udah, gue duluan yaa?!" Lalu ia segera menyetater motornya dan melenggang pergi.
Sementara di tempat, Lilith dan Rio saling pandang-pandangan. Sebelum pada akhirnya Rio berdeham dan kembali menatap lurus ke depan.
"Hila nggak masuk?" tanya Lilith guna mencairka suasana.
"Enggak, katanya sakit."
"Sakit apa?"
"Demam."
"Lo nggak jenguk?"
Lantas, Lilith dan Rio kembali berpandangan. Rio mendengus, nyaris menertawakan Lilith. "Terus ini lo pikir kita mau ke mana kalo nggak ke rumah Hila sama Flo?"
"Oh, iya," tanggap Lilith.
Tak lama menunggu, Flo datang. Sebenarnya kemarin malam Flo sudah bilang kepada mereka untuk tidak perlu membawa kendaraan masing-masing karena sepulang sekolah mereka akan langsung berangkat ke rumah Hila. Mereka pergi menggunakan taksi. Katanya, rumah Hila agak jauh, perlu menempuh jarak setengah jam dengan menggunakan kendaraan. Rio duduk di depan, sementara Flo dan Lilith duduk di belakang sopir.
"Gue udah bilang sepupu gue, Mas Niko sama Mas Raga, mereka mau nemenin gue ke rumahnya si Hila. For your information, guys, sepupu gue lebih tau soal gitu-gituan. Mas Raga juga udah bilang sama Kakek gue, jadi mungkin kakek gue juga bantu dari rumah," jelas Flo.
"Seserius itu, ya?" tanya Lilith yang tiba-tiba merasa merinding.
"Iya, gue sebenarnya nggak mau bahas orang itu karena takut dia kepanggil tapi Mas Raga ternyata udah di sana sama Mas Niko, lagi mantau aja gitu. Tapi kayanya lo perlu gue jelasin duli sebelum salah paham, ya?"
Rio tak bergeming di tempat, lelaki itu fokus pada jalanan.
"Seperti yang gue bilang kemarin, si Hila ini emang udah lama diikutin dia, gue tau kok, gue lihat. Dan gue rasa si Hila ini punya janji makanya dia ngebiarinin si cewek hantu itu ikut ke sekolah. Si cewek hantu itu suka sama Rio, dia bilang pernah lihat Rio di suatu tempat dan cewek itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan karena Rio juga bisa lihat dia, jadi si cewek itu beralih buat ngikut sama Rio. Karena Rio sering ke rumah lo dan Rio itu hm—"
"Nggak usah jelasin bagian itunya. Dia nggak bakal ngerti," serobot Rio. Wajahnya mendadak memerah.
Flo lantas mengerlingkan mata, namun ia mengerti. Sudah ku bilang, kan? kalau Flo adalah sosok yang mampu memahami dan mengerti. "Oke, jadi pokoknya cewek hantu itu agak cemburu sama lo karena lo deket sama Rio—"
"HAH?!" Lilith memekik.
"Stop! listen," Flo menarik perhatian Lilith pada ceritanya. "Dan di rumah lo ada lukisan macan, dia punya memori yang sangat berarti soal macan. Itu sebabnya kemarin gue lihat dia ada di depan lukisan lo itu."
"And for your information," Rio menatap Lilith melalui pantulam cermin depan. "Dia beberapa kali sempat nyoba masuk ke raga lo, tapi lo nolak dan karena akhir-akhir ini kayanya lo sering ngaji buat kelancaran ujian lo, dia kesusahan. Itu makanya setiap punggung sama leher lo berasa panas, dia lagi nyoba masuk. Makanya gue bilangin jangan pernah bengong, karena itu." Tak mendapat respons dari Lilith, Rio lantas melanjutkan. "Gue ngerasa bersalah, jujur. Tapi gue nggak tahu harus gimana. Gue udah nyoba bilang ke dia tapi dia agak bandel dan lumayan nyeremin. Makanya kemarin pas ada kesurupan masal itu, gue ngomong sama Flo. Gue kenal sama sepupu dia dan gue pikir, Flo bisa bantu."
"Kok gue jadi ngerasa nggak enak sama lo ya, Flo?" Lilith merengut.
"Hei, nggak kok, ini bukan kesalahan lo. Lo nggak berhak merasa bersalah atau nggak enak atas sesuatu yang nggak lo tahu dan nggak lo lakuin. Lo tahu kenapa gue tahu hari ini si Hila nggak masuk?"
Lilith menggeleng.
"Si hantu itu semalem kayanya ngegangguin Hila, soalnya gue bilang kalau Hila ini bohong. Rio bukan orang yang pernah dia temui, Rio cuma mirip aja dan dia nggak berhak buat ganggu kehidupan orang lain. Gue juga bilang ke dia, kalau manusia lebih kejam daripada hantu. Hila ngelakuin itu karena dia nggak mau diganggu dan seharusnya yang dia ganggu itu keluarganya yang udah berbuat jahat sama dia, bukan orang lain. Dibantu sepupu gue sih, seberani-beraninya gue, gue paling males kalo harus nasehatin hantu yang baru aja bunuh diri."
"Gila, lo kayanya bisa banget jadi konsultan bagi para makhluk gaib gitu, ya?" Lilith masih merasa takjub dan menggelengkan kepalanya.
To be continued...