Lilith tercengang bukan main lantaran begitu ia tiba, rumah Hila ternyata lebih besar dari dugaannya. Arsitektur rumah itu jelas terlihat seperti rumah-rumah jaman belanda. Menjulang tinggi dan jujur saja, Lilith mampu merasakan seolah rumah itu sudah lama tak ditinggali, meski ada orang di dalam, Lilith merasa aura rumah itu lebih mencengangkan dan menegangkan. Terutama ketika mata Lilith terpaku pada balkon rumah tersebut.
"Dia gantung diri di balkon itu. Jadi orang-orang bisa lihat," ujar Flo kala mereka berdiri di depan gerbangnya.
"Jangan bengong, ya!" ujar Rio.
Perlahan, Lilith merasa punggungnya agak berat dan terasa panas. Ah, benar, dia pasti kelelahan. Dia tidak sarapan dan makan siang. Mata Lilith jadi agak berat, namun ia yakin ia melihat seorang gadis berdiri di balkon tersebut. Lalu gadis itu perlahan naik ke atas pagar pembatas dan jantun Lilith mampu merasakan debaran yang begitu kencang, perasaan sakit dan luar biasa perihnya sampai ia ingin menangis dan berterjak.
Lilith maju satu langkah dengan ragu, ia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Lilith merasakan perasaan sedih itu seolah berada di sekitarnya. Benar-benar gelap dan menyiksanya. Lilith merasa semakin sedih dan sakit atas hidup yang kini dijalani. Lilith mendadak ingin mati dan membalas dendam kepada orang-orang yang menyakitinya. Beberapa detik setelah itu, mata Lilith terbelalak kala melihat gadis itu melompat dan—
"AAAAAAAARGGHHHH!"
"LILITH!" Flo dan Rio memekik secara bersamaan.
Lilith memerosot dan terduduk di atas aspal. "Aku dendam, aku masih dendam. Ini sakit. Ini sangat sakit." ringisnya disertai tangis dan amarah.
Melihat keadaan tersebut, Flo dan Rio saling memandang, mereka lantas segera paham bahwa, "Ini bukan Lilith," ujar Flo.
Tak lama, Niko dan Raga datang dari samping rumah Hila. Rio dan Flo bersimpuh di samping Lilith. Sementara Niko dan Raga tak segera mengeluarkan hantu itu. Mereka juga ikut berjongkok dan bertanya.
"Ya, aku tahu." Itu hal pertama yang diucapkan Raga. "Kamu masih dendam sama keluarga kamu?"
Lilith yang tengah disurupi pun mengangguk, menatap Raga yang menatapnya dengan raut yang sulit diartikan. "Tapi kenapa kamu ganggu mereka?"
"Mereka siapa yang kamu maksud? Dia—" Lilith menunjuk seorang gadis yang sudah berada di depan gerbang rumahnya, itu Hila. Lalu Lilith menunjuk dirinya sendiri. "Atau ini?"
"Aku nggak peduli sama Hila," ujar Raga. "Itu urusan kamu dengan dia, tapi kenapa kamu malah ganggu yang lain, yang nggak ada hubungannya sama kamu?"
Lilith tertawa, lantas menatap Rio dengan seram. "Lelaki ini cinta pertamaku, tetapi lelaki ini nggak ingat aku karena di pikirannya hanya ada gadis ini!" Lilith lantas menunjuk dirinya lagi. "Kenapa kamu nggak ingat aku?" l
"Aku nggak pernah ketemu kamu sebelumnya. Aku nggak tahu siapa kamu. Kamu salah orang," Rio merespons.
"Enggak. Aku nggak salah orang. Hila bilang begitu, dia bilang kamu memanh cinta pertamaku."
Niko tertawa. Ia mengeluarkan selembar foto dan menunjukkannya pada Lilith. "Apa ini orang yang kamu maksud?"
Lilith mendadak sedih, sementara Hila yang berada di belakang Niko tampak menegang. Matanya terbelalak. "Kamu ingin bertemu dia?" tanya Niko.
"JANGAN!" Suara Hila mendadak murka.
Flo dan Rio yang tak mengerti pun langsung bertatap muka. Mendadak, Lilith mendongak dan menatap Hila. "Ah, kamu menyimpannya? Kamu menyimpan foto itu? Kamu juga pasti tertarik dengan dia, kan?"
Hila tak menjawab. Tubuhnya tampak bergetar di sana. Sementara itu Niko membalik lembar foto tersebut dan membaca sebuah alamat di sana. "Memang mirip sama Rio, tapi dia bukan orang yang kamu cintai selama ini."
"Di mana dia?" tanya Lilith dengan raut sedih.
"Tanya sama Hila, tanya sama gadis yang kamu suruh mencari cinta pertamamu agar kamu nggak ganggu dia lagi."
"Aku tidak percaya dengan dia, dia berbohong."
"Sekarang kamu sadar bahwa dia memang berbohong? Lalu untuk apa kamu mengganggu Rio dan Lilith?" tanya Raga.
"Karena Hila bilang Rio adalah cinta pertamaku, tetapi aku sedih karena dia bisa melihatku tetapi tidak mengingatku."
"Karena kalian memang belum pernah berjumpa. Siapa nama kamu?" Niko bertanya.
"Untuk apa kamu perlu tahu?"
"Untuk mencari keluarga kamu dan cinta pertamamy. Untuk menyelesaikan semua ini. Apa yang kamu mau? Ingin disayang oleh keluargamu seperti kembaranmu? Kamu tahu bagaimana kabar mereka? Jelas enggak. Makanya beri aku namamu dan aku akan membantu mencari mereka. Lalu kamu selesaikan urusanmu dengan mereka."
"Namaku Helen."
Raga lantas menyentuh pundak Lilith. "Tetap di tempatmu, aku akan bantu kamu menemui keluargamu. Tidak, tetapi aku akan mendatangkan keluargamu ke sini."
Lantas tak lama setelah itu, Raga tampak membaca sesuatu dan mengusap punggung Lilith. Lilith yang sadar lantas menatap Rio dan Flo secara bergantian. Ia tak sempat bertanya, merasa mual dan pusing.
"Mual, ya? Energi kamu kesedot soalnya," ujar Niko. "Flo, temenin temen kamu, ke mobil abang aja. Aku sama Bang Raga mau nemuin orang tuanya Hila. Mereka beli rumah ini dari perantara orang gitu, jadi agak susah nemuin pemilik aslinya karena nama mereka juga sengaja disamarkan."
"Siap, Bang!"
Flo dan Rio membantu Lilith masuk ke dalam mobil Raga. Sementara Rio tampak menatap Hila dengan sulit sebelum Hila berlari masuk ke dalam. Rasanya ada banyak yang ingin Rio katakan, namun untuk saat ini ia cukup kecewa dengan perangai Hila yang sebenarnya.
"Jadi kesimpulannya?" Lilith bertanya setelah menghabiskan satu botol air mineral dan martabak telur.
"Lo kalo abis kesurupan malah jadi tambah serakah gitu makannya, ya?" goda Rio.
Lilith menatap Rio dengan jengkel. "Memangnya siapa yang mau kesurupan sih?"
"Kan gue bilang jangan bengong."
"Lo telat ngomongnya!"
"Udah, udah! Lo pada kenapa dah suka banget berantem gitu. Nanti cinta, lho!"
Kalimat Flo tak digubris oleh mereka. Sementara itu, Flo berdeham dan mulai menceritakan sesuatu yang dia tahu. "Jadi seperti yang udah kalian tahu, kalau Hila udah lama banget diganggu si Helen itu. Helen selalu ngikutin Hila dan bikin Hila kadang stres, katanya. Terus karena udah nggak sanggup, Hila nanya ke Helen apa yang dia mau. Terus Helen intinya bilang kalau dia pernah nyimpen foto seseorang, tapi dia nggak tahu di mana. Pokoknya ada di rumah itu. Hila nemuin foto itu dan nggak bilang ke Helen karena cowok yang di foto itu adalah pacarnya si Hila yang ada di Jakarta. Jadi Hila cuma bilang kalau dia bakal nemuin Helen ke cowok itu, dan Helen ngikut Hila ke sekolah karena dia bilang cowok itu sekelas sama dia. Gue nggak tahu kenapa Hila tega banget ngarang cerita ke hantu, padahal dia seharusnya tahu kalo konsekuensinya besar banget. Helen percaya sama Hila dan Helen mulai sering ngikutin Rio ke mana-mana. Termasuk setiap Rio masuk ke rumah lo, Lith. Dan sialnya, lo ada lukisan macan gitu di rumah yang bikin dia betah di rumah lo."
"Kok bisa gitu?"
"Helen punya kenangan sama seekor macan. Dulu dia pernah dihukum dimasukin ke kandang macan punya orang tuanya, tapi macan itu justru ngerasa kalo Helen ini majikannya, orang yang harus dia sayang. Tumben banget, padahal macan spesies hewan yang paling berbahaya. Jadi setiap Helen punya salah, Helen selalu dimasukin ke kandang macan, tapi Helen nggak keberatan karena macan itu baik ke dia. Dan saat Helen mati, arwah Helen sempet liat macannya ini nangis, dan saat itu juga Helen tahu kenapa dia nggak dimakan sama macan itu, karena waktu bayi Helen emang udah sering ditaro dikandang macan. Tapi Helen nggak pernah inget apapun karena Helen punya penyakit yang bikin dia selalu lupa kaya nenek-nenek yang nggak inget jalan pulang. Jadi secara penelitian gue, Helen ini nggak inget apapun kecuali sesuatu yang membekas di hatinya, kaya keluarganya dan cinta pertamaya itu," jelas Rio.
"Kok lo tahu banyak banget?"
"Gue sempet mendongeng sama dia."