Abimanyu: Lith, maaf nggak sempet mampir ke rumah kamu, aku dan sekeluarga mau ke Bandung buat sementara waktu, mau daftar di Universitas Bandung. Nggak lama sih, dua atau tiga minggu gitu, sekalian liburan.
Lalu beberapa panggilan tak terjawab dari Abimanyu. Lilith mendadak merasa sedih, Abimanyu pergi, ya walaupun cuma sebentar, namun ia tak terbiasa jauh dari lelaki itu. Mendadak Lilith merasakan jika semakin hari, semesta jadi semakin kejam padanya. Namun alih-alih bersedih, Lilith justru mengetikkan balasan untuknya.
Lilith: Iya, Bi. Kabari saja kalau kamu sudah sampai, maaf dari kemarin aku nggak megang hp, badan aku capek banget jadi tidur lebih awal.
Lilith kaget, sebab pesannya langsung dibaca oleh Abimanyu dan kini lelaki itu juga sedang membalasnya.
Abimanyu: Nggak apa-apa kok, Lith. Kalau hari ini kamu masih capek, istirahat saja.
Lilith pun segera membalas pesan Abimanyu, mumpung lelaki itu masih online.
Lilith: Nggak kok, sekarang udah baik-baik aja, kamu masih lama sampainya?
Abimanyu: Masih sekitar 3 jam lagi kayanya deh, Papa lagi istirahat buat nyetir, kamu udah makan, Lith?
Lilith: Belum sih, aku tadinya mau masak tapi keasikan beresin rumah
Abimanyu: Ya udah, selesaiin dulu, terus masak, makan deh, jangan sampe telat makan ya, masa anak analis kesehatan sakit, sih? Ha ha
Lilith: Ya ampun, Bi. Anak analis kesehatan juga kan manusia, masa kami nggak boleh ngerasain sakit, sih
Abimanyu: Ya asal jangan disengaja aja sakitnya, nanti aku sedih lho kalo kamu sakit, apa lagi sekarang kita kan jauh, nanti aku di sini merasa nggak bisa jenguk kamu
Lilith: Lebay banget ah! Ha ha. Lagian kan di sini juga ada Mama, Lusy sama Rio juga pasti jenguk kok
Abimanyu: Jadi kamu beneran mau sakit? (emoji marah)
Lilith: Enggak lah, kalau aku sakit, kasihan Mama.
Abimanyu tak segera membalas, lelaki itu sudah offline, mungkin sedang melanjutkan perjalanan? Lilith mendadak merasa gelisah tanpa tahu apa sebabnya. Seolah Abimanyu tidak akan kembali, bukan raganya, tetapi hatinya.
Sebab ketika Lilith menggulir pesan yang masuk, ia membuka salah satu pesan dari Danis yang berbunyi,
Danish: Lith, lo tau nggak kalo hari ini Abimanyu mau ke Bandung? Sebenarnya pas kita lomba basket itu, HP Abimanyu ketinggalan di jok motor gue, sebelum gue kembaliin, gue iseng cek sama siapa aja itu bocah chat-an, gue agak kaget sih pas nemuin nama Rosa dan dia manggil Abimanyu pake embel-embel sayang gitu. Gue takut lo nggak percaya jadi gue sempet motret handphone-nya Abimanyu.
Lalu Lilith mengunduh gambar yang semalam Danish kirimkan. Lilith mengerti kalau Danish tidak berbohong. Lilith t**i itu memang ponsel Abimanyu, terbukti ada pesan terakhir darinya di sana, di bawah Rosa. Lilith ingin berbohong bahwa ia baik-baik saja, namun jujur, Lilith tak bisa. Ia merasakan ada yang meremas hatinya, perasaan sakit itu terus menghantui Lilith bahkan ketika ia menyadari bahwa Danish sekarang meneleponnya.
Lilith berusaha menormalkan intonasi suara dan detak jantungnya saat mengangkat telepon dari Danish. "Ya, Dan?"
Tampak di sana Danish justru menghela napas. "Maaf ya kalau gue terkesan lancang sama ponselnya Abimanyu. Gue kaya penghianat temen, ya? Tapi jujur aja sih gue nggak bisa diem aja nyimpen itu bukti sendiri. Gue merasa perlu ngasih tahu lo, Lith. Gue bukan ada maksud apa-apa, gue emang deket banget sama Abim, tapi bukan berarti gue harus mendukung kalo dia nyakitin perasaan lo, kan? Jadi, Lith, gue mohon ke lo buat nggak bilang Abim soal—"
"Danish," Lilith menyerobot. "Tenang aja, gue nggak akan bilang ke Abimanyu kalo gue tahu hal ini dari lo. Lagian gue nggak mau nanyain hal itu ke dia kok, meski gue udah tahu, gue mau hal ini terungkap tanpa gue harus nanyain ke Abim. Lihat aja nanti sikap dia bakal kaya gimana."
"Lith, gue sebenarnya nggak percaya kalo Abim bakal mendua dari lo—"
"Ya mungkin dia balas dendam? Gue juga dulu sering selingkuh dari dia kok, Dan," ujar Lilith mencoba menenangkan diri sendiri.
"Tapi bukan berarti dia harus ngelakuin itu ke lo juga kali, nggak ada selingkuh yang direncanakan, Lith. Adanya selingkuh yang disengaja."
To be continued...