"Sedih banget, Lith. Aku nggak lolos di ITB, Jadi kemungkinan minggu depan aku mau pulang dan kuliah di sana saja. Kalau kamu bagaimana?"
Lilith mendadak teringat perkataan abangnya kemarin. "Tenang aja, Abang mau Lilith mendapat pendidikan terbaik. Nurut saja sama Abang, nggak usah cemas soal biaya, nggak usah dipikirin, kan abang yang biayain. Oh iya, kamu mau belajar nyetir mobil nggak? Nanti mobil Abang yang satunya lagi kamu pake aja."
Terdengar meyakinkan, Lilith tak bisa menolak untuk melanjutkan di salah satu universitas terbaik di Yogya. Toh, ia tak perlu memikirkan soal apapun, bukan? ia hanya perlu fokus belajar.
"Halo, Lith?" suara Abimanyu kembali terdengar.
"Ah, iya, Bi. Eum.. aku niatnya di salah satu universitas terbaik di Yogya. Kebetulan besok mau ke sana sama Flo."
"Serius?! Hebat banget kamu. Tapi kan agak jauh dari rumah, kamu yakin mau naik motor?"
Tanpa menyebutkan namanya, Abimanyu pasti mengerti, kok. "Aku pake mobil Bang Tora, Bim."
"Kalau begitu kamu haris hati-hati ya, Lith. By the way, udahan ya, aku mau nganter Mama ke Mall."
"Iya, salam buat Tante Tari, ya."
"Salam juga buat kamu katanya, Mama di sini kok, lagi dengerin kamu."
"Eh, serius? Tante sehat kan di sana?"
Lalu Lilith dapat mendengar suara Tante Tari yang mendekat, "Sehat, kok. Udah kangen, ya? Kamu dan mama kamu sehat kan, Lith?"
"Sehat kok, Tan. Kalau gitu, sudah ya Tan, Tante katanya mau shopping? Aku juga mau tidur nih, he he."
"Aduh, kasihan banget sih anak gadis, seharusnya malam ini kamu kencan sama Abimanyu, ya? Tenang, ya, minggu depan kami pulang, kok."
"Iya Tante. Byee. See you."
"See you, Sayang. Muah!" lantas samar-samar Lilith mendengar Abimanyu yang protes, "Ih apaan sih Mama! Aku aja nggak pernah begitu sama Lilith."
"Ya sudah kamu kamu coba?" ujar Mamanya. Lalu Abimanyu berkata pada Lilith, "Udahan ya, Sayang. Bye."
Lilith terpaku seraya nada terputus terdengar. Tumben sekali Abimamyu memanggilnya dengan sebutan sayang di depan Mamanya.
"Wadaw, kesetrum apa lo? Merah gitu itu muka."
Lilith terlonjak kaget, entah sejak kapan Rio sudah berada di depan rumahnya. "Ngapain lo di situ? Sini!"
"Lemon tea dong!" Rio membuka gerbang dan mendekati Lilith. "Ada gak?"
"Gak ada lemonnya," ujar Lilith.
"Ya udah tehnya aja." Rio lantas duduk di kursi di samping Lilith.
Lilith menatap cowok itu dengan tatapan tajam. "Emang lo siapa nyuruh-nyuruh gue?"
"Tamu." Katanya. "Lagian lo pasti kesepian malem-malem gini nggak ada yang ngajak apel, Abimanyu kan di Bandung."
Ah, sial. Mendengar hal tersebut membuatnya sesak napas, mendadak Lilith ingin menceritakan sesuatu yang ia ketahui dari Danish. "Ya udah tunggu sebentar—"
"Dih, tumben banget sih langsung mau, biasanya harus berdebat dengan sengit dulu kaya lagi pemilihan Ketua Osis," ujar Rio. Lilith tak menyahut lagi, sebab gadis itu segera melesat ke dalam ruma untuk membuatkan teh.
Dari raut wajah yang berubah, Rio sebenarnya tahu ada yang tidak beres dari hubungan Lilith, ada yang gadis itu sembunyikan untuk kebaikan. Well, sedikit banyak sih, Rio sebenarnya tahu bagaimana sikap Abimanyu akhir-akhir ini. Tidak, sebenarnya sejak pertama mereka menginjak kelas 12, sejak Lilith mengaku bahwa ia berselingkuh dengan cowok bernama Aron, anak band dari Bandung yang diundang SMK mereka saat ulang tahun SMK ke 20 tahun. Cowok itu mendadak populer di SMK, lalu yang Rio sadar, si Aron dan kawan-kawannya memang sempat membicarakan salah satu anggota osis, yaitu Lilith Himalaya. Rio juga tahu kalau Aron adalah anak ITB semester tiga. Dan nahasnya, Rio bahkan tak menyangka jika Lilith juga mengatensikan seluruh perhatiannya ke lelaki itu tanpa sepengetahuan Abimanyu.
Namun menurut Lusy, Band itu tahun sebelumnya juga pernah datang ke SMK, tepatnya ketika Lilith masih duduk di kelas 11. Ternyata, Lilith sudah mengenal Aron sejak itu, jadi ketika ulang tahun sekolah kemarin, Lilith ternyata sudah putus dengan Aron, karena Aron mengerti ternyata Lilith sudah memiliki Abimanyu. Namun kisah mereka tak sampai di sana, sebab setelah itu pun, Aron malah semakin tertarik dengan Lilith. Dan bodohnya lagi, Lilith mau menjalaninya untuk yang kedua kali, berselingkuh dari Abimanyu. Tetapi yang terakhir kali itu, Lilith ketahuan oleh Abimanyu, tidak sebenarnya bukan ketahuan, Abimanyu sudah tahu bahkan sejak mereka pertama kali bertemu, namun Abimanyu menahan semua itu dan baru ingin meninggalkan Lilith kemarin, andai Lilith tak memutuskan Aron, hubungab Lilith dan Abimanyu pasti sudah kandas. Mungkin juga, hari ini pasti Lilith sudah menjomblo, sebab Aron juga cowok yang suka tebar pesona pada gadis lain. Tidak hanya dengan Lilith, Rio tahu kalau Aron dekat dengan tiga gadis.
Tak lama, Lilith datang membawa dua cangkir putih berisi teh. Lalu setelah meletakkanya, gadis itu masuk kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu. Sesampainya di teras, Lilith membawa satu buah lemon dan pisau. Gadis itu ingin memotong lemon tersebut di atas meja.
"Hat-hati. Udah sini gue aja, itu nggak rata nanti pisaunya kena tangan lo—" Rio berdecak saat suara pisau jatuh dari tangannya dan jari telunjuk Lilith terluka. "Tuh kan, apa gue bilang?"
Lilith meringis seraya meniupi jari telunjuknya. "Aw— perih banget! Jari gue kena perasan lemon."
Lalu tanpa pikir panjang, Rio meraih jemari Lilith dan menyesap darahnya. Rio tidak mengerti, namun jujur saja jantungnya mendadak berdetak kencang tak keruan. Setelah sadar, Rio lantas melepaskan jari Lilith dan meraih pisau yang jatuh ke lantai. "Masuk sana, lo cuci itu luka terus lo kasih plester."
Sementara Lilith sendiri mengangguk dengan gugup dan menuruti perintah Rio untuk segera masuk ke dalam selagi Rio memotongkan lemonnya. Lilith mencuci jemarinya di wastafel dan segera mencari kotak P3K, seraya mencari, Lilith merasakan jantungnya berdesir hangat, pipinya merona tanpa sebab. Nama Rio mendadak mendominasi isi kepala, rasanya sama seperti ketika ia bertemu Aron, ketika Aron memberinya perhatian, bahkan mendekap tubuhnya.
Lilith lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia la lantas bermonolog dalam benak, "Enggak, enggak. Enggak mungkin. Rio kan memang udah biasa bersikap gitu sama gue, sementara Aron baru pertama kali gue lihat. Tadi itu cuma refleks kaget aja karena jari gue terluka, gue jadi deg-degan, itu jelas karena gue kaget jari gue hampir kepotong, itu normal. Ya, itu normal.
Lilith lantas kembali ke teras dan duduk di samping Rio yang sudah memeraskan lemonnya ke dalam minuman mereka. Lilith menyadari, raut Rio agak memerah entah mengapa. Lilith lantas menyodorkan plesternya ke Rio.
"Tolong pakei!!" ujarnya sok dingin, Lilith berusaha cuek dan tidak menatap Rio. Namun mana bisa? Ia harus menilainya. Jika jantungnya berdeta kencang lagi, itu berarti—
"Males, lo pake sendiri! Jangan nyusahin orang." Rio berkata tanpa ekspresi, mendadak jadi sedingin es.
"Ya ampun, timbang makein doang, kan biar totalitas lo bantu gue, tadi lo udah ngisepin darahnya biar keluar, sekarang—"
"Brisik!" Rio meraih plester itu dan membukanya, ia lantas memakaikan plester ke jari telunjuk Lilith dengan asal.
"Ih, nggak rata lho itu!" protes Lilith.
Mau tidak mau, Rio akhirnya melepas lagi plesternya dan memasangnya dari awal.
"Kalo dilepas lagi nggak nempel dong!"
"Makanya lo pake sendiri kalo mau hasil yang bagus! Lagian luka begini doang orang lain suruh ngobatin, padahal itu salah lo sendir karena ceroboh, toh gue udah bilang supaya lo hati-hati. Terus gimana nanti kalo hati lo yang terluka parah? orang lain juga yang harus bantu namba luka lo? siapa? gue lagi?!"