Lilith membuka matanya sekali lagi dan menyadarkan diri jika di hadapannya benar Rio, bukan Danish yang mengantarkan surat undangan seperti apa yang ia lihat dalam mimpi.
"Rumah gue beneran kebakaran?" tanya Lilith seraya mengucek mata.
"Menurut lo?" sewot Rio. "Kalo nggak disuruh Mama buat bangunin lo mah males banget gue. Lo nggak berangkat nguli?"
Lilith turun dari kasur dan meraih ikat rambut untuk mengikat rambutnya. Ia berjalan untuk membuka pintu balkon dan berbicara dengan Rio dari dekat. "Ini jam berapa emang?"
"Jam sembilan. Lo tidur malem ya? Apa ngimpiin sesuatu sampe kesiangan bangun? Berangkat jam berapa lo?"
"Siang sih jam sepuluh, lo kenapa masih ada di rumah dan pakai baju santai gitu? Nggak sekolah?" Lilith melirik pakaian Rio. Ia memakai kolor hitam santai dan kaus berwarna biru langit.
"Gue libur dong, guru kan lagi rapat seharian di balai kota."
Lilith cuma mengangguk-angguk. "Ya udah, gue mau bikin sarapan terus mandi."
"Si Lusy mana? Dia udah pulang?"
Lilith teringat sesuatu. Ah benar, semalam Lusy ada di sini dan menginap di rumahnya. Lilith menengok ke belakang dan tak menemukan Lusy berada di kasur. Seharusnya anak itu masih memeluk teddy bear-nya dan masih terbuai mimpi. "Udah pulang kali, ya?" Namun Lilith menemukan kamarnya masih terkunci.
"Ya kali ilang? siapa yang mau nyulik?"
Lilith dan Rio masuk, mencari Lilith di dalam kamar Lilith. Namun Lusy tidak di sana.
"Udah pulang kali?" tanya Rio.
"Pulang gimana, itu liat pintu masih ke kunci, ya kali dia sulap pagi-pagi?" Lilith menunjuk pintunya yang masih terkunci.
Rio berjongkok dan mengecek kolong kasur Lilith. Anak itu menghela napas dan berdecak. Rio lantas menarik lengan Lilith untuk melihat apa yang terjadi di bawah kolong kasurnya.
Lusy sedang memelul boneka Lilith dan tidur beralaskan kasur lantai berbulu.
"Lo ngga sadar dia tidur di kolong kasur kaya bayi curut gitu?" tanya Rio.
Lilith menggeleng. "Nggak, semalem dia d atas sama gue. Ya Tuhan, Bikin panik aja!" Lilith mendesah pasrah. "Biarin deh Bim, nggak usah bangunin, dia kayanya baru tidur."
"Bim?" Rio menatap Lilith dengan tatapan aneh. "Kangen lo sama dia? Nggak biasanya salah manggil nama gue." Rio bangkit.
"Sory, masih kebawa perasaan aja. Pikiran gue lagi nggak tahu kemana."
"Fokus, dong. Bukannya Mama lo udah bilang buat selalu fokus sekali pun lo pata hati?" Rio menatap Lilith dengan kecewa. "Separah apa sih sakit hati lo sampe semuanya harus tentang dia nggak bisa lo alihin sebentar aja?"
Lilith tersentak, tak biasanya Rio jadi sensitif negitu. "Kok lo marah? Ya maaf kalo lo tersinggung. Tapi omong-omong, kok lo tahu gue sakit hati? Lo tahu gue putus sama Abim?"
Rio tertawa hambar. "Gue tahu semuanya, gue tahu banyak hal yang nggak lo tahu. Saking banyaknya hal yang gue tahu, gue jadi bisa ngerasain kalau ternyata ada yang lebih bodoh dari pada mantan lo."
"Siapa?"
"Lilith Himalaya," jawab Rio. Ia lantas melanjutkan, "Danish udah bilang kalo Abimanyu selingkuh dan lo masih mengaggap mereka cuma berteman? Oh, tunggu, atau jangan-jangan lo nggak tahu siapa cewek Abimanyu saat ini?"
"Jadi lo tahu kalo Abim selingkuh tapi lo nggak ngomong ke gue?" Mata Lilith sudah berkaca-kaca. "Kenapa? Lo pengin bikin gue keliatan kaya orang b**o?"
"Bukannya emang begitu? Lo udah dikasih tahu Abim tapi masih nggak percaya, kan? Terus apa pengaruhnya kalo gue yang ngasih tahu? Lith, gue tahu perasaan lo, perasaan manusia yang kalo jatuh cinta, mereka nggak akan pernah percaya sama omongan orang lain bahkan ketika seseorang bilang dia selingkuh!"
"Apa aja yang lo tahu selama ini? Ngomong ke gue!" desak Lilith penasaran, matanya sudah berair.
"Banyak, yang jelas sesuatu yang sangat menyakitkan, sesuatu yang nggak mungkin sanggup lo denger untuk saat ini." Rio melangkah melewati Lilith, ia hendak kembali ke kamarnya lewat balkon, namun sebelum itu Rio sempat berucap, "Pikiran lo lagi nggak jernih, lo. dateng lagi ke gue nanti setelah lo bisa jernihin pikiran lo dan siap sama cerita gue. Omong-omong, gue nggak asal cerita kok, gue punya bukti-buktinya. Cuma gue ingetin sekali lagi, gue bakal cerita ke lo setelah lo udah mau move on dari Abim."
"Rio-"
"Dan gue mau bilang satu hal, Abimanyu udah berubah. Total. Jadi lo nggak usah berharap terlalu tinggi sama orang yang nggak bisa nepatin janji dan terlalu banyak bikin janji. Soal dia yang nggak akan nikah kecuali sama lo-" Rio terhenti guna menertawakan mereka. "Berhenti kerayu sama omongan manisnya, kemanisan juga nggak baik buat kesehatan."
Lalu Rio pergi dari kamarnya dan Lilith dapat melihat cowok itu melompat melewati balkon. Lilith tercengang, hatinya panas, namun ia tak pernah bisa mematahkan semua omongan Rio.
"Kak Lilith! Kak! Kak Lilith!" itu suara Lusy.
Lilith segera bersimpuh di lantai dan mengecek Lusy. "Kenapa?"
"Tolong keluarin aku!" ujarnya dengan suara serak.
"Lah? Kan lo sendiri yang masuk ke kolong, keluar sendiri dong! Lo kenapa bisa tidur di situ, sih? Emang di atas bareng gue nggak muat?"
Lusy tak segera menjawab, ia kebingungan. Lalu kini ia menggerakkan tubuhnya untuk keluar dari kolong kasur Lilith. Ketika Lusy sudah keluar, gadis it terduduk di lantai da menatap Lilith dengan sendu.
Lilith mendadak mengingat apa yang sedang terjadi semalam padanya dan Lusy...