Gadis itu berjalan lunglai menuruni anak tangga. Ia mempercepat langkah menuju pintu ketika seseorang dengan tidak sabarnya terus memencet bel rumah.
Lilith membuka pintu itu dengan kesal. disana telah berdiri seseorang sembari memperlihatkan senyumnya. Dia adalah Danish, orang yang selalu pede seperti biasanya.
"Nggak sabaran banget jadi manusia. Ada apa? Nggak punya pulsa? Mau minta wifi lagi? Lupa kata sandi wifi? Numpang nge-charger Hape? Mau minjem—"
"Ba—cot!"
Danish menampar pelan mulut Lilith menggunakan kartu undangan. Ia menggeleng, kemudian menyodorkan kartu undangan itu kepada Lilith.
"Sebenernya gue nggak tega mau ngasih ini, tapi... Yang tabah yaa, udah jagain jodoh orang."
Tanpa harus membaca nama mempelai di undangan itu, Lilith tahu betul apa maksud dari perkataan Danish.
Ia menerima surat undangan itu dengan lesu, lalu mengangguk pelan.
"Bilangin Abim, ya. Semoga tenang di alam sana."
Garis lurus terbentuk di antara alis Danish, ia memegang kedua bahu gadis itu dan menghela napas.
"Abim belum mati, Lith. Dia cuma nikah sebentar, entar juga cerai, he he."
Candaan yang biasanya mengundang gelak tawa itu berubah menjadi percakapan yang serius bagi Lilith.
"Lo! Kejem banget nyumpahin mantan gue segera cerai," kalimatnya terjeda, kemudian menggeleng tak menyangka, "Doa itu yang baik-baik Dan, seharusnya lo doain dia biar nggak jadi nikah! itu lebih baik!"
Danis menelan salivanya berat, ia melepaskan tangannya di pundak Lilith dan membuang wajahnya sembari terbatuk-batuk.
"Hm. Bagaimanapun lo harus dateng, bila perlu cari pacar mulai sekarang. Terkadang gue iba liat derita hidup lo... Ail, setelah kejadian ini tolong jangan anggap semua cowok itu sama, jangan menutup hati lo. Pokoknya, nggak ada kata kapok dalam dunia percintaan," celoteh Danish.
Lilith hanya bisa memasang ekspresi datar, ia tidak menangkap apa yang dikatakan Danish, seperti masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sejak tadi Lilith hanya terbengong karena rasa keterkejutannya menerima surat undangan pernikahan mantan.
"Lo dengerin gue ngomong 'kan, Lith?"
Lilith mengangguk, "Iya, ntar gue coba makan sayuran deh, terima kasih sarannya, Dan."
Hening~
Lilith sejujurnya tak begitu dengar apa yang Danish katakan, dia cuma mengiyakan saja.
Sementara Danish mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kebiasaan Lilith jika sedang patah hati, tidak mendengarkan orang lain dengan baik.
Kali ini Danish berhenti berkomentar, ia menatap Lilith dengan jengkel.
"Lo kenapa sih mukanya ngeselin banget!" gerutu Lilith.
"Elo yang ngeselin!!" pekik Danish sewot.
Danish menoyor kening Lilith menjauh darinya, kemudian ia menutup pintu rumah Lilith.
"Gue pulang dulu!" Ucapnya di depan pintu, sedangkan di belakang pintu sana Lilith mengangguk.
Lagi-lagi, kisah cintanya harus berakhir tragis.
Adit, cinta pertama yang tidak pernah menyakitinya harus pulang kepelukan sang Maha Kuasa karena kecelakaan pesawat delapan tahun yang lalu. Membuat Aileen susah membuka hati kembali untuk cinta yang baru.
Heri, cowok yang mampu mendobrak hatinya setelah Adit, hanya menganggapnya sebatas teman dekat.
Aron, cowok romantis yang selalu memberikan Lilith kenyamanan, tempat Lilith berteduh saat ia dan abangnya bertengkar, kini juga menghianatinya.
Abimanyu, tetangganya, kekasihnya selama tiga tahun harus direbut oleh Rosa—sahabatnya. Padahal hubungan keduanya sudah terjalin lebih dari tiga tahun dan Tante Tari sangat menyayanginya. Sekarang Abimanyu dan Rosa akan segera menikah. Duduk berdua di pelaminan, kemudian Lilith akan datang sebagai tamu yang pernah singgah di hatinya, yang dulu berharap dapat duduk berdua dengan Abimanyu di sana.
Lilith, cewek yang selalu memotong rambutnya jika sedang patah hati. Sikap yang dulu hangat pada siapapun berubah menjadi seperti wanita yang tak punya hati. Bibir manis yang biasa di gunakan untuk berkata kebaikan mendadak sering mengumpat orang lain.
Penampilannya yang dulu feminin berubah menjadi sedikit nyleneh.
Lilith duduk di ruang tamu dengan Lusy. berkali-kali men-dislike setiap foto lelaki yang muncul di layar ponselnya secara bergantian. Lusy, selaku sahabatnya itu menahan diri untuk tidak menjitak kepala Kak Lilithnya.
Sudah lebih dari satu jam bahkan Lilith berada di sebuah aplikasi penjarian jodoh, aplikasi ini katanya menyediakan jodoh terbaik untuk jomblo. Bullshit! Buktinya sejak tadi Lilith tidak menemukan orang yang pas untuknya.
"Kak Lilith nyari yang kayak apa sih?"
"Hm. Paling enggak mirip Zaen dikit," sahut Lilith. "Lagian ini aplikasi apaan sih! nggak jelas nyari jodoh masa tinggal slide doang."
Lusy berdecak, kemudian menggeleng pelan karena Lilith. ia kini ikut duduk di samping Lilith, mengambil alih ponselnya.
"Dandi Prakoso, usinya 23 tahun, ganteng juga nih Kak."
Lilitj berdecak, ia menggeleng, kemudian menunjuk foto cowok itu.
"Dari pose-nya, dia keliatan cowok kebanyakan gaya. Bikin beban gue doang nanti, Lus."
Lusy hanya mengangguk-angguk, ia mendadak menyetujuinya juga kemudian ia men-dislike foto itu dan berganti yang lain.
"Bakhtiar Artjoenaya Tjahjo Soerya Pratama Handoko Diningrat. Dia kaya, tapi namanya kepanjangan, kalo akad kelamaan. Singikirin!"
Lilith menghempaskan tangannya, Lusy mengangguk, kemudian men-dislike lagi.
"Ya, bener. Aku juga nggak setuju kalo nama cowok kakak kepanjanganan, yang ini gimana?" usul Luy.
"Ben? Namanya Ben doang? Kependekan, singkirin!"
"Hm. Mungkin, Ben ora kesuwen," ujar Lusy menggunakan logat jawa yang medok. (Biar nggak kelamaan)
Secara sadar, Lilith merasakan dunianya jadi berbeda sestelah mendengar suara aneh yang sangat dikenalnya, Lilith lantas berusaha untuk mendengarkannya dengan baik ketika suara tersebut menjadi sangat besar dan membuat Lilith agak tercengang.
"LITH"
"WOI LILITH!!"
"BANGUN WOI!"
Lalu suara ketukan di jendela kamarnya terdengar nyaring. Itu suara Rio, tapi kenapa Rio ada di sini.
"WOI BANGUN ATAU GUE SIRAM INI?!"
"WOI LILITH! ITU RUMAH LO KEBAKARAN BANGUN, AH SIAL!"
Lilith segera membuka matanya, ia bangun dengan tersentak. Ah, ternyata cuma mimpi, ia kira dirinya beneran menerima undangan dari Abimanyu. Tetapi mengapa sakitnya sampai terasa? dadanya terasa lebih berat dan sesak lebih dari biasanya.