Sejak awal mula memasuki bangku SMK, Lilith adalah seseorang yang mengerti caranya meraih pertemanan secepat mungkin. Sayangnya, ia selalu kesulitan untuk memilih. Lilith bersekolah di sebuah sekolah favorit di Yogya. Lilith mulanya ingin masuk ke jurusan akuntansi atau teknik komputer dan jaringan, namun pada akhirnya ia memilih jurusan analis kesehatan yang kebetulan saat itu tidak ada siswa lelaki. Lilith tak kesulitan mencari pertemanan baru. Di antara yang lain, Lilith adalah gadis yang berani berbicara di depan kelas untuk pertama kalinya tanpa rasa cangung, meski sedikit malu, namun Lilith berusaha menepis semua itu. Di hari pertama, semua temannya nyaris menyukai Lilith dan memilih Lilith untuk menjadi ketua kelas mereka, hingga seorang guru berkata, "Baik, saya setuju. Saya pikir pilihan kalian untuk mencalonkan Lilith Himalaya adalah pilihan yang tepat. Sesuai namanya, ia memiliki kepercayaan diri dan tanggung jawab sebesar Himalaya."
Sejak SMP Lilith memang membayangkan bisa menjadi seseorang yang bisa memimpin dam bertanggung jawab. Lilith ingin seseorang tidak lagi memandangnya. sebelah mata. Dan sejak itu, Lilith mendapatkan apa yang ia inginkan. Well, meski prestasinya biasa-biasa saja, namun seseorang yang memiliki kepribadian unik dan menyenangkan terkadang memang lebih popular dari pada anak yang selalu berada di perpustakaan menghabiskan waktu dengan belajar, menjauh dari keramaian dan tak tertarik dengan pertemanan. Sejenak, melihat Dinda yang bersikap demikian justru membuat Lilith penasaran. Apa gadis itu memang tak mau mencari teman atau ada hal lain seperti benteng yang membuatnya jadi suka menyendiri?
Lilith merasa senang berada di Yogya karena mudah mendapat pertemanan, well, meski ada saja yang tidak suka dengannya, Lilith tak terlalu mempermasalahkannya. Namun, sama seperti gadis lain, Lilith juga terkadang merasa kurang suka dengan beberapa gadis karena perilaku mereka atau bahkan dari cara mereka memandang Lilith.
Lilith selalu memperlakukan teman dengan sama. Hingga semester kedua di kelas sepuluh, tidak hanya di kelas, Lilith cukup popular di seluruh gedung sekolah. Jujur saja, hal itu terkadang membuat Abimanyu merasa terancam karena satu kelasnya yang di d******i anak lelaki selalu membicarakan Lilith Himalaya. Bahkan awal mula Abimanyu pernah diajak temannya, Danis, untuk mengantarnya ke kelas analis kesehatan untuk berkenalan dengan Lilith Himalaya dan kalau bisa, meminta nomornya. Abimanyu selalu menolak ajakan Danis dengan berbagai alasan sampai Danis curiga kalau Abimanyu tidak normal karena tidak bisa melihat pesona Lilith.
Abimanyu mengaku, banyak gadis yang lebih cantik dari Lilith, namun pesona tetaplah pesona yang bisa saja gadis secantik aphrodite tak memiliki pesona seperti Lilith. Karena Danis selalu mendesaknya untuk menemui Lilith, akhirnya saat ulang tahun Lilith tiba, Abimanyu mengiyakan ajakan Danis dan sekalian membeli hadiah untuk Lilith. Ketika jam istirahat, Danis dan Abimanyu telah menghadang Lilith di depan pintu. Lalu sebelum Danis mengajak Lilith berkenalan, Abimanyu lebih dulu meraih tangan Lilith untuk bersalaman.
"Ini namanya Danis, dia ngebet minta ketemu kamu terus, dia kayanya suka sama kamu, Lith."
Lilith yang saat itu mengerti bahwa Abimayu cemburu, cuma tertawa dan berkenalan dengan Danis lalu mengajak lelaki itu untuk makan siang bersama di kantin. Abimanyu dengan perangainya sebagai lelaki yang cemburu, dia selalu menatap Lilith penuh peringatan jika Lilith terus menjawab pertanyaan Danis yang selalu ingin tahu soal Lilith. Hingga tiba ketika Danis menanyakan status Lilith, Lilith pun menjawab, "Sudah, kok. Samping kamu itu, pacar aku."
Danis yang tidak bisa memercayainya pun akhirnya percaya ketika Abimanyu selalu menunggu Lilith selesai jam pelajaran atau ketika Danis yang baru saja keluar dari kelas dan menemukan Lilith keluar dari perpustakaan yang sebenarnya jam pelajaran gadis itu sudah habis dua jam yang lalu hanya untuk menunggu Abimayu untuk pulang bersama, dan itu selalu terjadi di hari Senin. Jadwal pulang mereka berbeda di setiap hari Senin dan Rabu. Hari senin kelas Lilith pulang lebih dulu dua jam dari kelas Abimanyu, sementara hari Rabu sebaliknya.
Karena ketika tak tega saat bagian Lilith menunggu Abimanyu, Danis pun mengusulkan agar sebaiknya Lilith diajari menyetir motor agar bisa pulang lebih dulu di hari senin. Di kelas sebelas, Lilith sudah terbiasa membawa motor sendiri bila jadwalnya selalu berbeda dengan Abimanyu.
Mulanya hubungan Lilith dan Abimanyu lancar-lancar saja untuk di sekolah, meski ketika di rumah berbeda, sebab Abimanyu terlalu banyak cemburu dengan kedekatan Lilith dan Rio. Padahal Lilith sudah bilang kalau Rio seperti saudara baginya, mamanya bahkan menganggap Rio seperti adik kecil Lilith karena usia mereka terpaut tiga tahun.
Namun, yang mulanya mereka terlihat seperti saudara, Hingga kini Lilith berada di kelas dua belas dan Rio masuk sekolah yang sama dengan Lilith, Rio sudah tumbuh terlalu banyak, bahkan di kelas sepuluh, Rio lebih tinggi tiga senti meter dari Abimanyu. Hal itu membuat Abimanyu keki parah. Terlebih ketika masa orientasi siswa, kebetulan Abimanyu dan Lilith juga menjadi anggota osis. Ketika Rio disuruh membuat surat dan ia memberikannya untuk Lilith, lalu Abimayu yang membacanya. Sementara Abimanyu mendapat surat dari Lusy yang merupakan ancaman agar tak menyakiti Lilith. Abimanyu mengerti itu surat milik Lusy. Sebab hanya Lusy yang berani memarahi Abimanyu tanpa malu.
Lilith dan Abimanyu bahkan masih mengingat saat itu. Rio membuat surat dengan sangat indah hingga anggota osis tidak percaya jika itu hasil pemikiran seorang lelaki seperti Gerio Bahtera. Namun Lilith menjadi orang pertama yang mengakuinya karena ia sudah biasa dibuatkan surat seperti itu.
Maksudku, bagaimana mungkin ada siswa yang bahkan sudah populer saat mereka masih menjalani orientasi siswa karena skil olahraganya, visual tampannya, kecerdasan otaknya, keberanian serta tanggung jawab dalam setiap lelaki itu memutuskan sebuah pilihan, dan yang terpenting, Rio seperti Lilith karena mudah bergaul dan asyik. Rio terkadang bisa jadi lucu, lalu ia bisa menjad bijak. Seorang lelaki yang bahkan belum mencicipi usia dua puluh tahunan yang bahkan mengerti dan memahami seseorang yang berada di usia tersebut. Karena itu, banyak yang menayakan siapa kedua orang tuanya dan bagaimana anak lelaki itu dibentuk jadi semenawan itu?
Sejak itu pula, banyak yang menjodohkan Rio dengan Lilith meski mereka tahu bahwa Lilith sudah lama menjalin hubungan dengan Abimanyu. Rio yang mengerti perasaan Abimanyu pun pernah berbicara di depan anggota osis sewaktu mereka sedang istirahat dan Rio mengantarkan bekal Lilith yang ketinggalan dan tepat saat itu, Danis yang juga anggota osis bertanya kepada Rio.
"Yo, menurut kamu Kak Lilith bagaimana?"
"Bagaimana apanya? Kepribadiannya? Bagus." Rio menjawab dengan simpel seolah tak menunjukkan ketertarikannya dengan Lilith.
"Kamu suka nggak?"
"Suka lah, siapa yang nggak suka sama cewek berkepribadian baik, kan?" Rio melirik Abimanyu dan Lilith seraya bergantian. "Tetapi kalau Kak Danis nanya soal perasaanku, perasaanku masih sama. Begini-begini aja, belum paham banget soal perasaan kaya gitu. Jadi, kami ini memang lebih cocok kaya adik kakak gitu, ya?"
Lilith yang memahami perangai Rio cuma mendenguskan tawa dan kembali untuk memakan bekalnya. "Rio di sekolah dan di rumah itu berbeda. Lihat saja, dia jelas ingin membuat banyak gadis tertarik saa dia."
"Memangnya kalau di rumah bagaimana, Lith?" Itu Arum, teman sekelas Lilith.
"Songong, b****k parah" ujar Lilith yang dihadiahi gelak tawa anggota osis.
Selesai makan, Lilith mendapati pesan dari Abimanyu dan Rio.
Rio: Perhatiin pacar kamu, dia bad mood banget sejak aku mulai menjajah wilayahnya.
Abimanyu: Seiring waktu berjalan, perasaan bisa saja tumbuh, kan?
Lilith kembali memahami. Alasan mengapa Abimanyu jadi menjaga jarak dengannya setelah ia memberikan buku tips move on. Jadi setelah pulang sekolah, Lilith sengaja menunggu Abimanyu sambil membaca buku di perpustakaan. Dan ketika Lilith keluar, Abimanyu terkejut karena berpapasan dengan Lilith.
"Loh, kamu belum pulang?"
Lilith menggeleng, ia menatap Danis sekils dan saat itu Danis mengerti, lalu ia menepuk bahu Abimanyu untuk pamit pulang duluan. Lilith akhirnya pulang bersama Abimanyu setelah sekian lama. Lilith bertanya kepada Abimanyu, "Apa Rio kaya ancaman bagi kamu? apa anak itu semenakutkan itu sampai kamu harus menjauh?"
Namun Abimanyu tak menjawabnya. Ia malah balik bertanya, "Kamu sudah baca buku itu?"