"Abimanyu, tolongin dong!"
Lilith tahu hari ini akan menjadi hari yang paling merepotkan sepanjang masa. Dia yang biasanya selalu mengusir Abimanyu ketika lelaki itu berada di teras rumahnya setiap sudah melebihi jam delapan, kini Lilith harus memanggilnya dengan mata berkaca-kaca di jam setengah seepuluh karena laptopnya mendadak mati di saat mepet deadline.
Seraya menunggu Abimanyu keluar dengan laptopnya, Lilith duduk di teras seorang diri. Hingga tak lama Abimanyu keluar dengan laptop dan jaketnya.
"Ayok!" ajaknya. Lilith masih termangu karena ajakan tersebut.
"Aku cuma mau pinjam laptop kamu saja, kok. Kamu nggak perlu—"
"Sst!"
"Aw!"
Abimanyu menyentil dahi Lilith. "Aku tahu tugas anak analis kesehatan seribet apa. Aku tahu hari ini juga kayanya terlalu melelahkan buat kamu dan kamu mau begadang sampai pagi buat menyelesaikan tugas kamu?" Manik Abimanyu mendada tegas. "Aku nggak bisa membiarkan kamu begadang sampai pagi karena harus ngerjain tugas. Nanti kalau sakit, gimana? Kita sudah semester dua, Lith!"
"Iya, Lith, biarin Abimanyu bantuin kamu buat menyelesaikan tugas kamu. Lagian nggak apa-apa, kok. Tante sudah mengizinkan kalian asal jangan berdua aja, ajak Rio atau Lusy gitu, maksud Mama kalau berduaan saja kan nggak enak misal ada tetangga yang tahu, walaupun cuma ngerjain tugas." Itu suara Tante Tari yang mendadak muncul di belakang Abimanyu.
"Eum, hari ini Lusy tidur di ruma aku sih, duh, Tante, Lilith sebenarnya nggak mau ngrepotin tapi—"
"Sudah sana, nanti keburu malam, lho." Tari mendorong Abimanyu untuk keluar dari pintu. "Kalau Abimanyu mau menginap juga nggak apa-apa, yang penting jangan tidur satu kamar."
Lantas mereka menuju rumah Lilith dan mengerjakan tugasnya, di sana, sudah ada Lusy yang sedang bermain game di ponselnya menyapa Abimanyu.
"Halo Abimanyun! Akhirnya setelah sekian purnama Lusy bisa lihat kamu juga. Akhir-akhir ini kamu seperti hantu karena nggak bisa dilihat pakai mata telanjang."
Abi cuma berdecak pasrah jika Lusy sudah mulai membicarakan hal random. "Nanti kalau aku beneran jadi hantu, semoga kamu nggak lari, ya?"
"Enggak dong, kan Lusy bisa baca surat ayat qursi, tinggal bacain saja, nanti kamu juga kepanasan."
Abimanyu tak merespons lagi. Ia mulai menyalajab laptopnya dan duduk lesehan dengan laptopnya berada di atas meja. "By the way, Lith, kursi teras sekarang kayanya sudah nyaman menampung Rio, ya?"
"Memang kenapa?"
"Kemarin kayanya aku lihat kamu sama Rio di teras, ngobrol sampai jam sepuluh."
Lilith menggigit bibir bawahnya samar. "Nggak tahu juga sih, aku nggak terlalu memperhatikan jam. Kami mengobrol biasa, tiba-tiba sudah malam saja."
"Karena kamu menikmatinya, Lith."
"Apa?"
"Bicara sama orang yang kita suka memang kadang sampai lupa waktu. Tapi kayanya setiap ngobrol sama aku, kamu selalu ngecek jam ponsel, kaya orang yang sudah mulai bosan bicara denganku."
"Kamu salah." Lilith menjeda. "Aku sering ngecek jam ponsel karena berharap waktu yang aku habiskan dengan kamu nggak secepat itu habisnya."
"Hei, katanya mau ngerjain tugas? Malah saling curiga gitu. Kasihan banget lho itu tugasnya jadi dianggurin begitu!" seru Lusy membuyarkan mereka.
***
Sepulang sekolah, di ruang tamu, Lilith sibuk mengupasi jeruk untuk Rio yang sedang memperbaiki laptopnya. Kemarin malam selagi ia mengerjakan tugas, laptop miliknya mendadak mati dan terpaksa ia harus meminjam laptop milik Abimanyu untuk mengerjakan tugasnya. Nahasnya, Lilith belum menyalin tugasnya di buku catatan, hal tersebut terpaksa membuat Abimanyu ikut lembur untuk membantu Lilith.
"Jadi semalem si Manyu pulang jam dua malam itu habis dari rumah kamu, Kak?" Rio menghentikan pekerjaannya dan memakan jeruk yang sudah Lilith kupas.
Lilith mengangguk. "Ya mau gimana lagi, aku udah sering ngrepotin kamu."
Rio mendenguskan tawa. Ia menunjuk laptopnya dengan obeng di tangan. "Terus ini apa namanya kalau nggak ngrepotin?"
"Nggak ikhlas ya, Yo?"
Rio tak menjawabnya, melainkan menanyakan hal lain. "Jadi sudah baikan sama Abimanyu?"
Lilith menatap Rio. "Memangnya aku ada masalah sama dia?"
Rio kembali pada pekerjaannya. "Ya nggak tahu, tapi aku sebagai cowok mengerti kok kalau Abimanyu sudah beda saat dia natap kamu. Kaya ada sesuatu yang dia sembunyikan."
"Sebagai cowok, menurut kamu, dia lagi menyembunyikan apa?"
"Mungkin karena kalian sudah terlalu dekat dan terbiasa bersama, jadi dia ngerasa takut kalau suatu saat dia harus melepas kamu."
Lilith termangu sesaat. Dia baru menyadarinya, akhir-ahir ini rasanya Rio yang lebih sering menemaninya berbicara. "Menurut kamu, perasaan Abimanyu masih sama kaya dulu atau sudah berubah?"
"Menurut aku?" Rio tak segera melanjutkan kalimatnya. Ia tampak berpikir sesaat sebelum memberanikan diri berbicara, "Mungkin enggak."
"Kenapa?"
"Menurutku, seiring berjalannya waktu, nggak ada perasaan yang terus sama sepanjang waktu. Antara semakin besar, atau bahkan sudah berkurang. Kamu bisa menilainya sendiri, kok." Rio melirik Lilith dan tersenyum. "Ketika seorang cowok mengatensikan semuanya buat kamu, itu artinya dia punya rasa sayang yang besar. Tapi kalau seseorang mulai mencari alasan agar bisa lolos dari kamu, itu artinya perasaan yang dia punya sudah nggak kaya dulu."
Lilith menyetujui perkataan Rio, namun ia malah tertawa dan memukul bahunya. "Kok kamu sudah seperti pakar cinta?"
"Hei, jangan salah, aku bisa jadi apapun yang kamu mau lho, Lith. Selama kamu yang meminta."