Rio jelas bergurau. Bergurau soal dia bisa menjadi apa saja yang Lilith inginkan. Bocah tengik itu memangnya bisa menjanjikan apa untuk kehidupan Lilith ke depannya? Namun daripada itu, Lilith lebih tertarik dengan masalah keluarganya hari ini. Semalam Lilith mendengar mamanya menjawab telepon di jam tengah malam, dari bagaimana mamanya bersuara, Lilitg yakin yang menelepon adalah Natasya Eri istri Bang Tora sekaligus menantu Wulan.
Lilith mengingat saat Wulan berusaha menjaga suaranya saat berkata, "Eri, Mama sebenarnya nggak bisa ikut campur urusan keluarga kalian, tapi sebagai orang tua, Mama juga sedih sekaligus marah dengan perbuatan anak Mama sendiri. Mama ngerasa gagal mendidik Tora. Iya, enggak, Mama nggak bilang hal ini ke Ayah. Mama nggak mau sakit jantung Ayah kumat karena dengar kelakuan Tora. Mengingat dulu itu Tora termasuk anak yang cukup bikin orang tua kalang kabut sama kelakuan nakalnya waktu masih sekolah. Tapi Mama bahagia karena Eri mau menemani Tora dari dulu sampai sekarang. Dulu Mama pesimis, orang seperti Tora ini, apa pantas mendapat wanita sebaik kamu? Mama mengerti karena Eri juga yang membuat Tora bisa sesukses sekarang. Mama mengerti semua ini karena kesabaran Eri mau bersama Tora. Mama tahu, kok, ini terlihat nggak adil buat kamu, tapi, Eri…" Lantas Lilith mulai mendengar suara Mamanya yang mulai bergetar. "Ketika seorang lelaki memiliki segalanya dan mulai menunjukkan keserakahannya, maka satu wanita nggak cukup baginya. Mama rasa Tora mungkin bisa melalui semua ujian, tapi problematika wanita selalu jadi hal paling krusial yang menghancurkan rumah tangga. Eri, Mama berharap kalian bisa menemukan solusi untuk masalah kalian, namun bila kamu mengalami kesulitan lain, hubungi Mama. Kamu harus jaga kandungan kamu juga."
Itu cukup jelas, bukan? Bahkan sudah terlalu jelas dimengerti jika Tora memiliki wanita lain. Pada akhirnya Lilith merasakan ketakutan itu mulai merayap di kepalanya dengan berbagai asumsi buruk yang mengancam. Namun, Lilith tetap berdoa untuk keluarga mereka. Lilith berdoa untuk Eri yang sedang mengandung untuk diberi lebih banyak ketabahan. Namun tetap, Lilith merasa kasihan juga bersalah tanpa sebab.
Jadi hari ini, seraya menyiapkan diri untuk ujian nasional, Lilith kembali di sibukkan berada di perpustakaan untuk membaca beberapa buku, sekaligus melatih otaknya sebelum mencumbu materi-materi yang sudah diberikan oleh guru. Lilith memilih tempat duduk di pojok, jauh dari peradaban manusia. Entah mengapa, ia mendadak ingin sekali membaca mitologi empusa. Meski sebenarnya Rio sudah menceritakan intinya. Sebab, Lilith tertarik dengan wanita bernama Empusa tersebut.
Namun, kursi Lilith mendadak ditendang oleh seseorang. Lilith mendongak dan menatap lurus. Di sana, Abimanyu yang tengah mengemut permennya menaikka satu alis. Ia mengangkat satu tangannya guna meminta maaf tanpa suara.
Lilith bertanya menggunakan telepati, sialnya, Abimanyu malah tertawa dan membuka sebuah buku yang ia bawa dan mulai menuliskan sesuatu. Abimanyu memberikannya dan Lilith lantas membaca dalam hati, "Kamu lagi apa?"
Lalu Lilith mulai menulis balasannya. "Lagi lomba lari, kamu nggak lihat?"
Abimanyu kembali menunjukkan wajah yang tengah tertawa dan melai menulis lagi. "Ikut, dong. Aku juga pengin lari dari keramaian ini dan membawamu pergi."
Ah, ini dia, Abimanyu telah kembali menjadi sosok lelaki yang Lilith kenal. Abimanyu tidak lagi menjauhinya seperti biasa. Jadi di sana, seolah tak terjadi apa-apa, Lilith membalas. "Maaf, nggak ada tempat yang bisa kamu tuju dengan membawaku lari."
Lantas Abimanyu membalas, "Ada. Masa depan. Kamu tahu? rasanya aku nggak bisa menuju masa depanku tanpa membawamu."
Lilith berdecak, setengah tertawa. "Omong kosong. Nantinya tulisan ini juga bakal berada di tempat sampah."
"Siapa bilang? Aku akan bawa kertas ini ke masa depan juga—"
Belum selesai Abimanyu menulis, Lilith sudah merebut buku tersebut dan ia berlari membawanya keluar. Lantas di sana, Abimanyu mulai mengejar Lilith. Oh well, Lilith tahu bahwa kecepatannya berlari tak bisa menandingi Abimanyu. Namun ia cukup berambisi untuk mengalahkan Abimanyu kali ini saja. Ia bisa mendengar suara teriakan Abimanyu, "LILITH! KAMU NGGAK AKAN BISA LARI SEJAUH HIMALAYA!"
Di lorong-lorong sekolah itu, Lilith mencoba membuka bukunya dan merobek kertas yang sudah mereka tulisi. Benar, Lilith tak membutuhkan bukunya, ia cuma butuh kertas itu untuk dijadikan dokumentasi masa depan.
Namun, BRAKK!
Tubuh Lilith Limbung, ia nyaris jatuh andai seseorang yang Lilith tabrak tak memeluk punggungnya. Namun, sinyal waspada mulai berdetak di jantungnya saat ia mengenali aroma sabun yang agak maskulin ini dari hadapannya. Lilith mendongak, menatap Gerii Bahtera yang bahkan masih memeluk punggungnya denga satu tangan saat berkata, "Bisa, nggak? Nggak usah lomba maraton di lorong sekolah?"
Lilith tak sempat merespons, sebab suara langkah kaki Abimanyu terdengar sangat dekat, di belakangnya. Lilith tahu sejak awal Abimanyu memelankan langkahnya dan kini lelaki itu jelas melihatnya. Jadi Lilith mendorong tubuh Rio agar segera menyingkir dan ia berlari lagi untuk masuk ke dalam kelas dan mengunci pintunya, genius, bukan? Tetapi ini jelas masalah besar, sobekan kertas itu hilang saat Lilith memerisanya. Kecepatan Lilith berkurang, hingga derap langkah kaki Abimanyu hampir saja sampai padanya dan.
Grep!
Lilith merasakan sentakan dari belakang punggungnya, lalu sebuah tangan melingkar di depannya. Lilith segera berbalik dan menunjukkan buku itu pada Abimanyu.
"Abi, gawat! kertasnya hilang!"
"Aku tahu, kamu yang ngumpetin." Abimanyu tak ambil pusing.
"Nggak ada," Lilith menunjukkan sakunya yang kosong. "Aku memang berniat buat ngambil kertas itu untuk aku sendiri tapi kayanya hilang pas aku lari, deh!"
Abimanyu mendesah, memijat pelipisnya. Mereka tahu, jika kertas itu ditemukan orang lain, mereka jelas akan jadi bahan ejekan kawannya. Sudah jelas dari percakapan itu, siapa lagi yang berani surat-suaratan di sekolah kalau bukan pasanga Lilith Himalaya dan Abimanyu Nareza?
"Ya sudah, kalau kamu nggak mau dapat masalah, ayok kita cari." Abimanyu meraih jemari Lilith dan mengajaknya kembali untuk menyusuri pijakan mereka lagi.
Sementara di kelasnya, Rio sedang membaca sesuatu yang lebih menarik dari pada apapun. Rio memotretnya sebentar lantas menyimpan kertas tersebut di sakunya. "Lumayan, bisa buat tiket ngajakin jalan Lilith."
to be continued....