"Lith, sebenarnya aku mau istirahat sebentar dari tim basket, karena sudah kelas 12 dan aku diwanti-wanti Mama agar bisa dapat hasil terbaik," aku Abimanyu. Ia menurunkan kecepatan laju motornya agar suaranya bisa sampai pada pendengaran Lilith.
"Terus kenapa hari ini kamu malah mau ikut pertandingan? Ini cuma buat senang-senang aja, kan?" Lilith mengeraskan suaranya. Mereka sedang menuju ke lapangan basket untuk latihan sekali lagi sebelum pertandingan.
Abimanyu mengubah posisi spion agar ia bisa menatap Lilith dengan semburat oranye milik sang surya yang nyaris tenggelam. "Sebenarnya Bu Rahma sudah bilang, khusus untuk anak kelas 12 nggak bisa lagi ikut kegiatan basket dan disuruh fokus sama ujian. Tapi kayanya aku sama beberapa teman-teman mau membujuk Pak Danan agar bisa ikut sekali lagi. Kamu tahu, kan? sejak awal, angkatan kita yang banyak ikut ekskul basket. Kelas 10 nggak terlalu tertarik sama basket kayanya."
"Kamu yakin bisa membagi waktu untuk persiapan ujian dan lomba itu?"
"Aku usahakan. Aku dan yang lain cuma ikut latihan satu jam. Sisa waktunya buat belajar."
Lilith tak merespons lagi hingga mereka sampai di lapangan sekolah. Danis menyapa Lilith dan memberikan s**u kotak padanya.
"Tumben banget, Den," ujar Lilith. Ia menatap Abimanyu yang sedang pergi untuk mengganti pakaiannya.
"Kamu suka itu, kan? Tadi aku niatnya beli buat adik aku, tapi ternyata dia nggak suka yang rasa stroberi."
"Oh, jadi begitu. Omong-omong, terima kasih, ya!" Lilith segera mencoblos menggunakan sedotan dan menyesapnya.
"Ah, iya, Lith, aku dengar Abimanyu mau kuliah di IT Bandung?"
Lilith mengerutkan kening. "Masa? dia nggak bilang soal itu, lho."
"Masa sih kamu pacarnya nggak tahu?"
Lilith menggeleng. "Enggak, kita sudah jarang komuikasi. Maksudku, masih, sih, cuma nggak sesering dulu."
"Lagian kalian satu komplek, kan? Tapi setidaknya sering kencan."
Lilith tertawa. "Kata siapa?" Namun, ia terbengong ketika melihat Abimanyu sudah turun ke lapangan bersama Gerio. "Rio? Sejak kapan dia ikut basket?"
"Sejak kemarin," jawab Danis. "Aku juga tahu dari temanku yang sekolah di SMA Pelita Bangsa, dia sering main untuk sekolah itu walaupun dia bukan siswa di sana. Kemarin Pelita Bangsa tanding sama SMA 1, aku diajak lihat pertandingan dan kaget karena Rio main di sana."
"Jadi?" Lilith menata Danis yang sedang tertawa.
"Dia bilang butuh uang, makanya beberapa kali gantiin pemainnya Pelita Bangsa. Tau nggak? Ternyata Rio lebih mahir dari yang aku kira. Jadi, ya, karena cuma aku yang tahu soal itu, aku minta Rio supaya ikut ekskul basket di sekolah dan untuk pertandingan nanti." Danis menyenggol lengan Lilith. "Jangan bilang Rio, ya? Anggap saja kamu nggak tahu soal ini."
Lilith tersenyum. Lantas ia membiarkan Danis kembali berlatih dengan mereka. Anggota dibagi menjadi dua tim. Tim Abimanyu dan Tim Gerio. Lilith berada di tribun dan menonton pertandingan bersama Arum, teman sekelasnya yang kebetulan datang.
"Untung ada kamu, Rum. Kalau enggak, kaku banget aku di sini sendirian," ujar Lilith, seraya menatap Abimanyu dan Rio yang sedang menjadi pusat perhatiannya.
"Aku diajak Abimanyu tadi pas jam istirahat. Omong-omong, kamu tim pacar atau adik rasa pacar?" gurau Arum.
Namun Lilith menjadi tersentak dan tersenyum kaku ketika menyadari jika Arum akhir-akhir ini memang agak dekat dengan Abimanyu. Apa lagi setelah Lilith salah paham soal buku Tips Move On yang diberikan Abimanyu. Karena sebenarnya Abimanyu ingin meminta tolong Lilith untuk mengembalikan buku itu ke Arum. Namun Lilith tak bertanya mengapa Abimanyu meminjam buku itu.
"Kamu tim mana?" Lilith bertanya balik.
"Tim Abimanyu, deh. Dia jelas udah lama main basket dan dia juga ketuanya. Jadi sudah pasti tim dia yang menang, kan?"
"Kalau begitu, aku harus milih tim yang nggak dipilih kamu. Tim Rio." Meski kenyataannya hasil tim Abimanyu lebih unggul tiga poin dari tim Rio.
Arum menatap Lilith dengan bingung. Ia cemas jika sebenarnya Lilith sedang cemburu. Namun ia teringat sesuatu. "Sebenernya latihan kali ini juga ada taruhannya, kamu sudah tahu?"
Lilith menggeleng, balass menatap Arum. "Taruhan apa?"
"Danis sih yang bilang. Dia bilang Rio susah dibujuk buat ikut ekskul basket itu. Jadi katanya Abimanyu tiba-tiba datang nantangin Rio, kalau seandainya kali ini Rio bisa ngunggulin skil Abimanyu, Rio bakal jadi kapten basket. Sebenanrnya Abimanyu sering lihat Rio main basket, cuma kayak buat main-main dan nggak pernah serius gitu, makanya dia mau lihat gimana Rio kalau main serius."
To Be Continued....