Aku pikir setelah pertemuan terakhir itu, Revan akan menjauh. Atau minimal, aku bisa mengabaikannya dan kembali ke hidupku yang datar tapi tenang.
Tapi sore ini… dia berdiri di depan apartemenku.
Tanpa kabar. Tanpa alasan.
"Kamu ngikutin aku?" tanyaku, setengah panik, setengah bingung.
"Enggak. Cuma kebetulan lewat dan penasaran... kamu pulang jam berapa."
Kebetulan? Revan bahkan tidak tahu di mana aku bekerja.
"Revan, ini udah keterlaluan. Kamu enggak bisa muncul seenaknya gini."
Dia mendekat. Lagi-lagi terlalu dekat.
Hidung kami hanya berjarak beberapa senti. Nafasnya hangat. Matanya dalam.
"Kalau aku bilang aku kangen… boleh nggak?"
Aku kehilangan kata-kata. Otot wajahku kaku, tapi d**a terasa panas.
Kupikir itu marah. Tapi sejujurnya—itu deg-degan.
"Kamu nggak punya batas ya?"
"Aku punya. Tapi kamu bikin aku lupa semuanya."
Ia menyentuh rambutku pelan, menarik satu helaian dan membiarkannya meluncur di jari-jarinya.
Gerakan itu sangat sederhana. Tapi kenapa terasa seintim itu?
"Revan… kita bukan siapa-siapa."
Aku mencoba mengingatkannya. Mungkin juga diriku sendiri.
"Tapi kamu ngerasa kita ada sesuatu, kan?"
Dia menatapku, tanpa senyum, tanpa rayuan. Serius.
Aku membuka pintu apartemenku. Masuk. Tapi tak langsung menutupnya.
Mungkin logikaku masih berusaha berkata tidak.
Tapi hatiku… ingin tahu,
sejauh apa Revan bisa membuatku jatuh tanpa sempat berpikir.
Dan dia masuk.
Tanpa sepatah kata.
Dengan langkah tenang dan aura seperti badai yang menunggu waktu untuk meledak.
Sore itu, aku membiarkan Revan duduk di ruang tamuku.
Bersandar di sofa dengan kaus yang melekat di dadanya karena peluh, sementara aku menyiapkan dua gelas air dingin yang tanganku sendiri gemetar saat menuangkannya.
Ini salah, pikirku.
Tapi kenapa terasa sangat… menyenangkan?