Aku pikir Revan hanya akan duduk sebentar, lalu pergi seperti angin sore. Tapi ternyata, dia betah. Terlalu betah.
Sudah hampir satu jam kami di ruang tamu.
Aku di ujung sofa, dia di ujung satunya. Jarak kami hanya beberapa langkah. Tapi ketegangannya… seperti kabel listrik terbuka.
“Kamu nggak takut?” tanyaku pelan.
“Takut kenapa?”
“Duduk di tempat cewek yang bahkan kamu gak benar-benar kenal.”
Dia tertawa kecil. Nada suaranya berat, seperti senja yang mulai turun.
“Justru karena aku nggak kenal, aku pengen tahu. Kamu itu siapa sih sebenarnya?”
“Aku biasa aja, Revan.”
“Biasa? Yang bikin jantungku berantakan gini?”
Aku menghela napas. Mencoba tidak larut dalam sorot matanya yang begitu... menuntut.
“Kenapa kamu selalu bicara kayak aku ini... sesuatu?”
“Karena kamu memang sesuatu,” katanya sambil mencondongkan tubuh.
Dia tidak menyentuhku. Tidak mencoba menciumku.
Dia hanya... menatap.
Dan anehnya, itu jauh lebih mengguncang dibanding sentuhan apa pun.
Tatapan Revan menelanjangiku—bukan secara fisik, tapi secara emosi.
Aku merasa seperti dia bisa melihat ke dalam luka-luka kecil yang kusembunyikan selama ini. Luka karena mantan, luka karena orang tua yang dingin, luka karena selalu merasa… tidak cukup.
“Kamu tahu, Nadine,” bisiknya. “Kadang yang paling berbahaya bukan tubuh. Tapi mata. Kamu punya mata yang bikin orang nggak bisa pergi.”
Aku menunduk.
“Dan kamu punya mulut yang terlalu jujur buat cowok kayak kamu.”
“Aku nggak mau bohong soal apa yang aku rasain.”
Sunyi.
Hanya suara detak jam dinding dan degup jantungku yang makin tak karuan.
“Kamu udah punya pacar?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum. Dan kamu?”
“Nggak ada yang tahan sama aku.”
Dia tersenyum—pahit.
“Mungkin karena aku terlalu liar,” tambahnya pelan.
Ada keheningan di antara kami. Tapi bukan keheningan canggung.
Lebih ke... keheningan yang mengerti.
Malam itu, Revan tidak memaksaku untuk membuka pintu hatiku. Dia hanya duduk. Diam. Menemani. Dan membiarkanku merasa… dilihat.