Malam ini terasa lebih lambat dari biasanya. Lampu kamar temaram, menyorot samar ke dinding, menciptakan bayangan lembut dari tirai yang bergoyang perlahan. Rena berdiri di depan cermin, mengenakan piyama satin tipis warna coklat s**u. Suara detak jarum jam di dinding terdengar jelas—setiap detiknya seperti menghitung kegelisahan yang ia coba sembunyikan.
Revan belum mengirim pesan.
Sudah hampir dua jam sejak mereka bertengkar kecil sore tadi. Hanya karena hal sepele. Tentang dia yang datang terlambat saat janji makan malam. Tapi bukan itu yang mengganggu Rena. Yang membuatnya panas dingin adalah bagaimana tatapan Revan saat minta maaf—lembut, tapi menyimpan bara.
Tatapan itu seolah berkata: “Kamu boleh marah, tapi aku tahu kamu tetap menginginkan aku.”
Dan sialnya, Revan benar.
Rena menarik napas panjang. Ia mendekat ke tempat tidur, duduk, lalu memeluk lututnya sendiri. Seolah diam bisa membuat gejolak di dadanya reda.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan terdengar dari arah pintu apartemennya. Ia menoleh, jantung langsung berdebar. Tanpa perlu menebak dua kali, dia tahu siapa di balik pintu itu.
Revan.
Dan saat pintu dibuka, pria itu berdiri di sana, mengenakan jaket kulit hitam, rambutnya sedikit berantakan, dengan aroma khas yang langsung menusuk hidung dan... memori.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Revan melangkah masuk. Tatapannya tajam, tapi bukan marah. Lebih seperti... rindu yang tak sabar.
“Aku tahu kamu belum tidur,” katanya pelan, suaranya berat dan rendah.
Rena tak menjawab. Ia mundur selangkah, seolah memberi ruang. Tapi Revan justru mendekat.
Tangannya menyentuh pipi Rena, lembut, namun ada ketegangan samar. Jari-jarinya bergerak perlahan ke leher, seperti ingin memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata.
“Kamu nggak bisa jauh dariku terlalu lama,” bisiknya.
Rena masih diam, tapi tubuhnya tak menolak. Matanya menatap Revan—tajam, penuh tanda tanya, tapi juga menyerah.
Dan di antara jarak yang tipis itu, udara seakan menebal. Ada sesuatu yang tertahan, seperti suara yang tak terucap… atau hasrat yang tak bisa ditahan terlalu lama.