Rinai hujan basahi aku temani sepi yang mengendap kala aku mengingatmu dan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpi kujalani hidup sendiri andai waktu berganti aku tetap tak'kan berubah
Aku selalu bahagia saat hujan turun karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Selalu ada cerita tersimpan di hatiku tentang kau dan hujan tentang cinta kita yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum sepanjang hari karena hujan pernah menahanmu disini untukku.
Aku melangkahkan kakiku dengan mantap memasuki lobby hotel megah ini. Vera terus mengenggam tanganku yang aku sendiri merasakan gemetaran. Apa aku sanggup? Apa aku rela melihat Dimas bersanding dengan wanita lain? Apa aku sanggup?
Berulang kali aku memejamkan mataku dan menghela napas sembari terus kakiku melangkah memasuki ruangan luas tempat acara pernikahan.
Dimas dengan entah siapa wanita yang dinikahinya aku lupa. Dan tolong para pembaca yang ingat, ingatkan aku siapa nama wanita sialan itu! "Elo yakin mau masuk kedalam? Pulang aja yuk" ajak Vera aku menolak dengan tegas dan berjalan kearah pagar ayu, aku menuliskan namaku di buku tamu itu "SORAYA" begitu tulisanku. Sengaja, capslockjebol.
Aku melangkah semakin masuk kedalam dan memilih duduk di sebuah meja bundar yang masih kosong bersama Vera. Pesta pernikahan yang mewah dan meriah. Dulu aku sempat bermimpi akan menikah denhan Dimas. Namun semua mimpi itu hilang entah kemana, aku kini berada dipernikahan Dimas dimana pengantin wanitanya bukan aku.
Aku mengedarkan pandanganku menatap satu persatu tamu undangan dan mataku menatap sosok wanita yang sudah aku ingat diluar kepala, wanita yang aku hormati. Dia juga menatapku dan melangkah mendekati aku. Wanita itu cantik dengan balutan kebaya hijau dan make up tipis diwajahnya. Semakin terlihat cantik dan muda.
Aku tersenyum tipis saat dia sudah ada di depanku. Demi menjaga kesopanan aku berdiri di hadapannya "'Aya? Kamu dateng sayang?" ujarnya penuh prihatin. Entah apa maksud nada pertanyaannya.
Tapi aku merasa dia begiu prihatin dan cemas denganku "lya Bunda, Aya diundang sama Dimas dan Aya datang. Selamat ya Bun, ayah dimana?"
Wanita ini Bunda Dimas, aku sudah tidak lagi memanggilnya tante atau bibi, tapi Bunda. Karena dia adalah calon mama mertuaku bukan? Dan hubungan 11 tahun bukan hubungan yang sebentar. "Maafkan Dimas ya sayang, Bunda juga gak habis pikir dia tiba - tiba bilang mau menikah. Bunda kira sama kamu tapi.."
"Udah bun, gak usah dipikirin. Mungkin kita enggak jodoh" ujarku. Sejujurnya berkata seperti ini sangat menyakitkan. Aku rasanya ingin bertanya kepada Bunda dan Ayah Dimas, kenapa sampai Dimas menikahi wanita lain? Sementara mereka tau bahw akulah wanita yang 11 tahun lamanya mengikrarkan status berpacaran dengan
Dimas.
Suara alunan music merdu terdengar dan pintu besar terbuka lebar. Di sana aku melihat seorang pria yang sangat aku kenali luar dalam. Ah benarkah aku mengenalinya? Aku merasa dia asing.Dadaku berdetak cepat, mataku memanas saat menatapnya. Dia tersenyum lebar, dilengannya bertengger sebuag tangan mungil dan disebelahnya terdapat wanita yang sangat cantik berjalan disisinya. Aku hendak menangis, aku hendak berteriak namun semampunya aku menahan
Dimas dan wanita itu berjalan dengan anggun melewati satu per satu tamu undangan. Semua mata tertuju pada pasangan pengantin baru yang sedang berbahagia. Tau mereka begitu bahagia?
Sementara aku? Menangisinya? Saat Dimas melangkah melewatiku tanpa menoleh sedikitpun, hatiku luluh lantak. Hancur lebur semuanya.
Terasa sakit dan sangat mengiris hati. 11 tahun lamanya aku membangun dinding kasih sayang mempertahankan dan memperjuangkan hubungan ini. Semua terlihat baik - baik saja, namun ternyata di dalamnya hubungan ini begitu rapuh. Aku tak menyadarinya, karena aku terlalu bodoh dan terlalu percaya akan komitmen orang lain.
Aku merasa aku mengenal Dimas dengan sangat baik. Dia pria yang baik, ramah, romantis dan tenang. Namun apa aku yakin seperti itu Dimas aslinya? Atau aku yang sama sekali tak mengenalsosok Dimas selama 11 tahun ini
Para tamu undangan sudah berbaris rapi untuk menyalami pengantinnya yang duduk disinggasana diatas panggung. Aku mengusap air mataku yang memang terjatuh. Aku tak bisa menahannya. Katakan saja aku ini lemah. "Pulang yuk, elo butuh istirahat" ujar Vera, dia membujukku mungkin agar aku tidak sakit hati lagi melihat pemandangan mengerikan itu.
Aku menggeleng "gue mau beri ucapan selamat pada Dimas" "Eehhh.. Gak usah. Ayo aja kita pulang" "Gue akan baik - baik aja Ver, tenang saja" ujarku sok kuat.
Aku tentu tidak baik - baik saja. Aku bahkan tidak merasakan aku berpijak dibumi. Aku merasakan tubuhku melayang tak tau entah kemana. Dadaku nyeri dan terasa banget telah berdarah.
Aku melangkah dengan pasti menuju Dimas.
Sekuat tenaga aku memasang senyum tulusku untuknya.
Dimas sedikut kaget melihatku yang berdiri dihadapannya dengan senyuman lebar dan air mata yang aku rasa sudah mengumpul di pelupukmataku. Karena penglihatanku sedikit kabur.
"Selamat ya Dimas, aku turut bahagia dengan pernikahan kalian" aku merasakan pipiky basah.
Pasti aku menangis. Kenapa mata ini tidak bisa diajak kompromi sih! Aku tetap tersenyum lalu mengulurkan tanganku
Dimas menatapku iba dan menerima uluran tanganku "Selamat. Aku berharap kalian bahagia dan langgeng" ujarku sekali lagi tanpa menghilangjan senyum di bibirku, namun pipiku semakin basah oleh air mata "Maafkan aku Aya" ujarnya pelan. Aku tersenyum dan menepuk pundaknya "Selama 11 tahun akan aku ingat semuanya, itu akan menjadi kenangan terindah. Bye" aku melangkah menjauh meninggalkan Dimas
Aku tidak tahan! Aku benae - benar tidaj bisa menahan lagi. Dengab langkah cepat aku keluar dari hotel ini. Ini neraka dan aku tak bisa berada disinu lebih lama. Itu menyakitiku. Aku tidak peduli pada Vera yang nanti akan mencariku, yang jelas aku ingin pergi jauh dari hotel ini
Grudug.. Gruduug...
Suata gemuruh terdengar, pertanda akan turun hujan. Beberapa kali kilag terus menyambar. Entahmengapa cuaca yang tadinya baik- baik saja, berubah menjadi seperti ini. Seperti mencekam,Tapi aku tak peduli.
Aku berjalan di pinggir jalan, terus tersenyum dan menepuk- nepukkan dadaku berharap rasa sakit dan nyeri di d**a ini hilang. Seketika turun hujan lebat aku tak mencoba menghindar. Aku suka hujan - hujanan seperti ini. Paling tidak otakku bisa sedikit dingin dengan terkena air hujan ini.
Aku memilih duduk di sebuah bangku, aku tak peduli gaunku yang hancur karena hujan deras ini.
Aku menangis meluapkan segala sakit dihatiku.Tak akan ada seorang pun yang tauu aku sedang menangis bukan? Tangisanku akan tertutup oleh hujan. "Aku suka sama kamu... Kamu mau jadi pacar aku?" "Kamu serius nembak aku Dim?" "Aku serius nembak kamu Soraya, kamu mau kan jadi pacar aku?" "Janji ya, kita akan selalu setia dan tidak saling meninggalkan?"
Aku mencengkram kuat - kuat dadaku mengingat saat pertama kali Dimas menyatakan cintanya padaku. Nyatakan cinta ala anak abg, saat itu aku bahagia. Karena Dinmas adalah pacar pertamaku.
Aku menepati janji yang dia buat bersamaku untuk selalu setia, tapi kenapa dia tidak menepati janjinya untuk setia padaku juga? "Kamu ngapain kesini?" "Aku khawatir sama kamu, kamu sudah makan sayang? Kita kedokter ya. Aku gak bisa tidur kalau gak liat kamu" "Dimas kamu lebay ah, aku gak apa - apa. Makasi ya kamu rela ujan - ujanan demi mengkhawatirkan aku"
Dimas tak lagi peduli, dia telah berubah seeiring dengan perubahan status kita masing - masing.
Dimas bukan Dimasku yang dulu, Dimas sudah berbeda. Aku tak mengenalnya.
Aku terus menangis menikmati hujan yang semakin deras. Aju tak peduli dengan tubuhku yang mulai menggigil kedinginan. Aku sanma sekali tak peduli. Siapa yang akan tau bahwa aku sedang menangis? Tidak akan ada yang tau. Seolah air mataku jatuh dan terbawa oleh hujan
"Apa yang paling kamu suka di dunia ini Aya?"
"Aku suka hujan" "Hujan? Kenapa? Kan bisa bikin basah dan sakit"
"Entahlah, aku sangat suka hujan. Aku bisa mengadu banyak hal pada hujan dan saat aku bersedih, Hujan seolah menghapus air mataku.
Membawa kesedihanku mengalir" "Hujan teman setia saat lagi galau" "Dan kamu Dimas? Apa yang kamu suka?" "'Aku suka dua hal di dunia ini, pertama aku suka kedua orang tuaku, dan yang kedua aku suka sama kamu. Kamu hidupku, kamu semangatku Aya" "Benarkah?" "Tentu, aku tidak ingin berpisah denganmu.
Jangan pernah berpilkir untuk meninggalkan aku ya, apalagi pergi menjauhiku. Aju bisa gila dan mati tanpamu"
Aku tertawa keras mengingat setiap kata cinta yang diberikan Dimas padaku. Dulu semua terasa indah, namun sekarang semua terasa menyakitkan.
Aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus melangkah kedepan, menatap masa depan. Aku tak boleh terus menerus menggalau sepeerti ini,tak boleh terus menerus menggalau sepeerti ini, demi Mama, demi Vera dan adik kecilku Boy. Aku harus move on!