Tak mudah tuk melepas bayangmu
Kau yang pertama mengisi relung hatiku
Tak mudah tuk melepas rasa ini
Tapi ku sadari diriku lebih berarti
Berlari dan terus ku berlari
Hingga rasa ini pergi
Apa yang harus ku lakukan untuk melepaskanmu
Sampai mati kan ku coba, aku tak bisa
Apa yang harus ku lakukan untuk menghapuskanmu
Yang terukir di hatiku
Pernah ku berpikir semua salahku
Kau berpaling pada cinta yang lain
Namun akhirnya aku mengerti
Yang kau miliki bukan cinta sejati
Ku kira kita kan berdua selamanya
Tak ku duga kau kan mendua
Tapi buat apa ku bersama dia
Yang tak mencintaiku
Kau yang terukir dalam hatiku
Tak mungkin ku hapuskan
Aku merasa kepalaku cukup berat, perlahan aku membuka mata dan cahaya silau yang aku lihat.
Kepalaku terasa berat kelopak mata juga tak bisa terbuka. Sangat sulit. Aku mencium aroma khas rumah sakit, bau obat - obatan.
Merasa penasaran aku membuka mataku lebih lebar dan menatap langit - langit kamar yang berwarna putih, aku ini sedang dimana? Seingatku tadi aku sedang duduk disebuah bangku taman, menikmati betapa mirisnya hidupku ini. "Mba sudah sadar?" aku menoleh kearah sumber suara. Seorang wanita cantik tersenyum kearahku.
Dia mengenakan pakaian putih dan rok putih, dari tampilannya dia sepertinya seorang perawat "Minum dulu mba, atau mau makan sesuatu? Ada yang sakit?" tanyanya
Aku menggeleng lemah, ingin bertanya tapi aku serasa tak punya kekuatan untuk bertanya. Ada apa denganku? Kenapa aku disini? Siapa yang membawaku? "Mba tadi ada yang mengantar kesini, kami dari pihak rumah sakit sudah menghubungi ibu anda dan dia akan segera tiba. Mba istirahat saja dulu" ujar perawat tersebut sembari mengecek selang infus yang terpasang ditanganku.
Sungguh bibirku terasa kelu hanya untuk menanyakan siapa yang membawaku kesini dan apa yang terjadi pada diriku? Ah susah sekali.
Berulang kali aku mencoba mengeluarkan suara tetap tidak bisa. Apa aku lumpuh? Sehingga tidak bisa bicara? Oke Aya kau lebay! "Mba kalau perlu apa - apa bisa tekan tombol ini ya, mba istirahat saja. Saya akan keluar dulu"
Perawat itu akhirnya pergi dan aku pada akhirnya tidak tau siapa yang berbaik hati mengantarkan aku kesini. Aku hanya mendesah pelan. Siapapun yang menolongku aku mengucapkan terima kasih banyak. "Aya!! Kamu gak apa - apa?? Mama kan sudah bilang, kamu gak usah datang. Ini kan jadinya?" ujar Mama yang masuk ke kamarku lalu menerjang tubuhku memelukku erat. Tangannya terus membelai pipiku. Aku tau mama begitu khawatir.
Aku tidak hanya sakit fisik, tapi hatiku terlalu sakit dan rapuh. "Aya!! Gue nyariin elo kemana - mana tau! Elo malah disini. Elo bikin gue khawatir" dateng deh sahabat baik gue Vera. Ini salahku memang yang pergi begitu saja tanpa pamit pada Vera yang membuat sisa - sisa orang yang menyayangiku jadi panik. Maafkan aku yaa!"Sstt!! Jangan nangis lagi sayang, kamu harus sehat ya. Kamu harus kuat. Mama ada untuk mendukung kamu" ujar Mama dengan lembut mengusap air mataku.
Usapan lembut mama membuatku merasa tenang dan begitu nyaman, aku merasa lelah dan memejamkan mata hingga sama sekali tak ingat apapun
***
"Bagaimana keadaanmu sayang?" sapa Mama dengan senyuman hangatnya pagi ini. Aku tersenyum
"Lebih baik ma, mama gak kerja?"
Mama menggeleng "Mau menemani kamu di sini.
Besok kamu sudah boleh pulang dari rumah sakit" ujar Mama sembari mengupas apel untukku
"Ma, siapa yang membawaku kesini? Dan kenapa aku bisa dibawa kesini?"
Aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku lagi, aku hanya ingin tahu siapa yang membawaku dan aku kenapa? Walaupun kemungkinan tahu dari mama sangat kecil bisa dicoba kan? Perawat disini juga tidak ada yang tahu siapa orang yang membawaku kemari
"Mama tidak tau siapa yang membawamu kemari, mama mendapat telpon dari pihak rumah sakit bahwa kamu berada disini, kata perawat kamu datang dengan kondisi basah kuyup digendong seorang pria, kamu kehujanan dan pingsan" ujar mama. Jawaban mama sama persis dengan jawaban perawat yang aku tanyakan "Hhh..." itu suara desahanku.
Aku ingat, malam itu aku sedang ada di pesta mewah penuh bahagia Dimas dan istrinya. Mereka begitu bahagia, mereka terlihat begitu serasi. Aku tak mampu menahan rasa sesak di dadaku, rasa hancur dan kecewaku. Aku melangkah pergi meninggalkan hotel itu. Berjalan sendirian dibawah hujan, menangis tanpa perlu siapapun tahu bahwa aku menangis.
Sampai saat ini rasa sakit itu ada, rasa nyeri tersakiti dan kecewa itu masih membekas, dadaku sesak. Aku berusaha sekuatnya melupakan Dimas, namun tetap bayangannya selalu ada. Dia sudah terukir jelas dalam hatiku selama 11 tahun, butuh waktu lama untuk menghapus dia yang terukir indah dihatiku. "Kamu gak apa - apa Aya?" tanya Mama yang melihat aku mulao berkaca - kaca lagi. Aku benar- benar rapuh, tidak bisa menyembunyikanperasaanku. Selalu saja membuat orang - orang disekitarku panik.
Cklek!
Pintu kamar terbuka dan muncullah laki - laki tampan dengan kemeja biru dan berjas putih, dia pasti seorang dokter. Dia berjalan kearahku dan mama lalu tersenyum. Oke untuk sesaat aku terpesona dengan senyumnya. Tidak! Itu enggak boleh hatiku hanya milik Dimas. Apa? Dimas? Huh sudah tidak lagi! "Selamat siang Aya, siang ibu" "Siang dok" sambut mama dengan senyum
Dokter itu mengambil stetoskop dan mulai memeriksaku, mataku tak lepas memandangnya.
Duh kalau dokternya ganteng gini, aku lebih suka dirawat di rumah sakit berhari - hari deh
Dokter muda itu tersenyum kearahku, aku jadi salah tingkah "Aya, kondisi kamu sudah mulai stabil. Mungkin akan saya lakukan beberapa tes untuk Aya" ujar Dokter itu. "Apa ada sesuatu yang membahayakan putri saya dok?" tanya mama khawatir. Ih mama lebay, aku kan cuma pingsan!
Dokter itu tersenyum dan menatap kearahku "Ini hanya masalah tes psikisnya saja bu, pingsan kemarin mungkin karena lelah dan kehujanan.
Istirahat saja sudah cukup. Nanti akan saya beri beberapa vitamin" ujar dokter itu. Aku mendengar mamaku mendesah lega. "Baiklah Aya, beristirahatlah dulu ya" ujarnya menepuk pundakku. Ahh doter ini tampan dan mempesona banget.
***
Dua hari kemudian "Sudah aku peringatkan kepadamu, Aya! Jangan keluar kamar! Ayo kembali ke kamarmu" bentak nenek sihir ini. Wanita tua, eh bukan perawan tua ini memang sangat cerewet. Aku sampai sebal dibuatnya! "Sus, aku ini sudah sehat! Lihatlah, aku sudah jauh lebih baik! Aku bosan di kamar dan ingin berjalan jalan" gerutuku sembari melangkah meninggalkannya. Dia selalu membuatku sebal setiap kali bertemu.
Dia menarik lenganku, perlu kalian ketahui dia adalah kepala perawat di paviliun ini. Namanya
Flora, nanggung amat ya namanya. Harusnya Flora
Fauna aja sekalian! Haha. Lebih cocok! Suster
Flora ini adalah perawan tua yanggagal menikah dengan kekasihnya. Upps! Omong- omong gagal menikah, bukankah aku mengalaminya juga? Oh
Aya! Berhentilah mengatai Suster Fauna ini. "Ikut saya! Ayo kamu harus istirahat!!" tegasnya dengan keras menarik lenganku sedikit melawan dan akhirnya aku terjatuh. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Kok jadi nyanyi? Aelah! "Aaw!!" pekikku kemudia menatap suster itu dentan pandangan kesal "Bangun! Jangan cengeng!" ujarnya "Suster! Sakit tauu!!!" ujarku penuh emosi. "Ada apa ini?" ujar suara berat, aku dan suster
Fauna menoleh dan menatap seorang pria tampan dan gagah mengenakan jas putih dengan logo rumah sakit ini. Dia tampak bercahaya terkena pancaran sinar matahari, silauu men!! "Aya!" dia berjalan mendekati aku dan membantuku untuk bangkit "Kamu gak apa - apa? Suster Flora, kenapa bisa
Aya jatuh??" ini lebay pake banget deh, padahal cuma jatuh begitu aja! Tapi terlalu mengkhawatirkan aku! Sakitpun aku enggak. "Maaf dok, tapi Aya sedikit susah saya atur" dokterganteng itu tersenyum lagi. Duh bener - bener memikat hati! "Aya, kamu tidak apa - apa? Ayo kita duduk di sana saja" dokter itu merangkulku dan membawaku duduk di bangku taman rumah sakit. "Maaf ya dok, aku hanya bosan berada di kamar.
Lagipula aku sudah merasa lebih baik" aku membela diri "Tidak apa, sore ini kamu juga bisa pulang.
Kenalkan nama saya Adrian" dia mengenalkan dirinya. Aku tersenyum "Terima kasih dokter Adrian sudah merawat dan menjagaku dua hari ini"
Kalian harus tau, Adrian ini adalah dokter psikolog di rumah sakit ini. Dia juga yang merawatku. "Tentu, sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter. Kamu hampir saja mengalami depresi..." "Tapi enggak jadi karena keburu dirawat dokter" aku tertawa hambar mengingat penyebab aku hampir depresi siapa lagi kalau bukan Dimas.
Adrian tersenyum hangat "Berpikirlah yang positif, jika dia bukan jodoh untukmu kamu harus bisa ikhlas menerimanya. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan baik" ujarnya. Aku tidak menjawabhanya diam menatap kaki telanjangku
Dokter Adrian tau sedikit tentang masalahku dengan Dimas yang membuatku dua hari ini menjadi penghuni Rumah sakit ini. Huft! Ironi di atas ironi memang, Dimas dan istrinya pasti tengah asyik berbulan madu, sementara aku? Aku berbulan madu di rumah sakit. "Jangan dipikirkan lagi" tepukan halus dipundaky menyadarkanku dari lamunan indahku tentang Dimas. Aku melirik dokter Adrian yang tersenyum kepadaku "Masih susah untuk dilupakan dok, dia terlalu indah untuk aku benci. Bahkan dia sudah terukir manis dihatiku dok. Bagaimana aku menghapus dirinya yang terukir dihatiku? Rasanya itu tak mudah!" jawabku sembari menghela napas panjang "Saya paham, tenanglah semua akan indah pada waktunya, percayalah" ujar dokter Adrian berusaha menyemangatiku