Pagi yang sangat indah dengan udara sejuk dari sebuah mesin bernama Air Conditioner. Aku duduk mengerjakan perkerjaan seperti biasa didepan komputer. Ditemani file yang menumpuk dimeja.
Pak Khana memanggilku. Masuk kedalam ruangannya. Ia menanyakan tentang sekejulnya dan aku pun menjawabnya satu persatu. Tidak hanya menjelaskan tentang sekejulnya tapi, sejauh mana persiapannya.
Setelah selesai menjelaskan, mataku menatap wajah yang yang tidak habis menatapku. Meski mimik mukanya yang menunjukan berjuta kebahagiaan. Aku tidak menyukainya. Ini mengganggu profesionalisme.
“Apa ada lagi, pak?” ketegasanku seharusnya menghentikannya permainannya.
Senyuman angkuhnya semakin lebar, menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Ia menunjukan padaku betapa tingginya harga dirinya. Kaki kanannya ia