Sebuah ruangan tertutup beralaskan es yang membeku. Semua orang tertawa, meluncur kesana-kemari dengan penuh kebahagiaan. Lampu-lampu yang sangat terang memantulkan cahaya es yang terlihat seperti kristal.
Kha memakaikanku pakaian berbulu dan sepatu skate tebal yang disewanya. Sementara aku masih terus saja memohon padanya untuk meninggalkan tempat ini. Tidak memperdulikan ocehanku ia hanya sibuk dengan kakiku.
“Kha aku gak bisa”
“Aku bakalan ngajarin kamu. Liat mereka aja bisa!” ia menunjuk pada sekumpulan anak dua belasan yang tengah belajar eskate.
“Mereka masih kecil. Aku udah tua”
Kha melaju keatas es tersebut dan meluncur dengan indahnya “lihat mudahkan” ucapnya. Setelah menyombongkan dirinya, ia kembali padaku, mencoba meraih tanganku.
“Khaaaa”
Aku mencoba menolak. Tangannya