Berjalan menuju parkiran ia terus saja menggodaku. Kami berpegangan tangan dengan erat sepeti sepasang kekasih. Seberapa keras kami saling dorong tangan kami tidak terlepas.
Dalam kebahagiaan kami. Tepat saat kami sampai didepan mobil Kha. Semua tawa yang terlepas kembali terkunci. Terkurung dalam sangkar rasa bersalah.
Sepasang wajah dengan ekspresi dingin muncul. Mereka merobek kebahagiaan kami kedalam serpihan sketika. Ditelan oleh rasa sakit mereka. Kami yang berusaha keras bahagia diatas penderitaan orang lain hanya menatap mereka.
Tanganku berusaha terlepas dari genggamannya tapi, dengan kuat ia menahan tanganku. Memberikanku keyakinan atas lemahnya hatiku.
Mata Nai tertuju pada tangan kami “apa kalian sebegitu bahagianya?” tanya pria yang menggunakan kemeja biru angkuh.
“Nai” u