Flo berdiri di depan cermin melihat penampilan dirinya, dia mencari jejak yang mungkin tertinggal dari kejadian semalam. Bibirnya, ya bibirnya seakan masih menyimpan hangat dari ciuman Deva.
Hari itu dapur kembali sibuk. Flo berdiri di samping Deva menyiapkan bahan untuk acara gala amal hotel. Hidangan utama berbasis daging bebek dengan saus blueberry. Deva membawa blueberry yang sudah dicuci, lalu sekilas menoleh ke arah Flo.
“Flo, kalau masakan itu seperti hubungan. Kalau terlalu hambar, nggak akan diingat. Kalau terlalu pedas atau asam, membuat orang nggak mau makan. Triknya ada di seberapa jauh kamu berani di batas itu.”
Flo tertawa kecil. “Terus, kalau aku salah perhitungan, berarti tamu bisa keracunan?”
Deva menatapnya sambil tersenyum samar, tetapi ada kilatan serius di matanya. “Bisa, tetapi terkadang keracunan itu sepadan.” Kalimatnya menggantung di udara, terlalu sederhana kalau disebut lelucon.
Flo merasa jantungnya berdetak lebih cepat, dia merasa Deva sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.
Lalu, Deva membawa panci kecil lainnya berisi saus. Indra penciuman perempuan ini menangkap aroma kuat dan pekat. Laki-laki ini menyodorkan sendok pada Flo. “Coba, Flo. Asin atau manis?”
Flo menghela napas, mengambil sendok itu, dan mencicipi. Dia pura-pura biasa saja. “Oke kok. Pas rasanya. Teksturnya juga lembut.”
“Seperti siapa, Flo?” Deva mencondongkan tubuhnya, berbisik nyaris nakal.
Flo menatap tajam. “Seperti saus ini. Jangan harap aku mau meladeni permainanmu di sini.”
“Kalau di luar sini?” Deva tersenyum miring sambil menarik langkah menjauh dari perempuan ini.
Flo mendesah kesal. “Gimana bisa dia mengganggu aku dan membuat berdebar di saat yang sama?” Perempuan ini bertanya lirih berharap tidak ada yang mendengarkan.
Pesanan terakhir sudah selesai, tinggal tersisa mereka berdua. Mereka berdua mengutak-atik resep selama dua jam.
“Sendok, Flo.” Deva minta sendok yang masih dipegang Flo. Dia mencicipi juga.
Sebuah kebiasaan normal di dapur, tetapi di antara mereka jauh dari kata biasa. Waktu pada jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Deva memutuskan saus yang mau dipakai.
“Sempurna. Kamu bisa pulang, aku saja yang membereskannya.”
Flo menggeleng. “Aku bantu, kalau kamu membereskannya sendiri. Besoknya, pasti cranky.”
“Selesai ini, temani aku.”
Flo mengangkat alis. “Mau ke mana? Kalau ini alasanmu menyeret aku ke apartemen. Maaf, Dev. Lupakan saja.”
Deva tertawa pelan. “Nggak, aku janji.”
Flo akhirnya berjalan mengekor di belakang laki-laki ini. “Kamu membawaku ke rooftop? Aku enggak pernah ke sini.”
“Karena nggak ada yang mengajak kamu ke sini.”
Mereka berdiri bersebelahan, menatap gemerlap kota. Suasana hening, hanya suara angin yang berbisik.
“Flo,” panggilnya lembut. “Aku tahu kamu mencoba menghindar, tetapi aku nggak bisa.”
Flo sontak menoleh. “Dev, jangan mulai lagi. Semalam, sudah cukup itu sebuah kesalahan.”
“Kamu bilang kesalahan?” Deva menatap tajam hingga sorot matanya seperti mengeluarkan sinar laser. “Bagi aku itu bukan kesalahan.” Deva menghela napas berat. “Aku tahu nggak pernah bermaksud menyeret kamu ke situasi ini. Aku juga nggak bisa membohongi diri sendiri, Flo. Saat, aku mencium kamu—.” Ucapannya terhenti. “Aku nggak bisa mundur lagi.”
Flo menutup wajahnya dengan tangan. “Kamu gila, Dev.”
“Kalau begitu, kita gila bersama.” Deva mendekat. Jemarinya menyentuh tangan Flo, menurunkannya dari wajah. “Flo, lihat aku. Bilang kalau kamu nggak merasakan hal yang sama, aku nggak akan mengganggu kamu lagi.”
Flo membeku, dia ingin berbohong, tetapi bibirnya tidak sanggup. Hingga, jarak mereka semakin menyempit. Deva mencium Flo lebih dulu, tetapi kali ini lebih dalam, lebih berani, lebih penuh hasrat. Hanya ada wangi Deva yang hangat dan memabukkan. Mereka berciuman lama sampai akhirnya Flo mendorong pelan.
“Cukup, Dev. Aku enggak bisa.”
“Jangan bohongi diri sendiri. Kamu juga nggak mau berhenti.” Suaranya rendah nyaris memohon.
Flo menggigit bibir. “Aku pulang.” Flo melangkah cepat meninggalkan rooftop, meninggalkan Deva yang berdiri mematung dengan tatapan penuh luka dan hasrat yang tidak tersampaikan.
Keesokan harinya, Flo mendapat shift siang dengan briefing singkat bersama kru dapur, ketika Deva masuk otomatis pandangan tertuju ke arahnya. Dia memberi instruksi dengan tenang, tetapi beberapa kali tatapannya mengarah pada Flo membuat Rani menyikut lengan Flo dan menyeringai penuh arti.
“Kenapa dia selalu melihat ke arah kamu? Ada apa nih?”
Flo pura-pura sibuk mencatat menu. “Gosip menyebar lebih cepat daripada aroma roti panggang.”
Briefing selesai, kembali fokus dalam pekerjaan masing-masing, sedangkan Flo fokus pada saus dan plating.
Mereka tetap bekerja sama dengan profesional semu, tetapi tatapan mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Laki-laki ini membawa piring berisi bebek dan saus yang sudah disesuaikan. Deva menarik langkah mendekati Flo, lalu menyodorkan piring itu.
“Cobalah, Flo.”
“Apa enggak papa kalau aku mencoba?”
“Nggak papa.”
Flo menyendok sedikit, lalu mengunyah perlahan. “Ini enak banget.”
Deva tersenyum. “Terkadang rasa terbaik muncul saat berani menambahkan sesuatu yang orang lain pikir nggak cocok.”
Ucapannya seperti sindirian. “Kalau kita gagal, kita tanggung risikonya?”
“Iya.”
Deva menjawab sambil memutar tubuhnya, berlalu dari hadapan perempuan ini.
Pesanan terakhir selesai, Deva mendekat untuk membantu Flo plating untuk tamu penting. Tangannya membimbing tangan Flo dengan sentuhan ringan saat menaruh garnish.
“Lihat bagus, kan. Terkadang kita harus berani menaruh sesuatu yang terlalu manis di atas rasa gurih. Kalau berpikir risiko pasti ada, tetapi kalau hasilnya luar biasa, kenapa nggak.”
Flo menelan ludah tidak yakin, sedangkan Deva menatap cukup dalam.
“Flo, kamu tahu nggak? Setiap kali, kamu tersenyum dengan orang lain di dapur, aku cemburu loh, Flo.”
Flo mendengus kesal. “Kamu enggak masuk akal, Dev.”
“Kamu ‘kan yang membuat aku kehilangan akal.” Kali ini Deva menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Aku mengakui kalau salah, tetapi aku juga tahu kalau sudah jatuh terlalu dalam.”
Flo menunduk, hatinya bergetar, rasanya mau marah, mau mengusir Deva sekarang juga, tetapi Deva adalah satu-satunya alasan perempuan ini bertahan hidup.
Kini, perempuan ini merebahkan tubuhnya di ranjang menatap langit-langit kamar. Perempuan ini menyadari kalau hubungannya dengan Deva seperti api, hangat, tetapi bisa membakar habis. Entah kenapa, perempuan ini tidak bisa berhenti mendekat pada api itu.
Ponselnya berdering, nama Deva muncul di layar ponsel. Jemari lentik perempuan ini seolah enggan melewatkan untuk menjawab.
“Halo.”
“Halo, Flo. Aku hanya mau bilang. Aku nggak peduli berapa lama kita punya waktu. Aku hanya ingin kita punya sesuatu, walaupun hanya sebentar. Aku nggak mau melewatkan waktu itu.” Deva mengakhiri percakapan singkat ini.
Flo menggenggam erat ponselnya. Iris matanya berkaca-kaca dan hatinya bergetar.
“Apa aku siap membayar harga dari rasa ini?”