Restoran “The Golden Spoon” sedang memasuki jam sibuk dan setiap orang bergerak seperti sedang berada di medan perang. Uap panas yang naik dari panci besar, aroma bawang putih yang ditumis bercampur dengan wangi kaldu saat mendidih. Dapur saat ini penuh tekanan.
Flo mengiris daging sapi wagyu yang sebentar lagi akan dipanggang. Perempuan ini masih bisa profesional, setelah semua yang terjadi di rooftop. Ciuman Deva masih terpatri jelas di bibirnya, tetapi dia berusaha mengusir bayangan itu. Konsentrasinya kacau saat suara bariton terdengar di sampingnya.
“Ini kenapa dagingnya terlalu tebal? Kalau dipanggang medium, bagian tengahnya bisa tetap dingin.” Gavin tidak hanya melihat daging. Dia juga menatap Flo.
Flo menahan napas sepersekian detik. “Iya, Chef. Aku sedang mengatur ukurannya.”
Deva mengangkat satu alisnya, lalu meraih pisau di dekatnya. “Geser sedikit, aku mau tunjukkan.”
Flo bisa saja menolak, tetapi semua pasang mata di sana melihat ke arah mereka berdua. Perempuan ini menarik langkah mundur.
Tubuh laki-laki ini menebarkan aroma parfum maskulin bercampur asap dapur. Aroma yang membuat jantung Flo berdebar lebih cepat. “Begini, Flo. Satu sentimeter lebih tipis.” Dia memperlihatkan potongan di hadapan Flo.
Flo menelan ludah. Laki-laki ini sengaja mendekatkan wajahnya, membuat jarak mereka hanya satu kepalan tangan. “Aku mengerti.”
“Bagus. Kamu selalu cepat belajar, ini yang aku kagumi dari kamu.”
Flo merasakan perasaannya bergetar hebat. Kata-kata ini terdengar sederhana, tetapi tidak sederhana saat Deva yang mengucapkan, rasanya seperti racun manis yang dibenci sekaligus rindukan.
Flo kembali fokus mengaduk saus, memutar whisk tanpa jeda. Saat Rani, pastry chef sekaligus sahabatnya, melangkah masuk membawa pancil berisi crème.
“Flo, Flo.” Rani bersemangat memanggil sahabatnya.
“Ada apa?”
“Kamu tidak akan percaya yang barusan aku dengar.”
Flo tidak mengalihkan perhatian dari saus. “Kalau gosip tentang tamu selebriti yang datang, aku enggak tertarik, Ran.”
“Ini bukan soal tamu. Yakin kamu tidak mau dengar?”
“Chef Rani, apa kamu enggak melihat aku sedang sibuk mengaduk saus?”
“Aku tahu kamu masih mengaduk saus, yang penting aku kasih tahu. Deva menikah bulan depan.”
Whisk di tangan Flo berhenti beberapa detik. Sausnya hampir pecah sebelum cepat-cepat memutarnya kembali. “Jangan bercanda, Ran. Berapa persen gosip itu akurat?”
Rani senang melihat reaksi sahabatnya, dia mengangkat alis. “Aku dengar langsung dari Mira-PR Hotel. Pernikahan mereka sudah masuk agenda resmi. Calon pengantin perempuan, anak pemilik hotel. Keluarga besar, uang besar, dan pernikahan ala high society.”
Flo mencoba tertawa. “Mungkin, hanya acara bisnis.”
Rani bergerak menjauh dengan ekspresi penuh arti, sedangkan Flo berusaha konsentrasi pada sausnya, tetapi roda pikirannya tidak terima.
Bulan depan artinya hanya tiga puluh hari sebelum Deva berdiri di altar bersama perempuan lain.
Malam itu, service dinner selesai, dapur mulai sepi. Namun, Flo tidak bisa mengusir kabar itu dari pikirannya. Deva masih bersikap seperti biasa tidak ada yang disembunyikan darinya.
Deva menghampiri Flo sambil menaruh apron di atas meja. Laki-laki ini melangkah mendekat, membuat Flo mundur satu langkah, hingga punggungnya menempel ke meja stainless.
“Jangan lakukan di sini, Dev.”
“Kenapa? Takut? Atau terbiasa dengan aku?” Deva menyipitkan mata.
Flo menggenggam kain lap di tangannya erat-erat. “Kita enggak bisa terus seperti ini.”
Deva menggeser lagi tubuhnya lebih dekat. Tangannya hampir menyentuh jemari perempuan ini. “Flo, katakan. Apa kamu benar-benar nggak bisa merasakan apa pun setelah ciuman itu?”
Flo terdiam lama, merasakan degup jantungnya. “Aku merasakan sesuatu. Dan, justru itu masalahnya.” Flo merasakan puncak penasarannya. “Kamu enggak berniat memberitahu aku?” Rahang perempuan ini menegang.
“Aku harus memberitahu apa?” Matanya menatap dalam. “Kita tahu ini bukan hubungan yang—.” Deva berhenti bicara mencari label untuk hubungan mereka.
Flo ingin membalas kalau hubungan yang mereka jalani hanya sekadar permainan, tetapi bibirnya tidak mampu mengatakan.
Deva menatap lama. “Kamu mau aku memberitahu tentang pernikahanku?”
Flo tersentak. Detak jantungnya terasa berhenti sebentar. Dia menatap wajah tampan laki-laki ini mencoba mencari jawaban. “Jadi, benar?”
Deva menghela napas panjang. “Ya, pernikahannya dijadwalkan bulan depan.”
Flo menggigit bibir, rasa sesak dan perih menyeruak seketika. “Lalu, semua yang kamu lakukan sama aku? Ciuman itu? Kamu hanya mempermainkan aku?”
“Nggak. Aku sama sekali nggak mempermainkan kamu. Aku nggak bisa menjelaskan kenapa, tetapi semenjak kamu ada di dapur ini. Aku merasa hidup lagi.”
“Lalu, calon istrimu?”
Deva terdiam, pandangannya kosong seperti ada beban yang menindihnya. “Hubungan kami nggak seperti yang kamu bayangkan. Pernikahan ini seperti transaksi bisnis.”
Flo merasakan sesak, mau marah, tetapi dia menangkap luka di sorot mata laki-laki ini. “Kamu tetap akan menikahinya?”
Deva mengangguk lemah. “Aku nggak tahu gimana cara membatalkannya tanpa menghancurkan. Saat, aku bersama kamu ingin melawan semuanya.”
Flo menahan bulir-bulir air yang hampir membasahi pipinya. Tangannya meremas kain lap hingga kusut. “Kamu enggak adil, Dev. Kamu membuatku berharap sesuatu yang sudah pasti nggak pernah bisa dimiliki.”
Akhirnya, Deva menyentuh jemari perempuan ini walau hanya sebentar. “Aku menyadari kalau egois, tetapi aku nggak bisa berhenti.”
Di perjalanan pulang, langkahnya terasa berat. Flo memikirkan momen laki-laki itu. Saat lembur, tatapan yang lebih lama, dan sentuhan singkat terasa seperti racun manis yang membuatnya ketagihan, dan tahu kalau ujungnya akan menyakitkan.
Kini, perempuan ini menginjakkan kaki di apartemen. “Hubungan aku dan dia enggak punya label, kenapa dia enggak menjauh?”
Keesokan harinya, Flo mendengar potongan obrolan saat sedang mengecek bahan, tentang pernikahan Deva dari para staf di hotel.
“Katanya undangan udah dicetak.” Salah satu waiter.
“Chef Deva beruntung sekali,” timpal yang lainnya.
Flo merasakan perutnya mual, lalu bergegas keluar dari gudang mencoba menenangkan diri.
“Flo.”
“Berhenti. Jangan panggil aku seperti itu lagi.”
“Aku memang pengecut nggak bisa memilih dengan tegas, tetapi aku nggak mau kehilangan kamu.”
Flo terdiam. Ucapannya manis, tetapi juga berbahaya, dan semakin Deva mengakui, semakin dalam perempuan ini terperangkap.
Malam ini dapur kembali sibuk dengan banquet besar. Semua orang berlarian, instruksi saling bersahutan. Flo memimpin plating, sedangkan Deva mengawasi semua menu. Tegang, panas, semua dalam tekanan.
Satu pesanan hampir gagal karena saus tumpah, tetapi keduanya kompak turun tangan. Tangan mereka bersentuhan saat menata ulang piring.
“Kerja sama kita selalu sempurna.”
Flo menatap sekilas. “Sayangnya, hati kita enggak.”
Deva terdiam, ucapannya menusuk, dan hanya mereka berdua yang tahu kalau kalimat itu.
Kabar pernikahan itu, Flo justru ingin menjauh, dia merasa waktu mereka semakin sedikit, sedangkan hatinya remuk. Deva semakin membuatnya jatuh, bayangan pernikahan laki-laki itu semakin nyata. Dan, dia tahu tidak ada jalan kembali.
“Rasa yang paling memuaskan adalah paling berisiko, tetapi apa aku siap membayar harganya?”