Flo berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya yang terlihat lelah. Kabar pernikahan Deva masih membebani pikirannya.
“Aku tahu seharusnya berhenti sekarang. Aku sadar kalau meneruskan hubungan ini sama saja berjalan menuju jurang yang sudah kelihatan ujungnya, tinggal menunggu waktu semua jatuh dan hancur.”
Terik matahari menyapa perempuan ini membuatnya datang lebih awal. Dia berharap bisa bekerja tanpa harus bertatap muka dengan Deva. Flo menyiapkan bahan-bahan, lalu mencoba mengalihkan pikiran pada resep baru.
Namun, suara itu menyapanya. “Pagi, Flo.” Deva berdiri di ambang pintu dapur belum mengenakan chef jaket hanya menggenakan kemeja navy yang digulung sampai siku. Tatapannya terlihat santai, tetapi tajam seperti biasa.
“Pagi.” Flo membalas tanpa menoleh. Untuk sesaat jarak mereka terlalu dekat.
Flo mencoba tetap profesional, dia hanya bicara seperlunya, bahkan sengaja menghindar ketika Deva berada di dekatnya. Dibalik semua itu, Flo ingin merasakan momen bicara tanpa batas.
Rani tidak luput selalu memperhatikan gerak-gerik mereka. “Kenapa kamu dingin sama Deva? Kalian bertengkar?”
“Bukan urusanmu.”
Rani mengangkat alisnya. “Kalau bukan urusan aku, kenapa raut wajahnya seperti orang yang baru saja disiram saus asam?”
Flo pura-pura sibuk dengan whisk di tangannya, menahan senyum getir.
Malam hari tiba, seperti biasa dapur seperti di medan perang. Bunyi panci beradu, aroma bawang putih terbakar, dan teriakan singkat dari para chef yang mengecek plating. Panas uap dari wajan terasa menempel di kulit perempuan ini. Tangannya gemetar saat mengangkat pancai. Aroma kaldu biasanya menenangkan justru dia mual, menahan diri, tetapi Deva keburu mendekat.
“Flo, kamu baik-baik saja?”
“Aku baik.” Flo menjawab singkat. Namun, terlalu dingin untuk bisa dipercaya.
Netra hitam laki-laki ini menyipit seperti membaca kebohongan. Dia meraih sendok, mencicipi saus, lalu menatap Flo dengan tatapan yang terlalu intens sekadari urusan dapur.
“Rasanya ada yang berbeda. Kamu nggak biasanya kehilangan fokus.”
Flo menelan ludah. “Semua orang bisa lelah, Dev.”
“Bukan lelah, kamu menghindari aku.”
Panas dari kompor kalah dibandingkan panas di wajah Flo, setelah mendengar kata-kata itu. Dia mencoba berbalik, ingin lari, tetapi kakinya tidak mampu seolah tertancap di lantai dapur.
“Kenapa aku harus menghindarimu? Kita hanya bekerja.” Flo tersenyum pahit.
“Ya, benar. Hanya, bekerja.” Deva mengulang kata-kata itu seperti racun yang menyesakkan tenggorokan.
Deva mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah perempuan ini. “Kalau hanya bekerja, kenapa setiap kali kamu menjauh, aku merasa kehilangan napas?”
Flo terdiam. Dia ingin menolak, tetapi tubuhnya berkhianat. Namun, sebelum Flo menjawab. Salah satu staf masuk membawa nampan.
“Chef Deva, ada yang mencari di luar. Katanya dari wedding organizer.”
Deva mengusap wajahnya kasar. “Iya, suruh tunggu sebentar.” Dia menatap perempuan ini, ada sesuatu yang mau dikatakan. Namun, tidak bisa di hadapan orang lain.
Beberapa jam kemudian, pergantian shift.
“Flo, ikut aku coba bahan baku.”
Flo hampir menolak, tetapi akhirnya masuk juga. Pantri ini kecil, Deva memotong irisan tipis daging asap. “Coba, Flo.”
Flo ragu, akhirnya diambil juga, rasa smooky langsung memenuhi mulut. “Enak.”
Deva menatapnya lama. “Kamu menghindari aku?”
“Enggak, aku sibuk.”
“Kamu marah karena kabar itu?”
Flo menghela napas berat. “Aku hanya enggak mau terlibat dalam sesuatu, yang jelas enggak akan ke mana-mana.”
Deva menarik langkah semakin dekat. Kini, jarak mereka dekat dan intens. “Kita nggak perlu ke mana-mana, Flo. Kita hanya perlu menikmati perjalanan ini.”
Ada keheningan yang berat di antara mereka. Deva menatapnya seolah mencari celah untuk menjelaskan sesuatu. “Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”
Flo tertawa getir. “Kamu bisa mulai dari fakta kalau akan menikah bulan depan? Atau dari kejutan kalau semua ini, hanya permainan berbahaya bagimu?” Flo menunjuk di antara mereka berdua.
Wajah laki-laki ini menegang. “Jangan bilang permainan.”
“Lalu apa kalau bukan permainan?” Flo meninggikan suaranya. “Dev, kamu sudah memilih, tetapi kenapa jadi begini?”
Deva meraih bahunya, tatapannya putus asa. “Karena aku nggak bisa berhenti, Flo. Aku nggak bisa berhenti memikirkan dan merindukan kamu.”
Flo mengembuskan napas perlahan. “Jangan lakukan ini sama aku, Dev. Aku bukan orang ketiga yang kamu sembunyikan.”
Deva tertunduk. “Aku terjebak. Pernikahan ini bukan seperti yang kamu pikir. Ada keluarga yang mendesak, ada bisnis, ada tekanan, dan aku nggak punya pilihan.”
Pelupuk mata perempuan ini masih menahan bulir-bulir air mencoba lolos.
“Kamu masih punya pilihan, tetapi kamu enggak memilih aku.”
Mereka berdua terdiam lama, lalu Deva memangkas jarak di antara mereka. “Flo, aku minta dengarkan. Aku mungkin nggak bisa menghentikan pernikahan ini, tetapi itu semua nggak mengubah apa yang aku rasakan dengan kamu.”
Akhirnya, pelupuk matanya tidak bisa menahan bulir-bulir air lolos membasahi pipi. “Itu lebih buruk daripada kamu berbohong, Dev.”
Telapak tangan lebar ini, hampir menyentuh wajah perempuan ini, tetapi ditepisnya. “Jangan buat aku jatuh lebih dalam, sedangkan aku tahu kamu akan pergi.”
Flo pulang ke apartemennya lebih larut dari biasanya, langkah terasa berat. Kata-kata Deva terus berputar dalam roda pikirannya. Kalimat itu membuatnya melayang, tetapi juga menghancurkan. Pada akhirnya, Deva akan menikah. Dan, Flo hanya bayangan dalam hidup laki-laki itu.
“Kenapa aku bisa dalam hubungan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan ini?”
Flo menatap jendela kaca apartemen yang berembun. Dia berjanji mencoba melepaskan, tetapi entah bagaimana hatinya sama rapuhnya seperti gula yang meleleh di atas api.
Semangat perempuan ini tidak akan kalah dengan terik matahari yang memberi diskon besar-besaran. Flo bersikap profesional, tetapi setiap kali Deva berada di dekatnya, tubuhnya tegang.
Mereka berdua menyiapkan menu tamu untuk VIP. Deva berbisik lirih. “Flo, aku akan menemukan jalan keluar.”
Flo tidak menoleh. “Jalan keluar atau jalan buntu. Aku enggak mau ikut lagi.” Dalam hatinya tahu kalau kebohongan ini tidak akan bertahan lama, ada rasa di antara mereka yang tidak bisa disembunyikan.
Malam harinya, restoran mendapat reservasi dari food blogger ternama, semua kru dapur harus bekerja ekstra. Deva dan Flo mau tidak mau harus bekerja sama, apalagi saat plating. Mereka saling mengisi tanpa banyak bicara.
Saat hidangan terakhir keluar, lalu pujian datang dari manajer lantai. Deva mengembangkan senyum kemenangan, lalu dia menoleh ke arah Flo. “Kita duet yang bagus.”
Sayangnya, Flo tanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Di dalam dirinya, ada perasaan yang dicoba kubur, tetapi kembali muncul ke permukaan. Perempuan ini berjalan ke luar, tetapi bertabrakan dengan salah satu staf dapur. Sebuah amplop jatuh dari saku seorang staf. Kertas mewah berbingkai emas itu terbuka begitu saja. Flo tidak berniat melihat, tetapi netranya terhenti tepat pada deretan nama yang tercetak jelas. Deva Candra & Eveline Dirgantara. Dunia seakan runtuh, seolah semua rasa yang selama ini dipertahankan mendadak berubah menjadi racun pahit.
“Apa aku harus melepaskan sekarang atau justru bertarung demi cinta yang sudah jelas enggak jadi milikku?” Satu pertanyaan yang mencekik sekaligus menyesakkan.