Dapur malam itu terasa lebih dingin dari biasanya karena hujan turun deras di luar hotel, membentuk garis-garis tipis di kaca besar dapur The Golden Spoon. Padahal, kompor menyala, panci mendidih, dan aroma daging panggang bercampur dengan saus krim memenuhi ruangan.
Sejak undangan itu jatuh dan melihat nama Deva tercetak jelas di atas kertas emas. Flo tidak bisa lagi menatapnya dengan cara yang sama. Indra pendengarannya menangkap langkah tegas itu semakin dekat ke arahnya.
“Flo.”
Perempuan ini tidak menoleh, hanya terus memotong bawang bombai di talenan. Pisau bergerak lebih cepat dari biasanya.
“Iya, Chef.” Suaranya beda sekali dari biasanya.
Deva mendekat, berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya. “Kamu pikir aku nggak sadar kalau kamu menghindari aku?”
“Aku sibuk. Banyak pesanan, banyak deadline. Kamu juga tahu kalau dapur ini enggak pernah berhenti bekerja.”
Deva mendengus kesal, lalu bergerak ke samping, meraih sebotol wine untuk saus. “Sibuk? Atau kamu marah?”
Flo berhenti sejenak. Pisau di tangannya menempel di bawang setengah teriris. Dia tahu kalau Deva sedang memancing, tetapi kalau menoleh sekarang, semuanya akan tumpah.
“Marah? Untuk apa juga aku marah sama kamu.”
Deva tidak puas dengan jawaban didengarnya. Dia mendekat lagi, bahunya nyaris menyentuh Flo. “Kenapa saat bicara kamu nggak melihat aku? Kamu bicara dengan aku seperti rekan kerja lainnya.”
Flo terkekeh. “Bukannya itu kenyataan? Kita memang rekan kerja enggak lebih.”
Ucapannya seperti pisau yang kembali ke arahnya. Mereka bukan sekadar rekan kerja, melainkan dua jiwa yang terbakar dalam api yang sama dalam gairah yang sama, dalam rahasia yang sama, tetapi semua itu tidak berarti apa-apa.
Malam itu dapur lebih penuh. Suara pelayan yang memanggil saling bersahutan, tetapi di tengah keramaian itu, ada ketegangan halus yang hanya bisa dirasakan oleh dua orang, Deva dan Flo.
“Flo, kalau tentang undangan itu—.” Deva mengatakan pelan hanya terdengar oleh mereka berdua.
Matanya membulat, lalu dengan cepat menoleh. “Jadi, kamu tahu kalau aku melihatnya?”
Deva menunduk lalu menghela napas. “Aku bisa menebak dari sikap kamu. Kamu tahu kan kalau bukan aku yang—.”
“Bukan aku yang apa? Bukan kamu yang menulis nama sendiri di sana? Bukan kamu yang akan berdiri di altar bulan depan? Flo menekan suaranya nyaris berbisik.
Beberapa staf menoleh saat menyadari ada ketegangan, tetapi Flo buru-buru melanjutkan potongannya, mencoba menutupi.
“Flo, dengarkan aku. Ini nggak sesederhana yang kamu pikir.”
Flo tertawa getir. “Sesederhana apa, Dev? Kamu akan menikah bulan depan. Dan, aku? Aku hanya perempuan bodoh yang kamu peluk di sela-sela shift, yang kamu cium ketika lampu dapur dimatikan. Kamu pikir aku enggak tahu kalau hanya pelarian?”
Flo menatapnya sebentar, lalu menunduk, dia menahan bulir-bulir air ini supaya tidak lolos dari pelupuk matanya.
Beberapa jam kemudian, setelah semua order malam selesai. Deva melepas apronnya. “Flo sepertinya kita harus bicara.” Deva memanggil perempuan ini dalam jarak dekat.
Mereka berjalan keluar dari dapur. Deva duduk di kursi menatap Flo yang berdiri di depannya.
“Dev, aku enggak punya apa-apa yang mau dibicarakan.”
“Kamu jangan bilang seperti itu. Beberapa hari ini, aku tahu kalau kamu menjauh untuk menghindar. Aku nggak mau pura-pura nggak ada. Aku nggak minta kamu pura-pura nggak tahu kalau masa depanku bersih. Aku hanya mau kamu tahu kalau di sisa waktu, aku tetap memilih kamu.”
Flo langsung menatap dalam wajah laki-laki ini, ucapannya seperti menampar perempuan ini untuk segera sadar.
“Lalu, selanjutnya? Gimana kamu harus bersikap, Dev? Kamu biarkan aku jatuh.”
Deva menggertakkan gigi lalu meraih lengan Flo. Lembut, tetapi tegas. “Dengarkan aku. Aku nggak memilih pernikahan ini. Eveline bukan pilihan aku. Ini urusan keluarga, investasi, dan kerja sama bisnis. Papa aku, dia yang memaksa.”
Flo terdiam. Ada bagian dirinya yang ingin percaya, ingin meraih, dan meyakinkan dirinya kalau cinta mereka nyata adanya, tetapi ada bagian yang terluka terlalu dalam.
“Jangan buat aku semakin bodoh, Dev. Apa pun alasannya, kamu tetap akan menikah. Dan, itu sudah lebih dari cukup.”
Deva mendekat, wajahnya hanya satu telapak tangan dari Flo. “Kalau aku bilang mencintai kamu? Kalau aku bilang enggak bisa berhenti memikirkan kamu, bahkan saat aku berada di samping Eveline?”
Flo terperanjat. Jantungnya nyaris pecah mendengar ucapan laki-laki ini, tetapi sebelum bisa menjawab. Deva menempelkan keningnya ke kening perempuan ini.
“Flo, aku nggak bisa melepaskan kamu.”
Akhirnya, guyuran air membasahi pipi. “Kamu juga enggak bisa memilihku.”
Jemari laki-laki ini menyeka bulir-bulir air. “Ayo, aku antar pulang.”
Di mobil, percakapan tentang makanan, musik mengalir tanpa hambatan, dan tidak ada percakapan tentang pernikahan seperti tidak pernah ada. Saat mobil berhenti di depan apartemen. Flo hampir mengucapkan selamat tinggal seperti biasa, tetapi mendadak Deva meraih pergelangan tangannya. Flo menarik napas dalam, baiklah kalau ini api akan masuk ke dalamnya.
Esok hari, gosip tentang pernikahan Deva semakin ramai, tetapi di tengah gosip itu. Deva justru sering mencari Flo. Laki-laki ini menemani saat menyiapkan bahan, saat plating. Dan, diam-diam menyentuh tangannya saat tidak ada yang melihat.
“Kenapa kamu masih melakukan ini?”
Deva memegang pergelangan tangan perempuan ini di ruang pendingin.
“Karena aku nggak bisa berhenti.”
Flo menggeleng. “Kamu membuatku hancur.”
“Kalau begitu, biarkan aku hancur bersama kamu.”
Ucapannya menusuk sekaligus memabukkan. Flo tahu seharusnya pergi, tetapi kakinya tidak bisa bergerak.
Puncak ketegangan datang saat Eveline muncul di hotel. Perempuan ini datang bersama keluarganya, memesan makanan spesial di restoran. Flo hampir tidak sanggup berdiri saat melihat Deva menyambut Eveline di depan. Senyum yang biasa untuknya, sekarang diberikan pada perempuan lain. Flo menyadari dunianya benar-benar retak.
Setelah, Eveline pergi. Flo memutuskan. “Aku enggak bisa terus seperti ini. Aku harus memilih.” Flo menghampiri Deva di ruang penyimpanan, menutup pintu dengan keras. “Cukup, Dev. Aku enggak bisa lagi. Aku enggak mau lagi.”
Deva mendekat dengan sorot mata putus asa. “Kamu serius mau meninggalkan aku?”
Flo menggigit bibirnya. “Kamu mau menikah. Aku enggak mau menjadi bayangan dan enggak mau menjadi rahasia.”
Deva terdiam lama, lalu dengan suara berat. “Kalau begitu aku akan membuat keputusan, tetapi kamu mungkin nggak akan menyukainya.”
Flo menatapnya dalam. “Keputusan apa?”
Deva mendekat, wajahnya menegang, seperti menyimpan rahasia besar. “Aku nggak akan melepaskan kamu begitu saja walaupun setelah aku menikah, Flo.”
Flo terhenyak. Dunianya seakan terhenti.
Hitungan mundur menuju pernikahan Deva terus berjalan. Flo menatap jam dinding, lalu menatap laki-laki ini. “Kalau waktuku terbatas, aku akan memanfaatkan sepenuhnya.”