Dapur hotel bintang lima sibuk seperti biasanya. Denting wajan, suara spatula yang beradu. Flo berdiri dengan wajah tegas, tetapi sorot matanya menyimpan letupan yang tidak bisa dikendalikan. Dia menarik napas panjang mencoba menenangkan hatinya.
Sejak melihat undangan pernikahan itu, Flo seperti meja porselen yang retak, menunggu kapan pecah.
“Chef Flo, plating untuk meja 12 sudah selesai.”
“Antar sekarang. Aku enggak mau ada noda saus yang merusak presentasi.”
Flo pura-pura sibuk memerhatikan garnish, padahal ekor matanya mengikuti setiap langkah Deva, tetapi saat mau menyingkirkan perasaat itu. Suara sepatu hak tinggi terdengar di koridor luar. Beberapa staf spontan menoleh, pintu dapur terbuka dan seorang perempuan masuk dengan percaya diri.
“Good evening.” Suaranya lembut. Namun, cukup membuat seisi dapur mendadak diam beberapa detik.
Flo membeku, dia tahu perempuan itu dari foto-foto di sosial media dan undangan pernikahan.
Eveline, perempuan ini cantik dalam balutan dress hitam, rambut panjangnya diikat menyerupai ekor kuda. Senyumnya sopan, tetapi ada sinar dingin di balik tatapan matanya.
“Selamata datang, Eveline. Kami tidak menyangka kalau Anda datang langsung ke dapur.” Salah satu manajer F&B buru-buru menyapanya.
Eveline tertawa kecil. “Kebetulan, saya ada urusan di hotel ini dan penasaran ingin melihat kesibukan calon suami saya.”
Ucapannya menusuk lebih dalam daripada pisau dapur. Flo pura-pura plating, sedangkan Deva yang berdiri sedikit jauh melangkah mendekat, dia kaget.
“Eveline, kamu nggak bilang kalau mau datang ke sini?”
Eveline menyambutnya dengan senyuman penuh arti. “Aku mau memberi kamu kejutan.” Dia menggandeng lengan calon suaminya ini. “Aku tidak menyangka, ternyata dapurmu lebih sibuk daripada yang dibayangkan.”
Flo berusaha tetap fokus pada plating. Perempuan ini bisa merasakan tatapan Eveline seolah tahu peran Flo di dapur ini tida hanya sekadar chef.
“Chef Flo, bagaimana dengan dessert untuk table malam ini?” Salah satu staf mencoba mencairkan suasana.
“Sebentar lagi selesai dalam waktu 5 menit.”
Eveline menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Oh, jadi ini namanya, Chef Flo.”
Semua mata menatap ke arahnya. Flo menelan ludah, lalu terpaksa menyunggingkan senyum profesional. “Selamat malam. Saya, Flo. Executive chef di sini.”
Eveline melepas sebentar lengan Deva, lalu bergerak mendekat ke arah Flo. “Saya sering mendengar nama Anda disebut-sebut. Banyak yang bilang kalau tangan Anda ajaib, setiap makanan yang keluar dari dapur ini pasti memukau tamu.” Nada bicaranya manis seperti racun yang disamarkan dengan gula.
Flo menunduk sopan. “Terima kasih. Itu semua kerja tim.”
Eveline lebih mendekat melihat plating yang dilakukan Flo. “Cantik sekali persis seperti chef yang membuatnya.”
Flo tersenyum samar. “Makanan seharusnya bicara lewat rasanya bukan penampilan chefnya.”
Deva berdiri di antara mereka, rahangnya menegang, dia menatap Flo sekilas dengan tatapan bertahanlah.
Eveline kembali ke samping Deva. “Aku mengerti kenapa restoran ini selalu penuh, Sayang. Kamu punya tim yang luar biasa. Aku makin bangga dengan kamu.”
Flo pura-pura sibuk mengelap meja, tetapi perasaannya terluka.
Beberapa menit kemudian, Eveline diajak oleh manajer untuk melihat pastry. Deva sempat menoleh ke arah Flo dengan tatapan yang lama seakan ingin mengatakan banyak hal yang tidak bisa diucapkan. Sebelum berjalan mengekor di belakang perempuan itu.
Saat shift hampir selesai, Deva kembali ke dapur, tanpa Eveline.
“Flo.”
“Iya, Chef.”
Mereka hanya berdiri beberapa langkah, tetapi jarak itu seperti jurang. Deva menghela napas. “Aku nggak tahu kalau dia mau datang ke sini. Aku minta maaf, Flo.”
Flo menatapnya, menahan perasaan ini. “Minta maaf untuk apa? Enggak perlu minta maaf. Kamu enggak melakukan kesalahan.”
Deva menunduk sedikit. “Tadi, aku bisa melihat wajah kamu, Flo. Aku—.”
“Cukup, Dev.” Flo memotong. “Kamu enggak perlu menjelaskan apa pun, aku mengerti peran kita masing-masing.”
Deva menatapnya lama, ada banyak hal yang mau dikatakan, tetapi di dapur ini, tembok saja bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Flo berjalan melewati laki-laki ini, bahu mereka hampir bersentuhan. “Jangan buat aku lebih sulit dari ini,” ucap Flo lirih.
Malam ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.
Shift selesai, sebagian staf pamit pulang, menyisakan suara mesin pencuci piring. Flo sengaja menyibukkan diri supaya tidak memikirkan hal tadi.
“Dia seperti mau semua orang tahu,” ucap Flo lirih.
“Memang itu yang diinginkannya.”
Flo kaget, lalu menoleh. Perempuan ini menatap Deva berdiri di dekat rak bumbu, dia bersedakap. Perempuan ini berusaha tenang. “Sejak kapan kamu berdiri di situ?”
Deva mendekat. “Cukup lama aku berdiri sini, untuk tahu kalau kamu menghindari aku.”
Flo bergerak menjauh dari laki-laki ini, tetapi tangannya menahan pergelangan tangannya. “Lepaskan.”
“Aku nggak akan lepaskan kamu, Flo. Aku tahu kalau kamu terluka dengan dia datang tadi, tetapi minta dengarkan aku—.”
“Enggak ada yang perlu aku dengarkan.” Flo memotong. “Kamu mau menikah dan itu fakta yang enggak bisa diubah, Dev.”
Deva menatapnya lama, lalu menggeret kakinya semakin dekat hingga perempuan ini bisa merasakan hangat napasnya. “Aku nggak bisa membiarkan kamu pergi, Flo.”
“Jangan bilang begitu.”
“Aku serius.”
Flo berusaha keras menahan guyuran air dari pelupuk matanya. “Kamu membuatku berharap, lalu meninggalkanku, dan terlihat bodoh.”
Telapak tangan lebar ini menyentuh pipinya. “Flo, adanya kamu di sini membuat aku terus hidup.”
Sebelum Flo sempat mundur, Deva mendaratkan ciuman di bibir perempuan ini. Awalnya, lembut seperti ada keraguan. Flo sempat melawan, tetapi detik berikutnya. Tubuh perempuan ini menyerah, lidah mereka sedang mencari, ciuman itu berubah menjadi intens, liar, dan penuh pengekangan yang selama ini terpendam.
Flo tersadar dengan tenaga penuh mendorong Deva, napasnya terengah. “Deva! Apa yang kamu lakukan?”
“Aku nggak bisa menahan diri.”
Flo menggeleng. “Dev, bukan aku yang mau menikah sama kamu.”
Tepat saat itu pintu dapur berderit. Suara seseorang mengenakan sepatu hak tinggi semakin mendekat. Flo membeku, Deva refleks menolah. Eveline masuk dengan langkah anggun.
“Kalian masih di sini.” Suaranya terdengar biasa saja. Namun, matanya tajam seperti pisau.
Flo mundur cepat, jantungnya berdegup kencang, seolah Eveline melihat segalanya.
Eveline tersenyum tipis, lalu melihat ke arah Flo beralih melihat ke arah Deva. “Aku pikir scarf ketinggalan di sini.”
“Aku akan minta staf untuk mencarinya.”
“Terima kasih, Sayang.” Eveline bergerak menjauh. Namun, dia terpikir sesuatu lalu memutar kembali tubuhnya. “Aku heran melihat Chef Flo terlihat paling terakhir di dapur. Apa mungkin ada alasan lain?”
Deva menatap Eveline dengan tatapan mengeras.
“Aku akan menunggu kamu di lobi, Sayang.”
Suasana lebih mencekam. Flo bergegas menuju pintu lain supaya tidak bertemu Eveline, tetapi Deva menahan Flo. “Apa kamu benar-benar bisa pergi dari aku?”
Flo terdiam di ambang pintu, pelupuk matanya bergetar menahan bulir-bulir air yang akan tumpah. Dia tahu jawabannya akan mengubah segalanya. Flo menoleh perlahan, lalu berbisik dengan suara serak. “Apa kamu yakin aku bukan hanya pelarianmu, Dev?”