Dapur restoran bintang lima seperti biasa dipenuhi aroma bawang putih yang ditumis dan percikan api di kompor. Di balik itu, ada ketegangan jauh lebih panas daripada api yang membara. Indra pendengarannya menangkap bisik-bisik kecil di antara staf dapur.
“Katanya, Chef Deva sering lembur bareng Chef Flo?” bisik salah satu commis.
“Iya, kalau pintu dapur sudah ditutup. Tahulah, apa yang terjadi.”
Flo berusaha mengabaikan, tidak mendengar apa pun. Hanya, menunggu waktu gosip menyebar seperti api kecil yang membakar seluruh ruangan.
Deva berdiri tidak jauh dari sana dengan ekspresi dingin, saat memeriksa suhu steak yang sedang dipanggang. Dan, Deva mendengar semua bisikan.
Salah satu supervisor memecah konsentrasi. “Chef Flo, manajemen akan melakukan pemeriksaan mendadak hari ini. Ada tamu VIP yang komplain tentang lambatnya pelayanan kemarin. Kita harus siap.”
“Iya.”
“Pastikan semua bekerja secara maksimal. Jangan ada kesalahan.” Supervisor berlalu.
Pemeriksaan dimulai setengah jam kemudian. Seorang manajer hotel dan quality kontrol masuk ke dapur. Semua orang bersikap formal.
“Chef Flo, kita mau memastikan semua berjalan lancar hari ini. Tamu VIP sudah reservasi untuk malam ini. Tidak boleh ada kesalahan.”
“Kami akan pastikan semua berjalan lancar dan sempurna.”
Manajer mengangguk, lalu beralih ke Chef Deva. “Saya berharap Anda juga bisa memastikan tim berjalan rapi. Reputasi restoran ini mengandalkan Anda berdua.”
Deva tersenyum tipis. “Kita pasti nggak akan mengecewakan.”
Setelah manajemen pergi, suasana semakin tegang.
Salah satu staf mendekati Flo dengan wajah mengejek. “Chef, malam ini sepertinya tamu spesial. Jangan-jangan, Chef Deva kasih kesempatan supaya bisa membuatnya terkesan.”
Beberapa lainnya terkekeh, Flo menoleh, lau menatap tajam. “Fokus sama pekerjaan. Di sini bukan untuk bercanda.”
Semua orang langsung terdiam, lalu Deva menghampiri Flo. “Jangan biarkan mereka mengganggu fokus kamu.”
Flo menatap laki-laki ini sambil menahan emosi bercampur perih. “Mereka bisa bilang apa saja, Dev, tetapi kalau sampai gosip ini keluar dari dapur. Karir aku yang hancur lebih dulu.”
Deva menatapnya lekat. “Kalau sampai itu terjadi, aku yang akan pasang badan.”
Flo tertawa hambar. “Kamu yakin bisa melindungiku dari gosip? Kamu bisa menutup mulut mereka satu per satu?”
Deva tidak menjawab, hanya rahangnya menegang.
Menjelang sore, semua sibuk mempersiapkan untuk malam hari.
Saat mengecek bumbu, Flo mendengar mereka bisik-bisik lagi. Dia menarik napas panjang, ingin berteriak, tetapi tahu hanya akan memperkuat dugaan mereka. Mendadak, Deva muncul di belakang.
“Aku dengar.”
Flo tersentak, lalu menoleh ke sumber suara. “Kamu dengar apa?”
“Semuanya. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menjatuhkan kamu. Mereka hanya iri.”
Flo menggeleng. “Ini bukan hanya soal iri, Dev. Aku bekerja keras untuk sampai di posisi ini. Aku enggak mau semua orang menganggap sampai di posisi ini karena tidur sama chef bintang hotel.”
Deva terdiam sejenak dan lebih mendekat. “Jangan merendahkan diri. Kamu di sini karena bakat.”
Flo menunduk, hatinya bergetar ingin rasanya percaya, tetapi realita jauh lebih kejam.
Saat malam tiba, akhirnya tamu VIP datang. Semua tim bekerja cepat, Flo dan Deva bergerak cepat seperti dua sisi mata pisau yang saling melengkapi. Mereka berhasil menghidangkan hidangan tanpa cela.
Ketika tamu VIP memuji dengan puas, staf dapur kembali bersuara lirih.
“Lihat kalau mereka satu tim, hasilnya luar biasa bukan cuma di dapur, mungkin di tempat lain juga.”
Flo mendengar dengan jelas, ingin menegur, tetapi Deva lebih cepat.
“Cukup!” Deva meninggikan suaranya. “Kalau kalian punya banyak waktu untuk menggosipkan hal nggak penting. Berarti kalian nggak sibuk, nggak bisa fokus, dan lebih baik kalian keluar dari dapur ini sekarang juga.”
Staf kembali bekerja dalam diam. Flo pun merasa sedikit lega, tetapi gosip semakin kuat.
Saat mereka berdiri bersebelahan. “Kenapa kamu melakuan ini, Dev?”
“Aku nggak tahan melihat mereka merendahkan kamu.”
Flo menghela napas. “Sekarang mereka yakin ada sesuatu di antara kita.”
“Kalau ada, apa salahnya?”
Dunia Flo terhenti sejenak. Api kompor di belakang mereka mendesis, seperti menegaskan ketegangan yang menggantung.
Pintu dapur mendadak terbuka membuat semua orang terdiam. Seorang staf berlari masuk, wajahnya pucat, dan keringat menetes di pipinya.
“Chefi Flo, ada yang mau ketemu di luar. Urgent.”
Flo menoleh cepat. “Siapa?”
Staf itu ragu, lalu melirik ke arah Deva. “Calon istrinya Chef Deva, Nona Eveline.”
Semua pasang mata di dapur melihat ke arah mereka berdua dan seperti berhenti bernapas.
Deva menatapnya sekilas, lalu menghela napas. “Aku akan bicara dengannya. Kamu tetap di dapur.”
“Nona Eveline bilang hanya mau bicara langsung dengan Chef Flo. Kalau tidak, dia akan masuk ke sini.”
Mereka pura-pura sibuk, tetapi jelas mendengar.
Deva menatap Flo dengan rahang mengeras. “Kamu nggak usah menemuinya.”
Flo menggeleng pelan. “Kalau aku enggak keluar. Mereka akan berpikir kalau aku sembunyi di belakangmu.”
“Aku ikut.”
Deva menarik langkah mengekor di belakang Flo. Jantung Flo berdegub kencang. Eveline terlihat cantik tanpa cela, tetapi sorot matanya dingin, dan menusuk.
“Flo, akhirnya kita bisa bicara.” Perempuan ini menoleh sekilas ke arah Deva, lalu beralih menatap ke arah Flo. “Aku tidak suka basa-basi. Aku hanya mau tanya gosip yang beredar benar atau tidak?”
Flo menarik napas. “Eveline, gosip selalu ada di mana-mana. Aku enggak bisa mengendalikan mulut orang lain. Aku pasti bisa bekerja profesional dan enggak pernah berniat untuk merusak hubunganmu sama Deva.”
Eveline menyipitkan mata. “Tidak berniat? Semua orang melihat kerja sama kalian terlalu dekat.”
“Eveline, hentikan!”
Eveline mendengus kesal. “Deva, kamu diam saja! Aku hanya ingin kepastian. Aku tidak mau terlihat bodoh di depan semua orang. Flo menunduk sebentar dan berusaha tenang. Kalau ada yang mau kamu salahkan. Salahkan aku. Aku tahu sering bekerja lembur sama Deva. Aku tahu orang bisa salah paham. Aku enggak bermaksud mengambil yang sudah jadi milikmu.”
“Flo, jangan bicara seperti kamu bersalah.” Suaranya berat.
Eveline menatap Deva dengan sorot luka. “Kamu membelanya? Di depan aku?”
Deva menahan diri untuk tidak mendekati Flo. “Aku membela yang benar.”
Eveline menatap keduanya bergantian. “Aku ingin jawaban dari kalian berdua.” Dia menatap tajam ke arah Deva. “Apa ada sesuatu di antara kalian?”
“Enggak ada, Eveline. Enggak pernah—.”
“Ada, aku nggak bisa lagi pura-pura, nggak merasakannya.”
Flo terperanjat. “Deva!”
Eveline tertawa getir. “Jadi selama ini, semua orang benar.”
Flo panik. “Eveline, dengarkan aku. Ini enggak seperti yang kamu pikirkan. Aku nggak pernah berniat merebut Deva.”
“Kamu tidak perlu berniat, Flo. Kamu berada didekatnya membuat jarak antara aku dan dia semakin jauh.”
Flo tercekat tidak mampu berkata-kata, sedangkan Deva mencoba mendekat ke arah Eveline.
“Jangan sentuh aku, Deva! Aku butuh waktu. Kamu tidak hanya menghancurkan aku, tetapi diri kamu juga.” Eveline berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kenapa harus mengatakan dan mengakui di depannya?”
“Aku capek Flo pura-pura menahan diri.”
“Kamu egois, Dev.”
“Aku nggak menyesal, Flo.”
“Aku tahu kalau kamu memang enggak menyesal. Kamu tahu siapa yang paling dirugikan?”