Deva ingin bicara. “Flo, cukup. Kita masih punya tamu VIP yang harus dilayani.”
“Aku enggak tahu masih bekerja di sini atau enggak.”
Malam itu, berakhir dengan sukses untuk restoran, tetapi hancur untuk Flo. Perempuan ini melepas apron lalu berdiri di depan Deva.
“Flo.”
Flo menahan tangis. “Jangan buat aku lebih lemah dari ini. Kita harus berhenti, setidaknya sampai reda.” Dia berbalik meninggalkan dapur dengan langkah berat.
Deva hanya bisa berdiri terpaku, tangan mengepal, netranya menatap punggung Flo yang menjauh.
Berganti hari justru masalah semakin bertambah. Kini, Flo mengetuk pintu ruang HRD membuat jantungnya berdegup kencang, telapaknya terasa dingin. Perempuan ini berusaha menyembunyikan rasa gugup.
“Masuk.” Pak Rahmat mempersilakan siapa pun yang mengetuk pintu untuk masuk.
Flo menarik napas panjang sebelum menarik langkah masuk.
Ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya. Pak Rahmat duduk dibalik meja kayu besar dengan raut wajah serius.
“Silakan duduk, Flo.”
Flo menggeser kursi lalu duduk di sana, sedangkan Pak Rahmat menatapnya setajam pisau di dapur. “Saya tidak mau basa-basi langsung ke intinya. Ada laporan yang masuk tentang sikap tidak profesional Anda di dapur, dan kedekatan Anda dengan Chef Deva menimbulkan perhatian yang tidak semestisnya.”
Flo membeku merasa semua kerja kerasnya selama ini juga pada hidangan hancur hanya karena gosip.
“Pak, saya—.”
Pak Rahmat mengangkat tangan mencoba menghentikan. “Saya selesaikan dulu, Flo. Beberapa staf merasa suasana kerja terganggu karena hubungan pribadi kalian berdua. Saya tidak peduli hubungan itu benar atau tidak, yang jelas sudah mencoreng nama restoran. Anda ingin menanggapi laporan ini?”
Flo menarik napas dalam. “Pak, izinkan saya menjelaskan dulu. Hubungan kami berdua murni karena pekerjaan. Kami bekerja di dapur yang sama, menyiapkan menu harus selalu sempurna.”
Jemari laki-laki ini mengetuk meja. “Ada yang bilang kalian sering bicara terlalu pribadi, bahkan di luar jam kerja. Ada yang melapor kalau kalian berdua keluar bersama. Apa benar?”
“Saya enggak menyangkal, tetapi itu di luar jam kerja, Pak. Saya enggak pernah mencampuradukkan urusan pekerjaan dan pribadi.” Flo berusaha tegas walaupun suaranya bergetar.
Pak Rahmat menghela napas panjang. “Flo, saya menghargai Anda chef yang berbakat, tetapi reputasi restoran bintang lima ini juga dipertaruhkan. Jika gosip berkembang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik Anda, tetapi juga tempat ini.”
“Apa salah kalau kami bicara di ruang sama sebagai tim? Kenapa harus saya yang disalahkan?”
Pak Rahmat menyipitkan mata. “Anda mau melawan kebijakan?”
“Flo menatap lurus. “Saya enggak melawan kebijakan, Pak. Saya melawan tuduhan yang enggak adil. Saya bekerja profesional, semua menu dikerjakan adalah bukti. Enggak ada satu pun yang bisa mengatakan saya lengaj hanya karena rumor.”
Pak Rahmat kembali mengetuk-ngetuk jarinya di meja. “Flo, jika gosip ini terus berlanjut. Saya bisa memindahkan atau memberhentikan Anda. Jadi, pikiran baik-baik.” Ancaman halus ini membuat Flo mual. Namun, dia sering dipandang sebelah mata.
Flo menegakkan punggungnya. “Pak, kalau saya harus memilih. Saya akan bekerja sebaik mungkin. Gosip akan berhenti dengan sendirinya kalau enggak diberi ruang, tetapi kalau saya dipaksa menerima tuduhan tanpa bukti, artinya tempat ini enggak adil.”
Pak Rahmat kembali menghela napas panjang. “Saya tidak menduga kalau Anda berani. Saya anggap ini sebagai peringatan. Saya harap tidak ada gosip lagi dan Anda bisa menjaga jarak dengan Chef Deva.
“Saya mengerti, Pak.”
“Kembalilah ke dapur.”
Flo berdiri, lututnya terasa goyahm tetapi dia memaksa untuk melangkah. Indra pendengarannya menangkap langkah sepatu seseorang. Perempuan ini membeliak saat melihat siapa yang muncul. Eveline, perempuan ini berjalan mendekat ke ruang HRD, hanya panggung untuk drama yang sudah direncanakan.
“Ternyata kamu, Flo. Aku dengar kamu dipanggil HRD, pasti capek kalau harus menjelaskan gosip yang sebenarnya tidak bisa kamu kendalikan.”
Flo menahan emosi di ujung kepalanya.
Kata-katanya berbisa, Eveline menyentuh lengan Flo. “Jangan khawatir. Semua tahu nanti saat pesta pernikahan. Deva tidak akan jadi bahan gosip lagi, karena dia milik aku.” Senyumnya menusuk lebih tajam daripada teguran HRD baru saja.
Flo menarik napas, mencoba mengatur emosinya. “Selamat ya. Semoga pernikahanmu berjalan lancar.”
Eveline mengangkat alisnya tidak menyangka kalau Flo setenang ini. “Aku tidak yakin kalau doa itu keluar dari hati kamu.”
“Kenapa enggak?”
Eveline mendekat supaya hanya mereka berdua saja yang bisa dengar. “Flo, aku tahu cara Deva menatap kamu, sama saat aku jatuh dengannya.”
Flo menahan napas, tubuhnya menegang. “Aku enggak tahu apa maksudmu?”
Eveline menyeringai tipis. “Jangan pura-pura polos. Semua orang bisa melihat, kamu merindukan lebih dari sekadar profesional.”
Flo mengepal tangan mungilnya. “Kalau benar, apa salahnya? Perasaan enggak bisa diatur dan aku enggak melanggar batas.”
Eveline menyunggingkan senyum kemenangan. “Jadi, kamu mengaku? Kamu menyukai laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suami aku? Itu saja sudah cukup tidak profesional.”
“Enggak ada aturan di hotel yang melarang seseorang punya perasaan. Aku enggak pernah merebutnya, justru kamu datang bukan aku yang mendekatimu.”
Eveline menatap tajam, dia bersedakap sambil tersenyum. “Kamu pintar juga, tetapi kita lihat nanti, Flo. Kamu hanya seorang chef. Karir kamu diujung tanduk. Sedangkan aku, Eveline Dirgantara, calon istri Deva. Kamu tidak bisa menang dalam permainan ini.”
Ada kepahitan, tetapi ada keberanian yang menyala.
“Mungkin, aku enggak bisa menang, tetapi aku enggak sedang memainkan permainanmu, Eveline. Aku datang ke sini bukan untuk merebut laki-laki. Aku datang untuk membangun hidupku sendiri.”
Eveline tertawa kecil. “Kamu lucu, apa kamu pikir Deva melihat kamu sebagai rekan kerja? Tidak, Flo. Cara dia melindungi dan membela kamu. Semua orang bisa melihatnya. Kamu menggoyahkan sesuatu yang seharusnya tidak tergoyahkan.”
Flo menahan diri supaya tidak terpancing. “Bukannya kamu yang seharusnya percaya diri? Kalau Deva benar-benar mencintaimu, aku pikir enggak ada yang menggoyahkan, termasuk aku sekalipun.”
Senyum Eveline memudar sesaat, tetapi kembali mengenakan topengnya. “Tentu saja, aku percaya diri. Aku kasihan padamu berusaha menyangkal, tetapi kamu akan terluka juga.”
“Kalau itu terjadi, aku siap menanggungnya. Aku lebih baik jujur sama perasaan sendiri daripada hidup dalam kebohongan.
Eveline kehilangan kata-katanya. Dia menatap tajam dan dingin. Flo baru saja menantangnya secara langsung.
“Kamu berani juga, tapi ini bukan hanya soal perasaan. Ini soal nama, reputasi, keluarga. Sesuatu yang tidak bisa kamu pahami.”
Flo menatap lurus. “Mungkin benar, aku enggak punya apa yang kamu punya, tetapi justru itu aku enggak takut kehilangan apa-apa.
Eveline berhenti tersenyum sambil menghela napas. “Kita lihat siapa yang akan tersisa di akhir.” Eveline memutar tubuhnya melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan aroma parfum mahal dan jejak ancaman.
Flo berdiri terpaku, napasnya berat. Sakit, marah, tetapi lega karena tidak diam lagi. Dia hampir menangis, tetapi ditahannya. Flo mengangkat kepalanya, menegakkan bahu.
“Aku tahu ini baru saja dimulai. Permainan apa lagi yang mau kamu tunjukan?”