Hari kedua, Yuda menemukan bahwa Studio Lima Senti punya satu penghuni lagi yang kemarin tidak kelihatan karena, menurut keterangannya sendiri, ia sedang "bersemedi di toilet mencari ide" selama empat puluh menit.
Namanya Aksa. Usia tak jelas, di antara dua puluh delapan dan empat puluh, dengan kaus yang menyatakan dirinya "Sutradara Lapangan" padahal pekerjaannya adalah mewarnai latar dan, kadang-kadang, membeli gorengan. Aksa masuk ke studio dengan langkah teaterikal, menaruh sekantong tahu isi di meja, lalu mengumumkan kepada seisi ruangan yang cuma berisi Yuda dan seekor cicak: "Aku semalam mimpi ketemu Stan Lee. Dia bilang aku ditakdirkan besar. Tapi aku lupa nanya besar di bidang apa."
"Mungkin besar pasak daripada tiang," sahut Pak Hartono dari balik mejanya tanpa menoleh.
Aksa menempelkan tangan ke dada seolah ditembak. Yuda tertawa, tawa kecil yang mengejutkan dirinya sendiri karena sudah berapa lama ia tidak tertawa di sebuah ruangan kerja. Aksa, ternyata, adalah jenis manusia yang kehadirannya menurunkan tekanan udara: ia menyebut PC yang sering hang dengan nama panggilan "Mbah", memberi nama setiap kuas digital seperti memberi nama anak, dan punya teori konspirasi pribadi bahwa algoritma webtoon "membenci orang Jawa yang menggambar pelan-pelan". Ia salah dalam hampir segala hal, dan itulah yang membuatnya, dengan cara yang aneh, diperlukan.
Di sela menebalkan garis, Yuda mulai memahami anatomi tempat ini. Garis Kapur adalah webtoon tentang seorang anak hantu di sebuah sekolah tua yang hanya bisa berkomunikasi lewat gambar kapur di papan tulis. Ide itu, Yuda akui dalam hati, sebenarnya bagus. Sangat bagus. Tapi nasibnya tidak. Pak Hartono membuka dasbor analitik di laptop yang layarnya retak satu garis diagonal, dan Yuda melihat grafik yang bentuknya seperti papan seluncur: naik tinggi di awal, lalu meluncur turun, turun, turun, hingga rata di dasar yang menyedihkan.
"Dulu," kata Pak Hartono, dan untuk pertama kalinya suaranya melembut, "episode pertama dibaca empat ratus ribu orang. Saya pikir ini dia. Saya pikir akhirnya. Saya udah dua puluh dua tahun di komik, Le. Zaman majalah cetak, saya punya rubrik tetap. Tiap minggu honor masuk, cukup buat keluarga. Terus majalahnya tutup. Satu-satu tutup semua. Orang bilang pindah ke digital aja, Pak. Gampang katanya. Tinggal upload." Ia tertawa, tawa yang tidak ada lucunya. "Tinggal upload. Mereka nggak bilang kalau di digital, kamu nggak cuma harus jadi komikus. Kamu harus jadi marketing, jadi editor, jadi anak yang ngerti tren, jadi mesin yang nggak pernah capek."
Grafik turun itu, Yuda belajar, punya nama ekonomi: royalti per view. Garis Kapur dibayar berdasarkan berapa banyak orang membaca tiap episode dan berapa banyak yang membeli "akses cepat" untuk membaca lebih dulu. Di puncaknya, angka itu lumayan. Sekarang, setelah platform mengubah algoritma rekomendasinya entah berapa kali, Garis Kapur tenggelam ke halaman yang tidak ada manusia waras gulir sampai ke sana. Royalti bulan lalu, Pak Hartono menunjukkan dengan jari yang sedikit gemetar, cukup untuk membayar listrik studio dan setengah dari sewa. Setengahnya lagi, ia menutup laptop sebelum Yuda sempat melihat dari mana datangnya.
"Kontraknya gimana, Pak?" tanya Yuda hati-hati. "Maksudnya, platform bisa nurunin gitu aja?"
"Kontrak," Pak Hartono mengucapkannya seperti nama mantan yang menyakiti. "Kamu tahu, Le, saya tanda tangan kontrak pertama saya di webtoon itu sambil seneng banget. Saya nggak baca pasal kecilnya. Siapa yang baca pasal kecil pas lagi seneng? Ternyata ada pasal yang bilang mereka boleh nentuin penempatan sesuka hati. Boleh ganti algoritma kapan aja. Dan satu pasal yang dulu saya kira biasa aja: semua hak cipta turunan, animasi, merchandise, itu ada klausul bagi hasilnya. Saya pikir, ah, mana mungkin komik saya dibikin animasi." Ia menggeleng. "Yang penting sekarang ini: kalau Rabu depan kita nggak tayang dan nggak naik, mereka punya hak mberhentiin slot kita. Slot berhenti, royalti nol. Royalti nol, studio tutup. Aksa pulang kampung. Kamu cari kerja lagi. Saya..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aksa, yang dari tadi pura-pura sibuk mewarnai padahal mendengarkan semua, menyeletuk dengan suara yang dibuat ceria: "Tenang, Pak. Aku udah siapin rencana cadangan. Kalau studio tutup, kita buka warung kopi tema komik. Namanya Kafe Panel. Menu andalannya Es Tinta Cumi."
"Es Tinta Cumi," ulang Pak Hartono datar.
"Hitam. Kayak masa depan kita."
Kali ini bahkan Pak Hartono tertawa, walau cuma sekali embus lewat hidung. Dan di tengah tawa kecil yang rapuh itu, Yuda merasakan sesuatu yang aneh menetap di dadanya. Ia datang ke tempat ini demi gaji, demi token listrik, demi Bu Sri yang masih sopan tapi tidak akan sopan selamanya. Tapi sekarang, melihat lelaki tua yang menyembunyikan dari mana setengah sewanya datang, dan lelaki konyol yang melawak agar kapal yang tenggelam terasa kurang menakutkan, Yuda menyadari ia tidak hanya butuh gaji ini. Ia, entah bagaimana, mulai butuh tempat ini tidak tutup.
Malam itu Yuda pulang ke kos dengan tumpukan sketsa Garis Kapur untuk ditebalkan di rumah, karena studio harus hemat listrik. Di bawah lampu remang kamarnya, ia membuka file pertama, dan jantungnya turun perlahan. Sketsa pensil Pak Hartono untuk episode minggu ini bukan sekadar ragu. Sketsa itu kacau. Panel-panel yang seharusnya menampilkan sang anak hantu menggambar di papan tulis tampak seperti dibuat oleh tangan yang lupa caranya menggambar di tengah jalan, lalu memaksakan diri menyelesaikannya karena tidak punya pilihan. Beberapa panel bahkan kosong, hanya berisi catatan pensil tipis: "adegan emosional di sini, nanti dibenerin." Tapi tidak ada nanti. Rabu adalah lusa.
Yuda menatap layar lama sekali. Tangannya, tanpa diperintah, mulai gatal.