Pukul sebelas malam, Yuda masih duduk di depan tabletnya, dan masalahnya sudah berhenti menjadi masalah teknis dan mulai menjadi masalah moral.
Kalau ia menebalkan sketsa Pak Hartono apa adanya, episode ini akan tayang dalam keadaan yang, dengan segala hormat, jelek. Panel kunci, yaitu adegan di mana sang anak hantu untuk pertama kalinya menggambar wajah ibunya di papan tulis dan menangis tanpa air mata karena hantu tidak punya air mata, panel yang seharusnya menjadi jantung emosional seluruh episode, di sketsa itu cuma berupa coretan tergesa dengan proporsi yang salah. Wajah ibunya digambar seperti diingat sambil setengah tidur. Tangan anak itu menempel di lengan dengan sudut yang membuatnya tampak patah.
Yuda mencoba menebalkannya jujur. Ia benar-benar mencoba. Ia mengikuti setiap garis Pak Hartono selama dua puluh menit, dan hasilnya membuatnya ingin menangis untuk alasan yang berbeda. Ini bukan soal mengkhianati instruksi "jangan kreatif". Ini soal: ada sebuah karya yang sebenarnya bisa indah, sedang sekarat di tangannya, dan ia memegang penawarnya tapi disuruh tidak memberikannya.
Jadi ia melakukan apa yang sejak tadi tangannya ingin lakukan. Ia menghapus tebalannya, lalu, alih-alih mengikuti garis pensil, ia menggambar ulang. Bukan dari kepalanya sendiri, ia menahan diri dari itu. Ia menggambar ulang seolah ia adalah Pak Hartono di hari ketika tangan lelaki itu belum gemetar. Ia mempelajari sketsa-sketsa lama Pak Hartono dari episode awal, cara lelaki itu menarik garis rahang, cara ia menggambar mata yang sedikit terlalu besar, tanda tangan visual yang sudah dua puluh dua tahun lelaki itu pelihara. Dan dengan tangan yang bisa meniru siapa saja, talenta yang selama ini cuma membuatnya merasa seperti pemalsu, Yuda menggambar panel itu menjadi versi terbaiknya. Sang anak hantu menggambar wajah ibunya, garisnya bersih, proporsinya benar, dan ada sesuatu di lengkung bahunya yang patah tanpa harus ada air mata. Yuda menatap hasilnya pukul dua dini hari dan merasakan dua hal sekaligus: bangga yang dalam, dan rasa bersalah yang lebih dalam lagi.
Karena di sinilah ia berhenti dan benar-benar berpikir. Bukan tangannya yang berpikir kali ini, tapi kepalanya, dingin dan jelas. Ia bisa mengirim file ini ke Pak Hartono besok pagi dan berkata jujur: "Pak, saya ngubah panelnya, saya nggak cuma nebelin." Lelaki itu mungkin marah. Mungkin memecatnya. Mungkin juga, dan ini yang Yuda takutkan, malu. Malu yang dalam dan tidak termaafkan, karena tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang seniman tua daripada diberi tahu oleh anak baru bahwa tangannya sudah tak bisa lagi.
Atau, ia bisa diam. Ia bisa mengirim file ini sebagai "tinta" biasa, seolah ia hanya menebalkan, dan membiarkan Pak Hartono percaya bahwa itu garisnya sendiri. Studio selamat. Pak Hartono tidak malu. Yuda tetap digaji. Tidak ada yang dirugikan.
Kecuali kebenaran. Dan, Yuda menyadari dengan tidak nyaman, kecuali namanya sendiri.
Ia duduk lama dengan kursor mengambang di atas tombol kirim. Ini, ia tahu kemudian, adalah momen sebenarnya ketika semuanya bermula, bukan saat tangannya menggambar, tapi saat kepalanya memutuskan. Ia memilih diam. Ia memilihnya dengan sadar, bukan karena tertipu, bukan karena dipaksa, tapi karena diam adalah pilihan yang paling tidak menyakitkan bagi semua orang, termasuk bagi rasa takutnya sendiri. Ia mengirim file itu dengan keterangan singkat: "Sudah ditinta, Pak. Tinggal di-upload." Ia tidak berbohong dengan kata-kata. Ia hanya tidak mengatakan yang sebenarnya. Dan ia cukup pintar, malam itu, untuk tahu bahwa keduanya tidak sama tapi sama-sama berdosa.
Esok paginya, Yuda datang ke studio dengan perut yang melilit. Pak Hartono sedang mengunggah episode, mata menyipit ke layar laptop retak. Aksa menyeduh kopi sachet untuk semua orang dengan takaran yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada konsep "secukupnya". PC tua, Mbah, mendengung di sudut seperti penonton yang menahan napas.
"Beres," kata Pak Hartono akhirnya, menekan tombol publish, lalu bersandar ke kursi dengan kelelahan seorang yang baru menyelesaikan maraton sambil membawa kulkas. Ia tidak mengomentari gambarnya. Ia tidak melihat apa pun yang aneh. Bagi Pak Hartono, itu sketsanya yang ditebalkan, dan kalau tampak agak lebih baik dari biasanya, ia mungkin mengira ia sedang dalam hari yang baik, atau si anak baru memang inker yang rapi. Yuda menahan napas dan tidak mengoreksi asumsi itu. Diam kedua. Lebih mudah dari yang pertama.
Dua jam pertama, kolom komentar sepi seperti biasa. Lalu, perlahan, sesuatu bergerak. Yuda yang pura-pura menebalkan episode minggu depan diam-diam memantau notifikasi dari ponselnya. Satu komentar. Lalu lima. Lalu Aksa berteriak dari mejanya, kopinya hampir tumpah: "Pak! Pak Hartono! Komennya rame! Lihat ini!"
Mereka berkerumun di laptop retak itu. Komentar-komentar berdatangan, dan nadanya bukan komentar basa-basi. "Anjir panel ibunya bikin nangis." "Gambarnya naik level parah sih ini." "Author balik ke form lama nih kayaknya." "Akhirnya Garis Kapur jadi diri sendiri lagi." Satu komentar, yang nanti akan menempel di kepala Yuda berhari-hari, berbunyi: "Tangan yang gambar ini lagi happy banget kayaknya. Kerasa dari garisnya."
Pak Hartono membaca komentar-komentar itu, dan sesuatu yang sudah lama padam menyala lagi di wajahnya. Ia tertawa, tawa yang sebenarnya, tawa yang membuat keriput di sudut matanya bergerak. "Naik level," ia mengulang, hampir tak percaya. "Mereka bilang naik level. Aksa, kamu dengar? Dua puluh dua tahun, dan mereka kira saya masih bisa berkembang." Ia menepuk bahu Yuda dengan keras, penuh sayang. "Kamu bawa hoki, Le. Pertama kamu masuk, langsung naik."
Yuda tersenyum. Senyumnya benar. Tapi di balik tulang rusuknya, ada sesuatu yang dingin dan asing mulai tumbuh, sesuatu yang belum punya nama. Setiap pujian yang jatuh ke nama Pak Hartono terasa seperti hadiah yang dialamatkan ke rumah sebelah, ketukan di pintu yang bukan miliknya. Ia ikut bahagia. Ia juga, untuk pertama kalinya, ikut hilang.