Episode itu, dalam tiga hari, naik dari halaman tak berdasar ke barisan rekomendasi yang dilihat manusia. Garis pembacanya, yang selama berbulan-bulan rata di dasar seperti pasien koma, tiba-tiba membentuk sebuah lonjakan kecil yang membuat Pak Hartono memandanginya seperti orang tua yang melihat anaknya berjalan untuk pertama kali.
Dan pujian terus datang. Tapi pujian, Yuda menemukan, adalah jenis makanan yang membuat lapar justru ketika kau melihat orang lain memakannya. Sebuah akun ilustrator yang cukup besar membuat utasan: "Salut sama author Garis Kapur. Komik yang udah hampir mati, dia bangkitin sendiri pelan-pelan. Inilah arti dedikasi seniman. Follow dan dukung @hartono_komik ya gaes." Utasan itu disukai ribuan orang. Di kolomnya, puluhan orang menulis hal-hal yang membuat dada Yuda terasa diremas dengan lembut tapi terus-menerus: "Pak Hartono memang legend." "Tangan emas." "Garisnya nggak bisa ditiru, ada jiwanya."
Nggak bisa ditiru. Yuda membaca itu sambil duduk di meja yang sebenarnya menjadi tempat garis-garis itu dilahirkan, dengan tangan yang sebenarnya melahirkannya, dan tertawa kecil tanpa suara. Ironi punya selera humor yang kejam.
Pak Hartono, harus diakui, tidak menjadi sombong. Lelaki itu bahkan tampak kebingungan dengan perhatian baru ini, seperti orang yang lupa caranya dipuji. Tapi ia juga tidak menolaknya. Ketika seorang jurnalis komik daring mengiriminya pesan untuk wawancara singkat tentang "kebangkitan Garis Kapur", Pak Hartono menjawab ya, dan dalam wawancara itu, yang dipublikasikan dengan judul "Komikus Senior yang Menolak Menyerah", ia bercerita tentang proses kreatifnya, tentang malam-malam panjang, tentang bagaimana ia menemukan kembali jiwa karyanya. Setiap kalimat benar tentang dirinya. Setiap kalimat juga, untuk panel-panel terakhir itu, bukan tentang dirinya. Pak Hartono tidak berbohong. Pak Hartono hanya tidak tahu. Dan Yuda, yang tahu, tidak meluruskan apa-apa.
Yuda menyadari bahwa rasa bersalah dan rasa getir bisa hidup di tubuh yang sama tanpa saling membunuh. Ia bersalah karena membiarkan Pak Hartono tidak tahu. Ia getir karena ingin diketahui. Keduanya, ia mulai paham, adalah dua sisi dari satu mata uang bernama kepengarangan: kau ingin namamu disebut, dan kau takut pada apa yang terjadi kalau disebut. Ia memegang dua-duanya, dan tidak satu pun terasa nyaman.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Yuda membuka folder di laptopnya yang ia beri nama "jangan dibuka dulu". Di dalamnya ada komik impiannya. Bukan komik tentang hantu sekolah. Bukan komik tentang siapa pun kecuali dirinya. Sebuah cerita tentang seorang tukang servis jam tua di pasar yang bisa mendengar kenangan orang lain lewat detak jam yang ia perbaiki, sebuah ide yang sudah ia bawa-bawa sejak semester lima, ia gambar diam-diam, ia perbaiki ribuan kali, dan tidak pernah, sekali pun, ia berani publikasikan dengan namanya. Tiga puluh halaman selesai. Sketsa untuk lima puluh halaman lagi. Sebuah dunia utuh yang hidup hanya di dalam folder yang namanya saja menyuruh orang menjauh.
Ia membukanya, menatap halaman pertama, dan jarinya melayang di atas trackpad. Sekian detik. Lalu rasa takut yang sudah ia kenal seumur hidupnya, takut bahwa karyanya sendiri ternyata biasa saja, takut bahwa kalau ia menandatangani namanya dan dunia tidak peduli maka itu artinya dialah yang tidak cukup, bukan keadaan, bukan algoritma, tapi dirinya, rasa takut itu datang dan menutup folder itu untuknya. Ia menutupnya. Lagi. Seperti sudah ratusan kali.
Pagi berikutnya membawa komedi yang Yuda butuhkan, walau ia hampir mati jantungan karenanya. Pak Hartono memintanya mengirim file mentah episode terbaru ke email editor platform untuk arsip. File-file di studio diberi nama dengan sistem yang hanya dipahami Tuhan dan, mungkin, Aksa: "GARIS_KAPUR_EP_FIX_FIXFIX_FINAL_REVISI_BENERAN_INI.psd" berdampingan dengan "jangan_pakai_ini.psd" dan "asdfgh.psd". Yuda, mengantuk dan tergesa, melampirkan file dan menekan kirim.
Baru tiga detik kemudian otaknya menyala penuh. Ia tidak melampirkan file episode. Ia melampirkan halaman komik servis jamnya sendiri. File pribadinya. Karyanya yang belum pernah dilihat siapa pun. Terkirim. Ke editor platform.
"AKSA," Yuda memekik dengan suara yang bukan miliknya. "MBAH BISA NARIK EMAIL NGGAK? Bisa unsend nggak emailnya?"
Aksa, yang sedang menggoreng entah apa di dapur kecil studio, muncul dengan spatula teracung seperti pedang. "Tergantung. Emang kamu kirim apa? Foto aib? Nomor rekening? Pengakuan cinta ke editor?"
"Lebih parah," rintih Yuda, mengeklik panik. "Komik aku."
Aksa terdiam, lalu, alih-alih panik, ia meletakkan spatulanya dan menatap Yuda dengan ekspresi yang Yuda tidak duga: serius, dan sedikit haru. "Kamu punya komik sendiri," katanya pelan. Bukan pertanyaan. "Dan kamu lebih takut orang lihat komikmu daripada komikmu hilang." Untungnya, fitur tarik-email platform masih sempat. Email berhasil ditarik dalam tiga puluh detik tegang yang membuat Yuda berkeringat seperti baru lari sepuluh kilometer. Tapi kalimat Aksa tidak bisa ditarik. Kalimat itu menempel. Karena Aksa, si badut studio yang salah dalam hampir segala hal, kebetulan benar dalam satu hal yang paling penting, dan ia mengucapkannya sambil masih memegang spatula berminyak. Yuda lebih takut dilihat daripada hilang. Dan itu, Yuda mulai curiga, adalah masalah yang lebih besar daripada algoritma mana pun.