Gaji pertama Yuda cair pada hari Jumat, dan ia melakukan hal paling merusak yang bisa dilakukan seorang pekerja kreatif terhadap kesehatan mentalnya: ia menghitung.
Ia duduk di angkringan dekat kos dengan teh panas dan sebungkus nasi kucing, membuka kalkulator ponsel, dan mulai membagi. Episode minggu ini, yang sebagian besar ia gambar ulang dari nol, menghabiskan, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, sekitar empat puluh jam kerja. Empat puluh jam, termasuk dua malam ia tidur jam tiga dan satu malam ia tidak tidur sama sekali. Bayarannya, dibagi empat puluh jam, menghasilkan sebuah angka per jam yang membuatnya menatap layar ponsel cukup lama hingga teh-nya dingin.
Di bawah upah minimum. Jauh di bawah. Tukang parkir di depan Indomaret seberang, yang Yuda lihat tiap hari mengetuk-ngetuk kap mobil sambil meniup peluit, kalau dihitung per jam, kemungkinan besar berpenghasilan lebih tinggi darinya. Dan tukang parkir itu tidak perlu meniru gaya orang lain selama empat puluh jam, tidak perlu mengubur namanya sendiri, tidak perlu pulang dengan punggung yang membungkuk permanen ke arah meja gambar. Tukang parkir itu, di akhir hari, adalah tukang parkir, lengkap dan tak terbantahkan. Sementara Yuda adalah, secara teknis, tidak ada.
"Mas gambar ya?" tanya bapak penjual angkringan, melihat noda tinta yang tak pernah benar-benar hilang dari jari Yuda. "Anak saya juga suka gambar. Tapi saya suruh ambil teknik mesin aja. Gambar nggak bisa dimakan."
Yuda tersenyum getir. "Bener, Pak. Nggak bisa dimakan." Ia menatap nasi kucingnya. "Tapi kadang bikin kita lupa lapar."
Masalah ekonomi seni itu, Yuda mulai mengerti, bukan cuma soal angka. Ia menjadi nyata lagi keesokan harinya ketika sebuah pesan masuk ke akun ilustrasinya yang sepi pengikut. Seseorang dari sebuah "komunitas kreatif yang sedang berkembang" mengajaknya menggambar dua puluh ilustrasi karakter untuk sebuah aplikasi. Bayaran: tidak ada. Tapi, pesan itu menjanjikan dengan antusiasme yang nyaris religius, "exposure-nya luar biasa, kak! Karya kakak akan dilihat ribuan orang! Ini portofolio yang nggak ternilai!"
Yuda menatap pesan itu. Setahun lalu, ia mungkin akan menerimanya, lapar dan polos, percaya bahwa "dilihat ribuan orang" adalah mata uang. Sekarang ia tahu lebih baik. Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik versi yang lebih sopan dari apa yang sebenarnya ingin ia katakan: "Terima kasih tawarannya. Tapi saya sudah punya cukup banyak exposure. Yang saya kurang justru uang. Kalau ada anggaran, kabari saya ya." Ia menekan kirim, dan untuk sebuah penolakan, rasanya mengejutkan menyenangkan. Aksa, ketika diceritakan, mengangkat teh-nya seperti bersulang. "Exposure," kata Aksa khidmat, "adalah satu-satunya hal yang bisa membunuhmu dan menamparmu dengan terima kasih di saat yang sama. Seniman mati karena exposure lebih banyak daripada karena tetanus."
Dengan logika itu di kepalanya, Yuda hampir, hampir saja, mengetik surat pengunduran dirinya malam itu. Hitung-hitungannya jelas. Gajinya tidak masuk akal. Namanya tidak ada. Ia menggambar dunia milik orang lain sementara dunianya sendiri membusuk di folder bernama "jangan dibuka dulu". Secara matematis, ekonomis, dan emosional, keluar adalah keputusan yang benar. Ia membuka dokumen kosong, mengetik "Kepada Pak Hartono," dan berhenti.
Karena keesokan paginya, sebelum surat itu sempat selesai, Yuda datang ke studio lebih awal dari biasanya dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Pak Hartono berdiri di depan sebuah toko emas kecil dua blok dari studio, toko yang juga menerima gadai. Lelaki tua itu melepas jam tangannya, jam tangan tua bermerek yang Yuda perhatikan selalu melingkar di pergelangannya, satu-satunya benda di tubuh Pak Hartono yang tampak mahal dan terawat. Yuda berhenti di tikungan, tidak terlihat. Ia melihat Pak Hartono menyerahkan jam itu ke petugas, menerima beberapa lembar uang, lalu berdiri sejenak menatap pergelangan tangannya yang kini kosong dengan ekspresi yang Yuda tidak akan pernah lupa: bukan sedih, tapi malu. Malu yang dalam dan pribadi, malu seorang lelaki yang menggadaikan satu-satunya benda berharganya bukan untuk dirinya sendiri.
Siang itu, listrik studio yang seharusnya hampir diputus, tetap menyala. PC tua mendengung. AC butut menggigil. Tiga orang menggambar di bawah lampu yang dibayar dengan jam tangan seseorang. Pak Hartono tidak berkata apa-apa. Ia menggulung lengan kemejanya sedikit lebih ke bawah dari biasanya, menutupi pergelangan yang kosong, dan duduk menggambar dengan tangan yang gemetar dan punggung yang lurus.
Yuda menghapus dokumen "Kepada Pak Hartono" malam itu, kata demi kata, sampai kosong. Ia tahu keputusan ini tidak masuk akal secara ekonomi. Ia tahu ia sedang memilih hatinya melawan kalkulatornya, dan kalkulator hampir selalu menang dalam jangka panjang. Tapi ia tidak bisa pergi dari sebuah tempat yang menyalakan lampunya dengan jam tangan. Itulah, ia kemudian sadar, jebakan paling halus dalam hidupnya: bukan rantai, bukan kontrak, bukan gaji, tapi rasa berhutang budi pada seseorang yang lebih memilih menggadaikan dirinya sendiri daripada membiarkan studionya mati. Dan rasa berhutang itu, ia mulai mengerti, suatu hari nanti akan menjadi harga yang jauh lebih mahal daripada gaji yang tak masuk akal.