Ada satu halaman di kontrak itu yang oleh orang luar akan dibaca sekilas dan dilupakan: halaman kredit. Tapi bagi tiga orang di Studio Lima Senti, halaman itu adalah halaman yang paling lama dibaca, paling lama diperjuangkan, dan paling lama dipandangi setelah ditandatangani.
Karena halaman kredit adalah halaman yang menulis siapa yang ada — dan siapa yang tidak ada — dalam sebuah karya.
Klausulnya berdiri seperti ini, setelah tiga hari dibaca dan dua kali direvisi: di setiap episode animasi, di setiap materi promosi resmi, di setiap publikasi adaptasi, kredit ditulis dengan formasi yang sama — komik asli oleh Studio Lima Senti, dengan tiga nama yang tidak bisa dihilangkan satu pun: Hartono sebagai pencipta cerita, Yuda Pamungkas sebagai co-creator dan desainer karakter, dan Aksa sebagai colorist dan penata latar.
Aksa. Juga. Tertulis.
Dan itu adalah bagian yang diperjuangkan Pak Hartono dengan kekeraskepalaan yang membuat Yuda diam-diam mencatatnya untuk selamanya.
"Aksa harus tertulis," kata Pak Hartono, ketika tim kontrak menyebut formasi dua nama sebagai standar. "Studio ini berdiri tiga orang sebelum berdiri kontrak. Colorist itu bukan pelengkap — colorist itu separuh jiwa halaman. Kalian membaca Garis Kapur dengan warna Aksa di setiap episodenya. Kalau namanya tidak tertulis, kalian membaca karyanya tanpa namanya — dan aku sudah dua tahun menjadi orang yang membaca karya orang tanpa namanya. Aku tahu rasanya dari sisi yang salah, dan aku tidak akan membiarkan studio ini menuliskannya dari sisi yang sama."
Dan tim kontrak itu menerimanya — dengan satu komentar dari kepala timnya yang oleh Aksa disimpan dengan hati-hati seperti orang menyimpan medali: "Di industri ini, sangat jarang ada studio yang memperjuangkan nama coloristnya. Kalian studio yang benar."
Tiga hari pembacaan klausul itu berjalan di studio seperti tiga hari kerja biasa — hanya saja papan kerjanya menulis hal-hal yang tidak biasa. Klausul demi klausul ditempel di papan, dibaca dengan suara keras oleh Aksa dengan gaya pembaca berita yang tidak diminta siapa pun, dan dibedah dengan cara masing-masing: Pak Hartono mencoret dengan pensil merah yang sudah menjadi pensil revisi dua puluh dua tahun, Yuda menandai dengan stabilo kuning setiap kalimat yang menyangkut nama, dan Aksa menghitung setiap angka dua kali — "sekali dengan kepala, sekali dengan perasaan, dan bendahara yang baik tidak mempercayai keduanya sebelum keduanya sepakat."
Revisi pertama berjalan halus — hal-hal teknis, tanggal, definisi. Revisi kedua berjalan lebih berat, karena di sanalah formasi dua nama itu muncul: standar industri, kata tim kontrak, komik asli oleh dua kreator. Dan di situlah kalimat Pak Hartono tentang Aksa berdiri — kalimat yang membuat revisi kedua itu pulang dengan tiga nama, bukan dua.
Dan ada satu momen di hari kedua yang oleh Aksa kemudian diakui sebagai momen paling sulit dalam karier kebadutannya: ketika klausul colorist itu dibaca keras-keras untuk pertama kalinya, dan ia harus tetap bergaya pembaca berita padahal suaranya sudah tidak sepenuhnya patuh. "Berita hari ini," katanya, membersihkan tenggorokan dengan cara yang paling mencurigakan, "colorist Studio Lima Senti resmi menjadi orang yang tertulis. Cuaca di studio: cerah. Suhu hati bendahara: tidak bisa dilaporkan, alat ukurnya belum ditemukan." Dan tidak ada yang menertawakannya — karena dua orang lainnya sedang sibuk menahan hal yang sama.
Yuda membaca klausulnya sendiri di malam ketiga, setelah yang lain pulang — satu baris tentang desainer karakter, satu baris tentang co-creator. Dua baris yang oleh orang lain akan dibaca dalam dua detik, dan olehnya dibaca hampir satu jam. Karena dua baris itu bukan dua baris. Dua baris itu adalah jawaban tertulis untuk pertanyaan yang dibawanya sejak hari pertama di studio ini: apakah tangan ini ada, atau tidak. Dan jawabannya tertulis di sana, dengan bahasa hukum, dengan permanen: ada.
Surat pernyataan saksi Aksa — yang dulu ditandatangani dengan stempel studio dan kebanggaan seorang pejabat — kini berdiri di map yang sama dengan kontrak itu, dan Aksa menatanya dengan urutan yang tidak bisa diganggu gugat: pernyataan saksi di depan, kontrak di belakangnya. "Kronologis, Le. Saksi dulu, baru namanya tertulis. Begitu cara sejarah bekerja: ada yang melihat dulu, baru ada yang menulis."
Aksa membaca klausul itu di studio, di depan PC Mbah yang render-nya macet di 64 persen dengan keangkuhan benda mati seperti biasa — dan untuk beberapa saat, badut Studio Lima Senti itu tidak mengatakan apa-apa.
"Aku dua belas tahun mewarnai komik orang, Le," katanya akhirnya, dengan suara yang tidak membawa lelucon satu pun — dan karena itu terdengar lebih besar dari pidato mana pun. "Dua belas tahun, dan namaku tidak pernah tertulis di mana pun kecuali di daftar gaji. Orang membaca warnaku setiap minggu. Tidak ada yang membaca namaku. Dan aku sudah berdamai dengan itu — kukira memang begitu dunia colorist: jiwamu dibaca, namamu tidak." Ia menepuk halaman itu dengan dua jari, pelan. "Dan sekarang ini. Di kontrak dengan studio animasi besar. Dengan konsekuensi hukum. Aksa — colorist dan penata latar. Dua belas tahun, Le. Dua belas tahun untuk satu baris ini, dan ternyata baris ini bisa ditulis dalam dua menit oleh orang yang mau menuliskannya. Yang sulit bukan menulisnya. Yang sulit adalah menemukan orang yang mau."
Dan Yuda, yang dua tahun menjadi tangan tanpa nama, memandang Aksa yang dua belas tahun menjadi warna tanpa nama — dan membaca satu kebenaran yang berdiri di antara mereka berdua seperti garis yang sama: bahwa perjuangan untuk nama bukan perjuangan untuk pujian, melainkan perjuangan untuk ada — untuk berdiri tertulis di dunia yang terlalu cepat membaca karya dan terlalu lambat membaca orang.
"Semua nama yang bekerja harus tertulis," kata Yuda, menuliskannya di buku catatannya malam itu. "Klausul kecil itu bukan klausul kecil. Klausul kecil itu adalah deklarasi bahwa di studio ini, tidak ada tangan yang tanpa nama — tidak hari ini, tidak dua tahun lalu, tidak dua belas tahun lalu, dan tidak akan pernah lagi selama studio ini berdiri. Dua menit untuk menuliskannya. Dua belas tahun untuk menemukan orang yang mau menuliskannya. Dan sekarang tertulis, dengan konsekuensi hukum, untuk selamanya."