Uang muka kontrak itu masuk ke rekening studio pada hari Kamis — dan angkanya dibaca tiga kali oleh tiga orang dengan tiga cara membaca yang berbeda.
Pak Hartono membacanya dengan mata yang menghitung berapa tahun studio bisa bernapas. Aksa membacanya dengan mata bendahara yang sudah menghitung ulang seluruh struktur biaya studio dalam tiga detik. Dan Yuda membacanya dengan mata orang yang dua tahun menghitung gaji per halaman yang tidak pernah sampai ke UMR per jam — dan untuk pertama kalinya membaca angka yang berdiri di atas kata layak.
"Struktur baru," kata Aksa, membuka laptop dengan kecepatan bendahara yang mencium kebebasan. "Dan aku sudah menyiapkannya sejak semalam, karena bendahara yang baik menyiapkan struktur sebelum uangnya datang — kalau sesudah, namanya bukan struktur, namanya godaan."
Struktur itu berdiri dengan empat baris besar yang ditulisnya di papan kerja — papan yang sama yang dulu menulis hitungan-hitungan sempit, yang kini menulis hitungan-hitungan yang berdiri:
Gaji tetap bulanan untuk tiga orang — dengan angka yang untuk pertama kalinya berdiri di atas UMR, dihitung per jam kerja nyata, dengan lembur yang tertulis sebagai lembur. Dana produksi untuk alat dan bahan — dengan satu baris khusus yang oleh Aksa diberi bintang dua: PC baru. Dana cadangan tiga bulan biaya studio — bantal yang tidak pernah dimiliki studio ini sejak berdiri. Dan satu baris terakhir yang ditulis Aksa dengan tangan yang lebih pelan: dana pengembangan komik internal — untuk karya-karya studio sendiri, untuk folder-folder yang menunggu dibuka.
"Dan PC Mbah," kata Aksa, menutup struktur itu dengan nada seorang menteri mengumumkan pension fund, "pensiun dengan hormat."
PC Mbah — komputer tua yang render-nya macet di 64 persen dengan keangkuhan benda mati, yang sudah bertahun-tahun menahan semua pekerjaan studio dengan napas komponen yang sekarat — dipensiunkan dengan upacara kecil yang tidak bisa dihindarkan: satu render terakhir dijalankan untuk penghormatan, dibiarkan macet di 64 persen seperti biasa, dan seluruh studio bertepuk untuknya seperti untuk veteran perang.
"Dia tidak pernah cepat," kata Pak Hartono, menepuk casing-nya yang berdebu. "Tapi dia tidak pernah berhenti di tengah. Ada banyak komputer yang lebih cepat darinya yang berhenti di tengah."
"Dia juga satu-satunya PC yang kukenal yang punya karakter," kata Aksa. "PC baru nanti akan lebih cepat, lebih hening, dan lebih tidak punya pendapat. Aku akan merindukan keangkuhannya."
PC baru datang seminggu kemudian — dan PC Mbah tidak dibuang. Dia berdiri di sudut studio sebagai monumen, dengan satu catatan kecil ditempel di casing-nya, tulisan Aksa: "Mbah. Pensiun. Jangan dinyalakan kecuali untuk alasan sejarah. Render abadi di 64 persen — sebagai pengingat bahwa yang lambat tapi tidak berhenti akan sampai juga."
Hari Kamis itu sendiri berjalan dengan komedi kecil yang sudah bisa ditebak siapa pun yang mengenal bendahara studio ini: Aksa memeriksa rekening sejak pagi dengan frekuensi yang oleh Pak Hartono dihitung diam-diam — empat belas kali sebelum jam sepuluh. Dan ketika angka itu akhirnya berdiri di layar, Aksa tidak berteriak. Dia berdiri dari kursinya, mengatur napas seperti pembawa acara yang akan mengumumkan pemenang, dan berkata dengan khusyuk: "Gaes. Angkanya sudah sampai. Dan aku sudah menghitungnya tiga kali dengan tiga kalkulator yang berbeda, karena bendahara yang baik tidak mempercayai kebahagiaan sebelum kebahagiaan itu lolos rekonsiliasi."
Pemilihan PC baru berjalan seperti upacara negara kecil: tiga orang berdiri di toko komputer dengan daftar kebutuhan yang disusun Aksa semalaman, dan satu perdebatan yang tidak bisa dihindarkan — Aksa menginginkan casing dengan lampu yang bisa berubah warna, dengan alasan yang dikemukakan dengan sangat serius: "Studio yang sudah bernapas harus terlihat bernapas, Le. Lampu itu bukan gaya-gayaan. Lampu itu vitalitas." Pak Hartono menyetujuinya dengan satu syarat yang oleh Aksa diterima dengan hormat: warnanya jangan yang membuat studio terlihat seperti warung internet yang bangkrut.
Token listrik studio — yang dulu berkedip merah dengan cara yang membuat satu studio berhitung sebelum menyalakan apa pun — kini berdiri penuh di angka yang tidak perlu dilirik sebelum bekerja. Dan anehnya, justru itulah yang paling terasa: bukan bunyi token yang berhenti berkedip, melainkan hilangnya satu kebiasaan kecil yang sudah bertahun-tahun berdiri di kepala tiga orang — kebiasaan menoleh ke meteran sebelum menekan tombol. Kebiasaan itu pergi tanpa upacara, dan baru disadari seminggu kemudian, ketika Yuda menyalakan PC barunya di pagi hari dan menyadari matanya tidak menoleh ke mana-mana.
Dan dana cadangan itu — tiga bulan biaya studio yang berdiri diam di rekening terpisah — tidak pernah disentuh dan tidak pernah dibicarakan, tapi oleh Aksa diperiksa setiap Senin dengan cara orang memeriksa pintu yang sudah dikunci: bukan karena khawatir hilang, melainkan karena meyakinkan diri bahwa pintu itu benar-benar ada. Studio yang pernah hidup tanpa pintu tidak pernah berhenti memeriksa pintunya.
Dan gaji pertama dengan struktur baru itu ditransfer di akhir bulan — ke tiga rekening, dengan angka yang sama-sama layak, dengan satu pesan dari Aksa di grup studio: "Gaji sudah berdiri. Kalian boleh memeriksanya sekarang. Dan kalau ada yang menangis di depan layar, itu bukan urusan bendahara — tapi bendahara ikut bahagia."
Dan napas finansial itu mengubah studio dalam cara-cara yang tidak terlihat di struktur mana pun: listrik yang tidak lagi dihitung sebelum menyalakan PC, kopi yang tidak lagi dibagi lebih encer di minggu akhir bulan, dan satu perubahan terbesar yang oleh Yuda dicatat malam itu — papan kerja yang dulu menulis hitungan bertahan, kini menulis hitungan membangun.
"Napas finansial hari ini," tulisnya. "Dan yang berubah bukan angkanya — yang berubah adalah pertanyaannya. Dulu: cukup untuk bertahan sampai kapan? Sekarang: cukup untuk membangun apa? Dan pertanyaan yang berubah itu mengubah segalanya. Studio yang bertanya cukup untuk membangun apa adalah studio yang sedang berdiri — dan studio ini, untuk pertama kalinya sejak aku datang dengan tunggakan kos dua bulan, sedang berdiri."