Pertengkaran itu datang di Selasa malam, di tengah deadline, tentang satu panel — dan berdiri sebagai pertengkaran kreatif pertama yang benar-benar terbuka antara dua kreator Studio Lima Senti.
Panelnya: satu adegan di mana Lestari akhirnya bertemu anak hantu itu tatap muka — adegan yang ditunggu pembaca puluhan episode, yang akan menentukan arah komik untuk tahun berikutnya.
Pak Hartono menginginkannya sunyi: satu halaman penuh tanpa dialog, dua anak berdiri berhadapan, dan semua yang perlu dikatakan ditulis oleh ruang kosong di antara mereka. "Pertemuan itu harus dibaca dengan napas, Le. Dialog akan menjualnya murah."
Yuda menginginkannya dengan satu kalimat: satu baris dialog kecil dari Lestari — "kamu yang menggambar ibuku?" — karena pertemuan itu, menurutnya, adalah pertemuan yang sudah dijanjikan puluhan episode, dan janji sebesar itu butuh kata untuk menutupnya. "Ruang kosong itu kuat, Pak. Tapi janji sepanjang puluhan episode itu butuh satu kata untuk menjadi kenyataan. Kalau semuanya kosong, pembaca akan membaca kita menghindar — bukan membaca kita sunyi."
Dan dua kreator itu berdiri di dua sisi satu panel — dengan Aksa di tengah sebagai wasit yang tidak dilantik tapi sudah menjabat sejak lama, dengan junior yang pura-pura bekerja dengan telinga yang bekerja penuh, dengan deadline yang berdiri di dinding seperti wasit yang sesungguhnya.
Pertengkaran itu punya babak-babaknya, dan babak-babaknya berjalan dengan disiplin yang aneh — karena dua-duanya bukan orang yang bertengkar untuk menang, dua-duanya orang yang bertengkar untuk panel.
Babak pertama: argumen. Pak Hartono membuka arsipnya — episode-episode lama, halaman-halaman sunyi yang pernah ditulisnya dua puluh dua tahun, panel-panel kosong yang oleh pembaca dibaca paling lama. "Pembaca berhenti paling lama di panel yang paling sedikit isinya. Itu data dua puluh dua tahun, Le. Ruang kosong itu bukan kekurangan — ruang kosong itu undangan, dan pembaca selalu menerima undangan." Dan Yuda membuka balik arsipnya sendiri — halaman-halaman dari buku catatannya, janji-janji yang ditanam puluhan episode, dialog-dialog kecil yang menutup janji dengan tepat. "Sunyi itu kuat untuk momen yang berdiri sendiri, Pak. Tapi ini bukan momen yang berdiri sendiri — ini momen yang kita janjikan sejak Lestari pertama melihat gambar itu. Janji yang tidak ditutup dengan kata akan terasa seperti kita lupa — bukan seperti kita sunyi."
Babak kedua: jalan buntu. Dua arsip berdiri berhadapan, dua argumen tetap utuh, dan deadline berdiri di dinding dengan angka yang berkurang setiap jam. Aksa mencoba dua kali menengahi dengan cara yang salah — pertama dengan usul kompromi yang langsung ditolak dua-duanya ("setengah sunyi itu bukan apa-apa, Le"), kedua dengan voting yang langsung ditolaknya sendiri sebelum selesai diusulkan ("tidak, lupakan, voting untuk karya itu bodoh, dua lawan satu tidak membuat satu panel jadi benar").
Dan junior, di mejanya, bekerja dengan kecepatan yang turun drastis — karena mendengar dua seniornya bertengkar tentang satu panel adalah pelajaran yang tidak ada di kampusnya: bahwa panel itu bukan gambar, panel itu keputusan; bahwa dua orang yang sama-sama benar bisa berdiri di dua sisi satu halaman; dan bahwa pertengkaran yang paling keras di studio itu justru terjadi bukan karena ada yang tidak peduli — justru karena dua-duanya peduli terlalu dalam pada halaman yang sama.
Dan pertengkaran itu berjalan dengan keras — keras yang sehat, keras orang-orang yang membela karyanya, bukan egonya. Dua argumen berdiri dengan sama kuatnya, dan karena dua-duanya kuat, pertengkaran itu tidak bisa diselesaikan dengan siapa yang menang.
Aksa menyelesaikannya dengan cara Aksa: dengan pertanyaan.
"Begini, Le-Le sekalian. Kalian berdua benar — dan masalahnya bukan siapa yang lebih benar. Masalahnya: apa yang dibutuhkan panel itu, bukan apa yang diinginkan kalian berdua. Coba jawab ini dengan jujur, bukan dengan argumen: kalau panel itu diberi satu kalimat, apakah ruang kosongnya mati? Dan kalau panel itu dibiarkan kosong, apakah janjinya mati?"
Dua kreator itu diam — dan dalam diam itu, jawabannya berdiri dengan bentuk yang tidak diduga dua-duanya: satu kalimat, tapi bukan di panel pertemuan.
Panel pertemuan itu tetap sunyi — satu halaman penuh tanpa dialog, dua anak berhadapan, ruang kosong yang dibaca dengan napas seperti diinginkan Pak Hartono. Dan satu panel kecil setelahnya — di halaman berikutnya, setelah pembaca selesai bernapas — satu kalimat kecil dari Lestari, pelan, seperti orang yang menyelesaikan napasnya dulu sebelum bicara: "kamu yang menggambar ibuku?"
Sunyi dulu. Baru kata. Dua kebutuhan panel itu berdiri berurutan — dan episode itu menjadi episode yang oleh pembaca dibaca sebagai episode terbaik dalam puluhan episode terakhir.
"Ruang kosongnya tidak mati karena kalimatnya," tulis satu pembaca di kolom komentar. "Kalimatnya tidak mati karena ruang kosongnya. Aku baru belajar dari komik ini bahwa dua hal yang benar tidak harus bertarung — mereka bisa berurutan."
Dan dua kreator itu membaca komentar itu bersama, di meja kerja, dan Pak Hartono menepuk pundak Yuda dengan tangan yang gemetar ringan:
"Kau benar tentang kalimatnya. Aku benar tentang sunyinya. Dan Aksa benar tentang urutannya — dan itulah kenapa studio ini berdiri tiga orang, bukan satu. Dua kreator yang bertengkar dengan benar menghasilkan panel yang lebih baik dari dua kreator yang selalu sepakat. Sepakat itu nyaman, Le. Tapi komik tidak lahir dari nyaman — komik lahir dari dua orang yang membela karyanya sampai ketemu panel yang benar."
Dan Yuda menuliskannya di bukunya:
"Konflik dua kreator pertama yang terbuka: satu panel, dua argumen yang sama kuatnya, dan satu solusi yang berdiri dari wasit yang tidak dilantik. Pelajarannya: dua hal yang benar tidak harus bertarung — mereka bisa berurutan. Dan studio yang sehat bukan studio yang tidak pernah bertengkar — studio yang sehat adalah studio yang bertengkar untuk karyanya, bukan untuk egonya, dan pulang dari pertengkaran itu dengan panel yang lebih baik dari yang dibawa masuk."