Episode ke-100 Garis Kapur berdiri di hari Rabu dengan satu halaman pembuka yang sudah dirancang studio berminggu-minggu: satu halaman penuh tanpa panel, hanya gambar sekolah tua dari jauh di malam hari, dengan lampu-lampu kecil menyala di jendelanya — dan di sudutnya, kecil, dua huruf yang sudah menjadi bagian dari setiap halaman sejak episode bertanda pertama: Yuda.
Dan kolom komentar episode itu menjadi ruang perayaan yang tidak disangka besarnya.
Pembaca-pembaca lama berkumpul dari mana-mana — pembaca yang membaca sejak episode pertama di zaman majalah kehidupan Pak Hartono yang lain, pembaca yang menemukan komik itu di zaman algoritma runtuh, pembaca yang datang dari wawancara "Komikus Senior yang Menolak Menyerah", dan pembaca baru yang datang dari trailer animasi dan membaca seratus episode dalam satu minggu dan menulisnya dengan bangga yang luar biasa.
Komentar-komentar itu datang seperti tamu ke rumah yang sedang berulang tahun — dan studio membacanya satu per satu sampai malam, karena untuk episode seratus keputusannya sudah bulat: malam ini bukan malam kerja, malam ini malam membaca.
Ada pembaca yang menulis tentang episode pertama yang dibacanya di warnet dengan sisa uang saku, yang kini membaca episode seratus dari ponselnya sendiri di sela shift kerja — dan menulisnya bukan dengan sedih, dengan bangga: komik ini ikut naik kelas bersamaku. Ada pembaca yang menulis bahwa dia mulai membaca karena dipaksa adiknya, dan sekarang dia yang memaksa adiknya menunggu tiap Rabu — dan adiknya pura-pura terpaksa, dan dua-duanya tahu kepura-puraan itu, dan tidak ada yang membongkarnya. Ada pembaca yang menulis cuma satu baris — "seratus episode, dan sepatu Lestari tidak pernah diganti. terima kasih sudah tidak mengganti sepatunya." — yang oleh Aksa dibacakan dengan suara pembaca berita dan oleh ruangan itu disambut dengan anggukan, karena sepatu itu memang keputusan studio yang paling dijaga dari semua keputusan.
Dan di sela-sela komentar itu, Aksa membuka satu folder lama di laptopnya — folder yang isinya tangkapan layar dari zaman yang lain: kolom komentar episode empat puluh dua, di tahun algoritma runtuh, ketika satu episode dibaca oleh angka yang membuat ruangan diam membaca ulangnya sekarang. "Lihat ini, Le. Ini kolom komentar di tahun paling sepi. Jumlahnya bisa dihitung dua tangan. Dan sekarang lihat yang ini — seratus lampu ini." Dia memutar layarnya ke ruangan. "Dua kolom komentar ini komik yang sama, cerita yang sama, tangan yang sama. Yang berubah bukan komiknya — yang berubah adalah komiknya tidak berhenti. Kalau kami berhenti di episode empat puluh dua, tidak ada seratus lampu ini. Tidak ada yang tahu bahwa yang sepi itu cuma musim, bukan akhir."
Dan junior membaca dua kolom komentar itu berdampingan — yang sepi dan yang penuh — dan mencatatnya di bukunya dengan kalimat yang oleh Yuda dibaca dari belakang pundaknya dan dibolehkan: halaman yang sepi bukan halaman yang salah. halaman yang sepi adalah halaman yang belum sampai ke orangnya.
Dan di antara mereka, satu komentar yang disematkan paling atas oleh reaksi ribuan orang — dari pembaca yang menulis:
"Aku membaca episode satu komik ini di kos-kosan yang sempit, di tahun yang berat. Seratus episode kemudian, aku membaca episode seratusnya di rumah sendiri, dengan anakku tidur di sebelah. Komik ini berjalan bersama hidupku — dan aku baru sadar malam ini bahwa komik yang baik itu bukan komik yang dibaca. Komik yang baik adalah komik yang berjalan bersama kita, dan ketika kita menoleh ke belakang, dia ada di semua tahun-tahun itu seperti lampu kecil di jendela sekolah tua. Terima kasih untuk seratus lampu."
Studio membaca komentar itu bersama — di meja kerja, dengan kopi yang dibuat Aksa lebih baik dari biasanya untuk menandai hari itu — dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
Lalu Pak Hartono berdiri, dan berbicara dengan cara Pak Hartono berbicara di hari-hari yang besar: pelan, dengan mata yang membaca jauh.
"Seratus episode. Aku mulai komik ini dengan tangan yang masih kuat, di zaman yang lain, dengan harapan yang bentuknya lain. Dan komik ini hampir mati di panel kosong dua tahun lalu — seratus episode ini hampir berhenti di episode empat puluh dua. Dan sekarang dia berdiri di seratus, dengan dua tangan, dengan nama yang benar, dengan pembaca yang menulis bahwa komik ini berjalan bersama hidup mereka." Dia memandang dua orang di ruangan itu — dan satu junior yang berdiri di pintu dengan kopi di tangan. "Komik tidak dihitung dari episodenya, Le. Komik dihitung dari tahun-tahun yang dilaluinya bersama orang. Dan seratus episode ini sudah berjalan dengan ribuan orang — di kos-kosan yang sempit, di rumah-rumah yang baru, di tahun-tahun yang berat dan tahun-tahun yang baik. Itu bukan pekerjaan. Itu amanah. Dan amanah itu kita jaga bersama — sampai episode-episode berikutnya, dengan cara yang benar, dengan tangan yang benar."
Dan episode seratus itu dirayakan dengan cara studio itu merayakan: dengan makan di warung Bu Parti sampai malam, dengan Pak Hartono menceritakan episode pertama untuk kesekian kalinya kepada junior yang mendengarkannya seperti mendengar legenda, dengan Aksa yang membacakan komentar-komentar terbaik dengan suara pembaca berita, dan dengan Yuda yang memandangi satu lampu kecil di jendela sekolah tua di halaman pembuka itu — dan membaca bahwa lampu itu sudah berdiri di ribuan tahun-tahun orang lain.
Dan ia menuliskannya di bukunya:
"Episode seratus hari ini — dan komik ini bukan lagi komik kami. Komik ini adalah lampu kecil di ribuan jendela orang, yang berjalan bersama tahun-tahun mereka, yang dijaga dengan dua tangan dan tiga orang dan satu warung yang mengirim patroli. Seratus episode. Dan aku yang datang dengan tunggakan kos dua bulan sekarang berdiri di salah satu lampu itu — dengan nama yang benar, dengan tangan yang benar, dengan cara yang benar."