Esai itu ditulis Yuda dalam satu malam — satu tulisan panjang tentang proses menulis komik tukang servis jam, diterbitkan di blog Studio Lima Senti dengan judul yang sederhana: "Tentang Jam, Kenangan, dan Halaman-Halaman yang Dihapus".
Bukan esai promosi. Esai proses — dengan kejujuran yang sudah menjadi cara studio itu menulis segala hal: tentang folder "jangan dibuka dulu" yang menyimpan halaman-halaman itu bertahun-tahun, tentang ketakutan membukanya, tentang kritik yang menampar dan delapan halaman yang dihapus dengan tangan yang berhenti tiga kali, dan tentang satu kalimat yang berdiri di tengahnya:
"Setiap orang punya folder "jangan dibuka dulu"-nya sendiri. Halaman yang ditulis dan disimpan karena takut dibaca. Lagu yang direkam dan tidak pernah dibagikan. Surat yang ditulis dan tidak pernah dikirim. Dan esai ini bukan tentang komik saya — esai ini adalah surat untuk folder-folder itu: bukalah. Halamanmu lebih sabar dari yang kau kira, dan dunia lebih baik dengan halamanmu di dalamnya daripada tanpanya."
Esai itu dibaca dulu oleh tiga orang sebelum diterbitkan — karena studio itu punya tradisi yang sudah berjalan lama: tidak ada tulisan yang keluar dari pintu studio tanpa dibaca tiga mata yang berdiri di dalamnya.
Pak Hartono membacanya dengan pensil di tangan yang tidak menulis satu coretan pun — dan itu, oleh Yuda, dibaca sebagai bentuk persetujuan paling tinggi dari seorang editor. "Esai yang tidak membutuhkan pensil adalah esai yang sudah selesai sebelum sampai ke editor," katanya, mengembalikan draf itu dengan dua tangan. "Dan esaimu selesai sebelum sampai ke saya. Terbitkan apa adanya — kejujuran tidak perlu diedit, kejujuran hanya perlu diberanikan."
Aksa membacanya dengan mata bendahara yang membaca hal yang berbeda: "Esai ini tidak menjual komikmu, Le — dan justru karena itu dia akan menjual komikmu. Gaes, catat ini: pembaca bisa membaca bedanya tulisan yang ingin dibaca dengan tulisan yang ingin menjual. Tulisan yang ingin menjual berdiri dengan dada membusung. Tulisan yang ingin dibaca berdiri dengan dada terbuka. Dan dada yang terbuka selalu menang dalam jangka panjang — panjangnya kadang menyebalkan, tapi selalu menang."
Dan Bu Parti, yang tidak membaca esai tapi membaca kabarnya dari mulut Aksa, mengirim komentarnya lewat dandang: esai itu seperti wedang, katanya lewat Aksa — yang jujur tidak perlu gula berlebihan.
Dan junior membacanya dengan membaca satu kalimat berulang-ulang — kalimat tentang folder jangan dibuka dulu — dengan mata yang oleh Yuda dibaca tanpa mengatakan apa-apa: mata orang yang punya folder seperti itu di komputernya sendiri. Dan malam itu juga, tanpa diminta, junior membuka satu folder di laptopnya dan menunjukkan tiga halaman komiknya sendiri kepada Yuda — tiga halaman yang disimpannya setahun, dengan garis yang masih mencari bentuknya, dengan cerita tentang warung kecil dan orang-orang yang menunggu. Dan Yuda membacanya dengan cara yang pernah dibacakan studio kepadanya: dengan dua tangan, dengan mata yang tidak menghakimi, dengan satu kalimat yang berdiri sebagai estafet: "Halamanmu lebih sabar dari yang kau kira. Lanjutkan."
Dan esai itu dibaca — dan dibalas dengan cerita-cerita.
Ratusan pembaca menulis cerita di balik cerita mereka sendiri: lagu-lagu yang disimpan di folder komputer bertahun-tahun. Puisi-puisi di buku catatan yang tidak pernah dibacakan siapa pun. Foto-foto yang diambil dan tidak pernah dicetak. Dan satu per satu, beberapa dari mereka mulai membukanya — dan menulis kembali ke alamat esai itu dengan kabar yang berdiri seperti detak-detak kecil dari berbagai kota:
"Setelah membaca esaimu, aku mengunggah lagu yang kusimpan tujuh tahun. Seratus dua belas orang mendengarnya. Seratus dua belas orang yang tidak akan pernah mendengarnya kalau kau tidak menulis tentang folder itu."
"Aku mengirim surat yang kutulis untuk ibuku dua tahun lalu dan tidak pernah kukirim. Ibuku meneleponku malam itu juga dan menangis. Surat itu sudah menunggu terlalu lama, dan aku yang menyuruhnya menunggu."
Dan di antara ratusan cerita itu berdiri satu surat panjang dari seorang pensiunan guru menulis — surat yang diketik dengan komputer tua yang huruf a-nya harus ditekan dua kali, katanya, sehingga surat itu sampai dengan beberapa huruf yang berdiri dua kali di tempat yang salah, seperti orang yang tergagap. Isinya sederhana: empat puluh tahun mengajar, dia menyimpan satu novel pendek yang ditulisnya di tahun pertamanya mengajar, disimpan di laci yang sama dengan kunci rumahnya, dibaca ulang setiap kali dia pindah rumah. "Novel itu tidak bagus," tulisnya. "Tapi dia jujur. Dan esaimu mengajariku hal yang tidak pernah kupahami selama empat puluh tahun mengajar: tulisan yang jujur tidak harus bagus untuk berhak dibaca. Aku membacakannya kepada cucuku minggu lalu. Cucuku tertidur di halaman sembilan — tapi dia memintaku melanjutkannya besok malam. Dan itu adalah ulasan terbaik yang pernah diterima novel itu."
Dan komunitas itu terbentuk tanpa diberi nama — komunitas orang-orang yang membuka folder mereka, yang menuliskan halaman-halaman yang disimpan terlalu lama, yang menemukan satu sama lain di bawah satu esai tentang jam dan kenangan.
Dan Yuda membacanya dengan membaca satu kalimat dari Bu Ratmi — tidak, dari surat-surat yang dibacanya bertahun-tahun lalu di novel yang lain, dari semua guru yang pernah mengajarinya lewat semua jalan: bahwa menulis yang benar itu bukan menulis halaman. Menulis yang benar adalah membuka pintu — dan dari pintu itu, orang-orang masuk dengan halaman-halaman mereka sendiri.
"Esai itu tidak mengubah komikku," tulisnya di bukunya malam itu. "Esai itu mengubah pembacanya — dan pembaca yang berubah akan menulis halaman-halaman yang mengubah dunia kecil mereka, dan dunia kecil itu akan berubah dengan lagu-lagu yang diunggah, dengan surat-surat yang dikirim, dengan folder-folder yang dibuka satu per satu di kota-kota yang tidak akan pernah kukunjungi. Menulis yang benar itu bukan menulis halaman. Menulis yang benar adalah membuka pintu — dan malam ini aku membaca kabar-kabar dari pintu-pintu yang terbuka, dan itu lebih besar dari komik mana pun yang bisa kutulis."