Tawaran kolaborasi itu datang dari seorang penulis cerita yang karyanya sudah lama dibaca Yuda — penulis yang menulis dengan kata, mencari komikus yang menulis dengan garis, untuk satu proyek cerita bergambar tentang kota kecil yang menyimpan surat-surat yang tidak terkirim.
Dan Yuda membaca tawaran itu dengan membaca satu pertanyaan yang belum pernah dijawabnya: bisakah dua penulis menulis satu cerita tanpa satu menelan yang lain?
Karena kolaborasi, seperti dibacanya dari cerita-cerita Pak Hartono, adalah bentuk kerja sama yang paling sulit di dunia kreatif — lebih sulit dari sendiri, lebih sulit dari tim, karena kolaborasi adalah dua ego yang menulis satu halaman, dan dua ego itu harus belajar satu hal yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: melepas halaman untuk menjadi lebih baik dari yang bisa ditulis satu ego.
Dan proyek itu dijawab dengan satu syarat yang ditulis Yuda dengan cara yang sudah menjadi caranya menulis syarat: satu babak percobaan — dua minggu, satu cerita pendek, dengan perjanjian tertulis bahwa dua-duanya boleh berhenti tanpa merusak apa-apa. "Kolaborasi itu seperti menikah, dan menikah yang baik dimulai dengan berjalan bersama dulu sebelum menandatangani apa-apa."
Dan dua minggu itu menjadi dua minggu yang paling mendidik dari semua minggu kerjanya.
Dan studio itu membaca proyek kolaborasi dengan cara studio itu membaca semua hal baru: dengan rapat kecil di meja kerja, dengan wedang, dengan pendapat yang berdiri dari setiap kursi.
"Dua minggu, satu cerita pendek, boleh berhenti tanpa merusak apa-apa," Aksa membaca syarat yang ditulis Yuda dengan anggukan bendahara. "Ini kontrak paling sehat yang pernah kubaca, Le. Kontrak yang baik itu bukan kontrak yang mengikat erat — kontrak yang baik adalah kontrak yang membuat dua-duanya bisa pergi, sehingga dua-duanya memilih tinggal. Aku setujui. Dan kalau pecah di tengah jalan, pecahlah dengan sopan — karena dunia kreatif itu kecil, gaes, dan orang yang kau pecah dengan kasar hari ini adalah orang yang duduk di sebelahmu di seminar lima tahun lagi."
Dan Pak Hartono memberikan satu nasihat yang dibawanya dari zaman kolaborasi-kolaborasi mudanya — diceritakannya sambil memutar-mutar pensilnya: "Dulu aku pernah berkolaborasi sekali. Gagal dalam seminggu — bukan karena gambarnya, bukan karena ceritanya, tapi karena kami berdua ingin menjadi penulis utama dari halaman yang sama. Pelajarannya satu: dalam kolaborasi, pertanyaan tentang milik siapa halaman ini harus dibunuh di hari pertama. Halaman itu milik cerita. Dan orang yang bekerja untuk cerita tidak pernah bertengkar soal kepemilikan — mereka bertengkar soal kebenaran, dan bertengkar soal kebenaran itu sehat."
Dan pertemuan pertama dengan penulis itu berjalan di kafe kecil yang dipilih karena berdiri di tengah antara dua alamat — dua orang yang saling membaca karya satu sama lain bertahun-tahun dari jauh, kini duduk berhadapan untuk pertama kalinya, dengan canggung yang sopan, dengan dua minuman yang dipesan terlalu cepat karena dua-duanya gugup. Dan komedi kecil berdiri di menit-menit pertama: dua-duanya membawa buku catatan, dua-duanya membukanya bersamaan, dan dua-duanya tertawa karena dua-duanya berpura-pura tidak gugup dengan cara yang persis sama.
Dan cerita pendek percobaan itu dipilih dengan cara yang juga menjadi pelajaran: bukan cerita terbaik dari dua-duanya, melainkan cerita yang paling membutuhkan dua tangan — satu kisah tentang penjaga stasiun kecil yang menyimpan surat-surat yang alamatnya sudah tidak ada, yang membutuhkan struktur yang rapat sekaligus halaman-halaman yang bernapas. "Cerita percobaan itu seperti lari pemanasan," kata penulis itu. "Bukan lomba — pemanasan. Dan pemanasan yang baik memberitahumu di mana ototmu kaku sebelum lomba yang sesungguhnya."
Perbedaan pertama berdiri di hari pertama: penulis itu menulis dengan struktur — outline yang ditulis sampai akhir sebelum satu halaman pun digambar, dengan setiap tikungan cerita sudah dipetakan. Yuda menulis dengan penemuan — halaman demi halaman, dengan tikungan yang ditemukan di tengah menggambar, dengan karakter yang mengambil alih cerita dari penulisnya. Dan dua cara itu berdiri berseberangan seperti dua orang berjalan dengan dua peta yang berbeda untuk kota yang sama.
Dan dua cara itu hampir pecah di hari kelima — ketika Yuda menggambar satu tikungan yang tidak ada di outline, dan penulis itu membacanya sebagai penyimpangan, dan Yuda membacanya sebagai penemuan.
Dan penyelesaiannya berdiri dari satu percakapan panjang di satu kafe kecil, dengan dua ego yang diletakkan di meja bersama dua kopi:
"Kau menulis dengan peta yang sudah jadi," kata Yuda. "Aku menggambar dengan peta yang sedang digambar. Dan dua-duanya benar untuk orangnya masing-masing — tapi satu cerita tidak bisa ditulis dua peta. Jadi begini: petamu untuk tulang, petaku untuk daging. Tikungan-tikungan besar mengikuti strukturmu. Halaman-halamannya mengikuti penemuanku. Dan ketika dua peta itu bertabrakan, kita berhenti dan membaca tabrakannya bersama — karena tabrakan dua peta yang dibaca bersama selalu menghasilkan jalan yang lebih baik dari dua peta itu sendiri."
Dan kolaborasi itu berjalan — dengan tulang dari satu peta dan daging dari peta yang lain, dengan tabrakan-tabrakan yang dibaca bersama, dengan satu cerita pendek yang berdiri di akhir dua minggu dengan dua nama di bawahnya dan tidak ada yang menelan siapa pun.
Dan penulis itu menutup dua minggu itu dengan satu kalimat yang oleh Yuda disimpan di bukunya:
"Aku sudah berkolaborasi empat kali sebelum ini, dan empat-empatnya gagal karena dua ego menulis satu halaman. Ini pertama kalinya berhasil — karena kita tidak menulis satu halaman. Kita menulis satu cerita dari dua sisi, dan berhenti setiap kali dua sisi itu bertabrakan untuk membacanya bersama. Itu bukan teknik. Itu cara menjadi orang — dan kau sudah memilikinya sebelum proyek ini, dari studio tempatmu dibentuk."
Dan Yuda menuliskannya:
"Kolaborasi pertama yang berhasil: dua peta, satu cerita, dan satu pelajaran — kolaborasi yang benar bukan dua ego menulis satu halaman. Kolaborasi yang benar adalah dua sisi menulis satu cerita, dengan berhenti di setiap tabrakan untuk membacanya bersama. Dan itu cara yang sudah diajarkan studio kepadaku sejak lama — dengan bertengkar untuk panel yang benar, bukan untuk menang."