Buku cetak komik tukang servis jam itu berdiri di meja kerja studio pada hari Kamis — sampel pertama dari percetakan, dengan sampul yang dicetak dengan tinta yang berdiri di atas kertas seperti tinta seharusnya berdiri: berat, nyata, bisa dipegang.
Dan Yuda memegangnya dengan dua tangan — buku pertamanya, dengan namanya di sampul, dengan berat kertas yang tidak bisa dibaca layar.
Digital itu dibaca. Cetak itu dipegang. Dan perbedaan itu berdiri di tangannya seperti perbedaan antara foto rumah dan rumah: satu halaman demi satu halaman yang ditulisnya bertahun-tahun di folder "jangan dibuka dulu", kini berdiri dengan tulang kertas dan sampul yang keras, dengan bau tinta cetak yang oleh generasi komikus dibaca sebagai bau resmi, dengan nama yang dicetak di sampulnya dalam huruf-huruf yang tidak bisa di-unsend.
Sebelum buku itu berdiri di meja, ada berminggu-minggu yang oleh Aksa disebut musim memilih kertas — musim yang tidak pernah dibayangkan Yuda ketika menulis halaman pertamanya: memilih gramasi kertas isi, memilih laminasi sampul, memilih apakah sudut bukunya tumpul atau tajam, memilih seribu hal kecil yang tidak pernah dipikirkan pembaca tapi menentukan bagaimana buku itu berdiri di tangan.
Dan Yuda memilih dengan cara yang sudah menjadi caranya memilih: membawa tiga sampel kertas ke warung Bu Parti dan meminta pendapat orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang gramasi. "Kertas itu tidak dipilih dengan spesifikasi," katanya menjelaskan kepada Aksa yang keheranan. "Kertas itu dipilih dengan tangan. Dan tangan pembaca lebih mirip tangan pelanggan warung daripada tangan desainer — jadi kertasnya harus lolos uji warung dulu." Dan uji warung itu berjalan dengan serius yang lucu: tiga sampel kertas diedarkan dari meja ke meja, dibolak-balik, dipegang ke arah lampu, dan diputuskan dengan musyawarah pelanggan nasi kucing. Kertas yang menang adalah kertas yang oleh seorang pelanggan disebut kertas yang tidak sombong — dan Yuda menuliskannya di formulir percetakan apa adanya, dengan penjelasan teknis yang ditambahkannya di bawahnya untuk petugas percetakan yang pasti kebingungan.
Dan ada satu keputusan yang tidak melalui musyawarah apa pun: halaman pertama setelah sampul. Yuda menulis di sana satu halaman nyaris kosong dengan satu baris kecil di tengahnya — "untuk semua folder yang akhirnya dibuka" — dan halaman itu dipertahankannya dari semua usulan untuk mengisinya dengan ilustrasi. "Halaman kosong itu bukan kekurangan isi," katanya. "Halaman kosong itu ruang untuk pembaca menitipkan kenangannya sendiri sebelum membaca kenanganku. Biarkan dia kosong. Kosong yang benar lebih penuh dari ilustrasi mana pun."
Dan menunggu sampel pertama itu berjalan dengan bentuk penantian yang tidak produktif sama sekali: empat orang studio mengecek nomor resi dengan disiplin yang tidak pernah mereka berikan kepada pekerjaan, dengan Aksa yang menyegarkan halaman pelacakan setiap sepuluh menit sambil mengumumkan perkembangannya seperti komentator — paket sudah sampai di gudang sortir, gaes — dengan Pak Hartono yang berpura-pura tidak ikut memantau padahal dua kali bertanya dengan nada yang diatur agar terdengar tidak bertanya. Dan ketika paket itu akhirnya tiba, satu studio berdiri mengelilingi meja seperti mengelilingi meja operasi, dan Yuda membukanya dengan cutter yang disodorkan junior dengan dua tangan, seolah cutter itu pedang upacara.
Dan Pak Hartono melakukan hal yang oleh seluruh studio kemudian dikenang sebagai hal yang paling Pak Hartono dari semua hal yang pernah dilakukannya: ia membuka laci kas studio, menghitung uang receh dari sana — uang receh penjualan merchandise kecil dan recehan warung — dan membeli eksemplar pertama buku itu dari Yuda.
Bukan diberi. Dibeli.
"Ini uang receh dari kas studio," katanya, meletakkan uang itu di meja dengan tangan gemetarnya yang jujur. "Dan aku membeli eksemplar pertama buku ini — karena buku pertama seorang komikus tidak boleh diberikan. Buku pertama harus dibeli, supaya komikusnya membaca bahwa bukunya dibeli — bahwa ada orang yang mengeluarkan uang untuk halaman-halamannya, bahwa karyanya berdiri sebagai barang yang dihargai, bukan sebagai hadiah yang diberikan. Aku membelinya dengan uang receh dari laci yang dulu menghitung listrik dengan token yang berkedip merah. Dan itu adalah uang receh yang paling bermakna yang pernah kubelanjakan."
Dan Yuda menerima uang receh itu dengan dua tangan — dan buku itu berpindah dengan dua tangan, dengan tanda tangan di halaman pertamanya yang ditulis dengan pena tinta tua Pak Hartono: "Untuk Pak Hartono — yang membeli buku ini dengan uang receh yang lebih berharga dari harga bukunya. Eksemplar pertama. Dibeli, bukan diberi."
Dan Aksa membeli eksemplar kedua — dengan uang tunai yang dihitungnya dari amplop gajinya, dengan satu syarat: "Tanda tangan yang sama bentuknya, tapi isinya tentang badut yang menunggu dua belas tahun untuk namanya tertulis dan menemukan studio yang menuliskannya."
Dan junior membeli yang ketiga. Dan Bu Parti yang keempat — dibeli dengan satu dandang wedang dan satu amplop kecil yang diserahkan dengan dua tangan dan satu kalimat: "Warung ini sudah menulis banyak cerita di mejanya. Sekarang warung ini membeli bukunya."
Dan buku cetak itu berdiri di dunia — dengan empat eksemplar pertama yang dibeli oleh empat orang pertama yang berdiri di sekitarnya, dengan tanda tangan di halaman pertama masing-masing, dengan satu kalimat yang sama di semuanya: dibeli, bukan diberi.
Dan Yuda menuliskannya di bukunya:
"Sampul cetak hari ini berdiri dengan empat eksemplar pertama yang dibeli oleh empat orang yang membangun cerita ini bersamaku — dibeli dengan uang receh dari laci kas, dengan amplop gaji, dengan dandang wedang, dengan dua tangan di setiap penyerahan. Dan aku membaca satu hal yang tidak bisa dibaca dari royalti mana pun: buku itu berdiri sebagai barang yang dibeli orang-orang yang kucintai, dengan uang mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Itu bukan penjualan. Itu adalah pengakuan yang paling berharga di dunia — pengakuan yang dibayar dengan uang receh dan diterima dengan dua tangan. Dibeli, bukan diberi. Dan buku itu berdiri dengan cara yang benar sejak halaman pertamanya."