Signing pertama itu diadakan di toko buku kecil di Jogja — toko buku independen yang raknya dikurasi dengan tangan pemiliknya sendiri, yang menyediakan satu meja di sudutnya untuk satu komikus dan satu buku tentang tukang servis jam.
Dan Yuda datang dengan ekspektasi yang sudah diaturnya sendiri untuk tidak kecewa: lima orang, mungkin sepuluh kalau beruntung — signing pertama untuk buku pertama di toko buku kecil tidak pernah ramai, kata pengalaman semua orang.
Mempersiapkan signing pertama itu berjalan dengan bentuk kegugupan yang sudah dikenal studio: dengan latihan tanda tangan yang oleh Aksa dijadikan acara resmi.
"Gaes, dengarkan," kata Aksa, menempelkan satu halaman penuh tanda tangan percobaan Yuda di papan kerja. "Tanda tangan komikus itu berdiri di halaman pertama buku orang seumur hidup. Kalau tanda tanganmu berubah-ubah, pembaca akan membandingkan bukunya dengan buku temannya dan mengira salah satunya palsu. Jadi pilih satu bentuk, latih seratus kali, dan pertahankan sampai tua. Ini urusan konsistensi, Le — dan bendahara mengurus konsistensi."
Maka malam-malam sebelum signing itu diisi dengan satu meja latihan: Yuda menandatangani kertas-kertas kosong dengan bentuk yang dipilihnya — namanya yang berdiri dengan satu garis kecil di bawahnya, seperti garis kapur — sambil junior menghitung dan Aksa menilai dengan standar yang tidak bisa ditawar. Yang ini miring. Yang ini hurufnya malas. Yang ini bagus — ingat perasaan tanganmu waktu menulis yang ini. Dan di tengah latihan itu komedi berdiri seperti biasa: Pak Hartono mencoba satu tanda tangan percobaan dengan tangan gemetarnya, menghasilkan bentuk yang oleh Aksa dinilai "abstrak tapi jujur, Pak", dan oleh Pak Hartono dibalas dengan tawa yang sudah lama tidak terdengar di studio untuk urusan tangannya sendiri.
Dan Bu Sri, membaca kabar signing itu lewat telepon, memberikan satu wejangan yang oleh Yuda dicatat di bukunya: "Tanda tangan itu sama dengan masakan, Nak Yuda. Yang penting bukan bentuknya — yang penting tangan yang membuatnya ingat untuk siapa dia membuat."
Dan ada satu hal yang dipersiapkan Yuda tanpa memberi tahu siapa pun: satu meja kecil tambahan yang dimintanya kepada pemilik toko buku, untuk diletakkan di sebelah meja signing — kosong, dengan satu taplak dan satu tulisan kecil yang ditulisnya dengan tangan: meja untuk jam-jam yang ingin bercerita. Karena Yuda sudah membaca surat-surat pembacanya, sudah membaca paket-paket yang datang ke studio, dan tahu bahwa pembaca komik jam tidak akan datang dengan tangan kosong — mereka akan datang dengan kenangan di tangan, dan kenangan itu butuh meja.
Dan pemilik toko buku itu membaca permintaan meja tambahan dengan satu jeda yang panjang di telepon — dan menjawab dengan suara yang berdiri lebih pelan: "Dua belas tahun toko ini berdiri, belum pernah ada komikus yang meminta meja untuk barang-barang pembacanya. Semuanya meminta meja yang lebih besar untuk bukunya. Saya sediakan dua — satu untuk jam, satu untuk cerita yang tidak muat di meja pertama."
Yang datang: antrean yang melengkung keluar toko.
Bukan ribuan — ratus, yang oleh toko buku kecil itu adalah banjir yang tidak pernah dibayangkan rak-raknya. Pembaca komik digital yang datang untuk buku cetaknya. Pembaca Garis Kapur yang datang untuk membaca tangan yang sama menulis cerita yang berbeda. Dan orang-orang yang datang dengan jam-jam mereka — jam tangan tua, jam saku, jam weker — dibawa di tangan seperti membawa surat-surat yang tidak bisa ditulis.
Dan signing itu menjadi sesuatu yang tidak ada di rundown mana pun: jam-jam itu diletakkan di meja satu per satu oleh pemiliknya, dan setiap jam datang dengan cerita, dan setiap cerita didengarkan Yuda dengan cara yang sudah menjadi caranya mendengar: dengan dua tangan, dengan mata yang tidak melirik jam di tangannya, dengan waktu yang diberikan kepada setiap orang seperti waktu yang diberikan tukang servis jam di komiknya kepada setiap pelanggannya.
"Jam ibu saya," kata seorang perempuan dengan jam tangan kecil berbandul emas yang sudah pudar. "Dia selalu bilang jam ini jelek dan murah, tapi tidak pernah mau menggantinya. Sekarang saya tahu kenapa — jam ini dari ayah saya, di tahun pertama mereka. Buku Anda yang membuat saya bertanya kepadanya untuk pertama kalinya. Dan ibu saya bercerita selama satu jam tentang jam ini, dan satu jam itu adalah satu jam terbaik dalam tahun kami."
Dan Bu Parti datang — dengan dandang, tentu saja, dengan nasi kucing untuk seluruh antrean yang oleh pemilik toko buku diterima dengan campuran bingung dan terharu — dan berdiri di pinggir membaca signing itu dengan mata yang oleh Yuda dibaca dari jauh: mata pemilik warung yang membaca salah satu cerita dari mejanya berdiri di meja orang lain.
Dan di akhir signing, pemilik toko buku itu menyerahkan satu angka kepada Yuda dengan tangan yang sedikit gemetar — angka penjualan hari itu, yang oleh standar toko buku kecil adalah angka yang berdiri di luar semua grafiknya: buku itu habis dalam empat jam, dan daftar pesanannya berdiri tiga minggu ke depan.
"Toko ini sudah dua belas tahun berdiri," katanya. "Dan hari ini adalah hari penjualan terbaik kami untuk buku lokal. Bukan karena buku Anda laris — karena buku Anda membawa orang-orang ini ke toko saya, dan orang-orang yang dibawa buku yang benar selalu pulang dengan buku-buku lain di tangannya. Anda tidak hanya menjual buku Anda hari ini. Anda menghidupkan satu toko buku kecil — dan toko buku kecil yang hidup adalah alamat yang akan menjual buku Anda bertahun-tahun."
Dan Yuda menuliskannya di bukunya malam itu:
"Signing pertama di toko buku kecil: empat jam habis, tiga minggu daftar pesanan, dan satu meja yang berdiri dengan jam-jam orang dan cerita-ceritanya. Dan aku membaca satu hal terakhir hari ini: buku yang benar itu tidak pernah berjalan sendirian. Buku yang benar menghidupkan alamat-alamat di sekitarnya — toko buku kecil, warung yang membawa dandang, orang-orang yang membawa jam-jam mereka untuk didengarkan. Dan berdiri di tengahnya adalah berdiri di alamat yang paling benar yang bisa dibayangkan seorang penulis: alamat tempat orang-orang datang membawa kenangannya, dan pulang dengan buku-buku di tangannya, dengan cerita-cerita di dadanya."