Email itu masuk pada Selasa pagi, dan untuk beberapa menit, tidak ada yang menyadarinya karena Aksa sedang memimpin debat sengit dengan Mbah, PC tua itu, yang memutuskan untuk macet di tengah render dengan layar biru bertuliskan pesan kesalahan yang, menurut Aksa, "jelas-jelas penghinaan pribadi".
"Dia benci aku," Aksa bersumpah, mengelus casing PC seperti menenangkan kuda liar. "Tiap aku mau render, dia ngambek. Tiap Yuda yang render, dia anteng. Mbah ini rasis sama aku."
"Mbah nggak rasis," sahut Pak Hartono dari mejanya, membuka laptop. "Mbah cuma tahu kamu yang nggak pernah bersihin file sampah. Folder kamu isinya tiga ribu file judulnya 'asdf'." Lalu lelaki itu terdiam. Yuda, yang sedang menebalkan, mendengar keheningan itu lebih dulu daripada melihatnya. Pak Hartono menatap layar dengan kacamata melorot, membaca sesuatu, lalu membaca lagi, lalu melepas kacamatanya seperti orang yang tidak percaya pada matanya sendiri.
"Le," katanya, suaranya aneh. "Aksa. Kalian mesti lihat ini."
Mereka berkerumun. Email itu dari sebuah studio animasi yang namanya bahkan Yuda kenal, sebuah studio yang pernah membuat serial pendek yang tayang di platform streaming besar. Bahasanya formal, profesional, dan isinya membuat ketiga orang itu lupa cara bernapas selama beberapa detik. Studio animasi itu telah memperhatikan Garis Kapur. Mereka tertarik. Mereka melihat "potensi visual yang kuat dan kebangkitan momentum pembaca yang menjanjikan". Mereka ingin menjajaki kemungkinan mengadaptasi Garis Kapur menjadi serial animasi pendek. Mereka ingin mengatur pertemuan. Dengan, kalimat itu tertulis hitam di atas putih, "kreator di balik karya luar biasa ini".
Aksa menjerit. Jeritan murni, tanpa kata, jeritan yang membuat dua kucing di gang Kethu kabur. Ia memeluk Pak Hartono, lalu memeluk Yuda, lalu memeluk Mbah si PC, lalu berlari ke jalan dan kembali lagi karena tidak tahu harus berbuat apa dengan tubuhnya. "ANIMASI! Pak! Garis Kapur jadi ANIMASI! Es Tinta Cumi BATAL! Kita KAYA! Kita..." Ia berhenti, napas tersengal. "Kita masih miskin sebenernya sampai kontrak ditandatangani, tapi kita miskin yang PUNYA HARAPAN!"
Pak Hartono tidak menjerit. Lelaki itu duduk diam, menatap layar, dan air mata, perlahan, mengumpul di sudut matanya tanpa ia izinkan. Dua puluh dua tahun. Majalah yang tutup satu per satu. Honor yang menghilang. Jam tangan yang digadaikan. Punggung yang membungkuk dan tangan yang gemetar. Dan sekarang, di penghujung sebuah karier yang dunia anggap sudah selesai, sebuah layar besar memanggil namanya. "Bapak," gumamnya, entah pada siapa, mungkin pada istrinya yang tidak ada di sana, mungkin pada dirinya yang muda. "Bapak hampir nyerah."
Yuda ikut tersenyum. Ia menepuk punggung Pak Hartono. Ia ikut, dengan tulus, bahagia. Studio selamat. Pak Hartono dihargai. Aksa tidak perlu pulang kampung. Semua yang ia perjuangkan dengan tangan pegal dan malam tanpa tidur, semuanya terbayar dalam satu email.
Lalu Pak Hartono men-scroll ke bawah, ke lampiran yang disertakan studio animasi itu, sebuah dokumen presentasi awal, semacam pitch deck, yang mereka buat untuk menunjukkan keseriusan mereka. Dan Yuda, yang membaca dari balik bahu Pak Hartono, merasa senyumnya membeku perlahan di wajahnya.
Dokumen itu penuh dengan panel-panel Garis Kapur. Studio animasi telah memilih momen-momen paling kuat dari webtoon itu untuk menunjukkan "kekuatan visual yang akan mereka terjemahkan ke animasi". Mereka memilih panel anak hantu menggambar wajah ibunya. Mereka memilih Lestari, murid pindahan dengan sepatu lakban, dalam pose memandang ke luar jendela. Mereka memilih adegan demi adegan yang membuat mereka jatuh cinta pada karya ini.
Dan setiap panel yang mereka pilih, setiap satu dari mereka, tanpa kecuali, adalah panel yang digambar oleh tangan Yuda.
Bukan satu pun panel yang dipuji studio animasi itu adalah garis asli Pak Hartono. Bukan karena Pak Hartono tidak berbakat, dulu tangan itu menggambar dunia ini, tapi panel-panel yang membuat sebuah studio profesional jatuh cinta, panel-panel yang nilai animasinya membuat mereka mengirim email pada Selasa pagi, adalah panel-panel yang Yuda gambar ulang dari nol di malam-malam tanpa tidur, sambil meniru gaya seseorang, sambil mengubur namanya sendiri, sambil memilih diam. Mereka jatuh cinta pada tangan yang tidak mereka ketahui keberadaannya. Mereka akan mengatur pertemuan dengan "kreator di balik karya luar biasa ini", dan kreator yang akan duduk di kursi itu, yang akan berjabat tangan dan menerima pujian dan menandatangani apa pun yang perlu ditandatangani, adalah Pak Hartono.
Yuda menelan ludah, dan ludah itu terasa seperti menelan batu. Ia melihat Pak Hartono mengusap matanya, melihat Aksa masih menari kecil di pojok ruangan, melihat dua orang yang ia sayangi merayakan sesuatu yang, kalau dunia tahu kebenarannya, sebenarnya miliknya. Dan untuk pertama kalinya sejak malam ia memutuskan diam, Yuda menyadari bahwa harga dari diam bukanlah sesuatu yang ia bayar sekali. Itu adalah cicilan. Dan tagihan yang baru saja datang, dengan kop surat sebuah studio animasi besar, jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.